Wake Up Call

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Lea Kusumawati

 

My wake up call happened when my father died…
Semua terjadi begitu mendadak…
Tidak ada tanda-tanda…
Tidak ada wejangan penutup…
Tidak ada tanda-tanda fisik melemah…
Tiba-tiba… Semua serba tiba-tiba…
Semua terlihat seperti hari-hari biasa…

Tetapi kepergiannya yang tiba-tiba itu, meninggalkan banyak pelajaran…
1. Penyesalan
2. Keberhasilan dalam kehidupan

Kepergian Papa menyisakan penyesalan ketika tampaknya semua orang lebih mengenal papa daripada saya, anaknya sendiri. Saya yang seharusnya memiliki kenangan indah terbanyak mengenai Papa saya, lebih memilih menghabiskan waktu dengan hal-hal yang menjauhkan saya dari Papa.

Saat Papa masih disemayamkan di rumah duka, pelayat tak berhenti datang. Baik yang kami (keluarga) kenal maupun yang tidak. Bahkan banyak pelayat yang sengaja datang dari luar kota untuk menyampaikan salam terakhir. Beberapa pelayat malah hanya baru beberapa kali bertemu Papa dan itupun sudah lama sekali, tapi mereka tetap datang karena pertemuan dengan Papa menyisakan kenangan yang baik.

Dalam buku Quantum Life Transformation karangan Adi.W.Gunawan, ada satu bagian yg membahas mengenai bagaimana mengetahui anda telah sukses dalam hidup. Caranya adalah dengan mendengar doa-doa orang di sekitar anda ketika anda meninggal. Dengan mendengar semua cerita dan doa dari para pelayat. Papa saya orang yang sukses! Bagaimana Papa saya telah menjalin relasi yang baik dengan orang-orang yang pernah ditemuinya. Dan menjadi orang yang ‘berhasil’ dalam kehidupannya.

Jalan kehidupan Papa bukanlah kehidupan yang mulus. Susah, senang, sedih datang silih berganti. Papa pernah dihina, ditipu, difitnah dan banyak lagi kejadian-kejadian tidak mengenakan lainnya. Tapi reaksi Papa dengan hati yang besar untuk menghadapi semuanya itu yang membuahkan hasil.

Semoga saya bisa menjadi orang seperti Papa saya. Bukan berarti saya melihat seseorang berhasil dari banyaknya pelayat ya… Tapi dari doa orang-orang yang ditinggalkan.

Tanpa perlu harta berlimpah dan jabatan yang tinggi, Papa saya telah berhasil melalui kehidupan ini.
Seandainya masih ada waktu untuk mengulang kembali semuanya. Seandainya masih ada kesempatan untuk saya lebih belajar menjadi orang yang berhati besar seperti Papa saya.

Tetapi penyesalan memang selalu datang terlambat.
Dan sesuatu yang terlambat terkadang menyadarkan kita, bahwa waktu yang kita miliki dengan orang-orang yang berada di sekitar kita sangat berharga.

Terimakasih Pa… Lea bangga jadi anak Papa…
Dan biarlah sekarang Lea belajar dari semua kenangan yang tersisa dengan mencoba memaknai setiap kejadiannya.

Lea sayang Papa…

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Lea Kusumawati

Dreamer /Pet lover /Love to read, write, and crocheting…every person I met…all of the circumstances I’ve been through, whether it was a bad one or a good one…
Keep us to continue learning and growing…
And made who we are today…

Siapkah Kau untuk Mati Hari Ini ?

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Siregarrosey

(Tulisan ini dibuat pada tahun 2008)

 

Dua hari yang lalu dapat kabar dari kakak di Medan, kalau Inangtua (kakak ibu) berada di ICU karena gumpalan cairan di otak. Dia yang beberapa minggu lagi akan berusia 80 tahun, sebelumnya terlihat sehat, gak pernah terdengar sakit yang serius, hingga beberapa waktu yang lalu dia terjatuh dari tempat tidur, entah karena mimpi atau apa. Yang dia tahu, ketika terbangun dia sudah ada dilantai, tapi tidak merasakan pusing atau sakit apapun juga, sehingga kejatuhan itu dianggap angin lalu. Hingga beberapa hari kemudian, dia merasakan sakit yang teramat sangat di perut, dia muntah-muntah yang hebat, dia segera dilarikan ke RS, dan dokter segera melakukan CT Scan, ternyata ada gumpalan cairan di otak akibat jatuh tersebut dan harus segera dioperasi untuk menyedot cairan di kepalanya. Saat ini Inangtua masih terbaring di RS, sudah sadar, tapi belum bisa bicara dan belum mengenali siapapun.

Kemarin dapat kabar dari Abang di Kalimantan, kalau bis sekolah yang biasa dinaiki anaknya terbalik, 1 orang meninggal, 12 orang luka-luka dan patah tulang. Untungnya pada saat itu keponakanku tidak masuk sekolah 2 hari.

Akhir 2007, Inangtua yang di Jakarta, yang tak pernah kedengaran sakit, tiba-tiba jatuh di pasar, koma, dan meninggal beberapa hari kemudian.

Tahun 2006, Mama ke Jakarta untuk menjenguk kami, keadaannya sehat, bicaranya sudah jelas, jalannya lancar walaupun gak kuat jalan terlalu lama, dia bahkan bisa naik tangga hingga ke lantai 3 (tahun 2004 dia kena stroke). Ketika obatnya habis, dia ke RS di Jakarta untuk minta resep, tapi dokter ahli disana tidak mau sembarangan memberi resep sesuai yang biasa dia makan, dan dia memeriksa ulang. Akhirnya dia diberi obat baru, yang jumlahnya sangat banyak, seabrek-abrek. Ketika obat itu habis dan dia kembali ke dokter tersebut, dokter tersebut lagi cuti ke USA, dan dia terpaksa memakai dokter yang lain lagi, dan diberi obat baru lagi. Salah satu obat baru adalah penurun kadar garam, yang membuat dia merasa gelap, beberapa saat kemudian dia kejang/hilang kesadaran untuk beberapa detik…ketika normal, dia tidak sadar akan hal itu. Kami langsung membawa ke RS. Semakin lama frekuensi datangnya serangan semakin cepat, dan durasi kejang semakin lama. Ternyata kadar garamnya sangat rendah (akibat obat sialan itu). Setelah dinormalkan, dokter menyatakan boleh pulang. Ternyata hanya 1 hari di rumah, dia mendapat serangan lagi, semakin lama semakin parah. Kami memakai 3 dokter, dokter ahli dalam (internist), dokter ahli syaraf dan dokter ahli jantung. Dokter-dokter itu mengatakan kondisi dalam dan syarafnya baik, tapi jantungnya sedikit lemah. Internist menyarankan pasang alat pacu jantung, tapi dokter jantung justru mengatakan belum perlu. Kami bingung, dan kondisinya semakin parah….

Total 3x Mama keluar masuk RS dalam jangka waktu 1 bulan…pada saat kali ke-3 kami menolak disuruh pulang karena kami gak tahu harus berbuat apa ketika dia kejang dan hilang kesadaran. Kesadarannya semakin lama semakin hilang, dia sudah tidak mengenali siapapun, termasuk kami anak-anaknya. Kadang dia ingat anak yang lain dan minta bertemu. Abang-abang, keponakan dan Bapak pun dipanggil, semua berkumpul…semua pasrah. Aku ingat, pada saat jaga malam, Mama berkata, “Siapa itu anak kecil tarik-tarik kakiku?”…duegggg…aku takut, padahal saat itu hanya ada kami berdua di ruangan itu. Dia menendang-nendang karena merasa ada yang tarik-tarik kakinya. Di saat lain dia memutar kepalanya hingga ke belakang dan berkata, “Siapa itu?…Banyak banget orang-orang itu….Suruh mereka pergi!”…duhhh…itu adalah saat-saat paling mengerikan dalam hidupku. Aku teringat almarhum Abang nomor 3 yang pada saat-saat terakhinya juga melihat hal-hal aneh yang kita gak melihat. Atas saran dokter internist-nya, katanya detak jantung Mama terlalu lemah, dan itu bisa membuat dia kejang karena lemahnya pompa darah ke otak (bingung, dokter yang satu dengan yang lain kok ngomongnya/resepnya beda-beda ya). Akhirnya kami mengganti dokter, dan atas sarannya Mama melakukan operasi pemasangan alat pacu jantung. Puji Tuhan…semuanya berjalan lancar dan Mama kembali normal. Kini Mama dalam keadaan sehat walafiat, tekanan darahnya normal untuk se-usia dia. Disaat kami begitu ketakutan, dan aku begitu menyesal kenapa Mama datang ke Jakarta dan berganti dokter dan berganti obat, ternyata itu adalah cara Tuhan menunjukkan penyakit Mama yang sesungguhnya, “hanya” karena detak jantung yang lemah, bukan karena darah tinggi. Selama ini kami hanya mengobati darah tingginya…tanpa pernah tahu ternyata biang keroknya adalah jantung.

Tahun 2005 mobil Abang nomer 2 yang di Medan tabrakan. Mobil rusak berat, ringsek. Bila melihat keadaan mobil, rasanya tidak mungkin pengemudinya bisa selamat, tapi Puji Tuhan, Abangku tidak terluka sedikitpun.

Tahun 2002, Abang nomer 3 meninggal karena sinus, tapi setelah visum, penyebab meninggalnya ternyata demam berdarah yang dia dapat dari RS, dan dokter tidak pernah tahu… 😥

Seorang rekan kerja, meninggal dengan sangat tenang dalam tidurnya…
Adik seorang teman kuliah, meninggal karena tabrak lari…
Suami dari seorang teman kuliah meninggal disambar petir…

Semua kejadian-kejadian ini menyadarkan aku, maut mengintai dimana-mana. Jangan pernah berpikir kita akan hidup 10 tahun lagi karena saat ini kita sehat walafiat. Maut bisa datang kapan dan dimana saja, dengan berjuta cara…

Siapkah kita untuk mati hari ini?
Siapkah kita untuk kehilangan orang yang sangat kita cintai hari ini?

Aku siap untuk mati kapan saja tapi untuk kehilangan orang yang kucintai untuk selamanya…duhhh…rasanya belum siap….gue duluan aja deh yang mati…

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Siregarrosey

bungsu dari 7. pisces. single. two sides of coin personality. dog lover. love writing. love traveling. love to love. love to laugh.

Twitter: @rosceh

Kuat vs Rapuh

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh The Soul Sista’ (bukan nama yang sebenarnya)

 

Kuat? Apakah yang dimaksud dengan menjadi orang yang kuat?

Lingkungan mengajarkan kita untuk menjadi orang yang kuat. Dan, pemahaman yang saya dapatkan dari apa yang diinginkan lingkungan mengenai orang yang kuat, adalah orang yang tidak dengan mudahnya menunjukkan bahwa dirinya rapuh. Terutama bagi kaum pria. Dan, ternyata hal ini juga berlaku bagi beberapa kaum wanita yang cenderung lebih peka terhadap emosinya.

Sepertinya, di masyarakat yang semakin modern ini, kerapuhan terkadang dipandang sebagai sesuatu yang tabu. Bila seseorang menunjukkan kerapuhannya, ia akan dipandang lemah. Dan, tidak ada seorangpun yang ingin melakukan hubungan dengan orang yang rapuh, karena berhubungan dengan orang-orang ini akan membuat kita melihat kepada kerapuhan yang ada pada diri kita sendiri. Seperti kita ketahui, berapa banyak orang yang kita temui yang tidak menyimpan sisi rapuhnya secara rapat-rapat…? Saya yakin jumlahnya dapat dihitung dengan jari.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Brené Brown, seorang profesor di sebuah Universitas di Amerika Serikat, University of Houston Graduate College of Social Work, orang-orang yang memiliki rasa mencintai yang besar, hidup dengan sepenuh hati, dan menghargai diri mereka sendiri adalah orang-orang yang berani untuk mengakui ketidaksempurnaan mereka. Dan, mereka sangat merangkul kerapuhan sisi manusia mereka.

Mereka percaya bahwa menjadi rapuh adalah suatu keindahan tersendiri. Kerapuhan, menurut pandangan mereka, bukanlah sesuatu yang tidak nyaman dan menyakitkan. Mereka lebih memandang kerapuhan sebagai sesuatu keharusan…sesuatu yang fundamental.

Mereka bersedia untuk menyatakan rasa cinta mereka terhadap pasangannya tanpa perlu menunggu pasangannya untuk mengucapkannya terlebih dahulu. Mereka bersedia untuk menjalani sebuah hubungan dengan segala ketidakpastiannya. Mereka bersedia melakukan hal-hal yang mungkin dipandang oleh kebanyakkan orang sebagai sesuatu yang tidak nyaman dan penuh dengan ketidakpastian, yang dapat menyebabkan siapapun yang melakukannya merasa rapuh.

Selain penjelasan yang disebutkan oleh Brené Brown diatas, saya ingin sedikit menambahkan pemahaman saya mengenai mereka yang berani merangkul kerapuhannya. Menurut saya, mereka adalah orang-orang yang ‘temboknya’ tidak setebal orang-orang lainnya yang berusaha menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang kuat kepada dunia. Mereka cenderung apa adanya dengan emosi yang mereka miliki. Ketika ada sesuatu yang buruk terjadi dan mereka merasa sedih, mereka tidak akan berpura-pura dan mengatakan kepada diri mereka bahwa mereka tidak boleh bersedih…bahwa mereka harus baik-baik saja. Mereka bersahabat dengan emosi-emosi yang mereka rasakan. Mereka tidak menyangkalnya. Mereka tidak menguburnya dalam-dalam. Dan, mereka berani untuk meminta pertolongan baik itu dalam bentuk jasmani ataupun rohani, kalau memang diperlukan. Mereka tidak segan-segan untuk menunjukkan bahwa mereka terluka…

Dengan begitu, mereka menjadi lebih bisa melakukan hubungan dengan diri mereka sendiri…dan tentunya dengan orang lain. Dengan begitu, mereka menjadi semakin mengenal diri mereka. Dengan begitu, kekuatan yang sesungguhnya…kekuatan yang datang dari dalam diri mereka akan keluar. Kekuatan murni. Bukan kekuatan yang mengandalkan dari sumber-sumber di luar diri mereka.

Kita tahu bahwa konsep merangkul kerapuhan ini bukanlah sesuatu yang umum diterapkan dalam lingkungan kita hidup. Tetapi, saya percaya pada kekuatan yang ada dibaliknya. Saya percaya, ketika kita berani untuk menjadi rapuh kepada diri kita sendiri, sesungguhnya kekuatanlah yang akan menjadi hadiahnya.

Kekuatan kerapuhan juga memberikan suatu keindahan tersendiri yang mungkin kalian tidak sadari tetapi kalian rasakan. Lihatlah sekeliling kalian… Puisi-puisi, musik-musik, cerita-cerita yang indah lahir ketika sang pencipta menyelami kerapuhannya. Bunga-bunga yang indah, harum dengan aneka warna dan bentuk, lahir dengan penuh kerapuhan. Dan…walaupun rapuh…kita sering menggunakan bunga untuk menyatakan rasa sayang kita kepada mereka yang kita sayangi dan cintai. Mungkin karena kita secara tidak langsung menyadari bahwa bunga dan cinta memiliki persamaan…mereka sama-sama indah tetapi juga sama-sama rapuh. Dan, dengan segala keindahan dan kerapuhannya, cinta jugalah yang menjadi kekuatan bagi kita dalam menjalani hidup ini. Sehingga, tidak salah untuk mengambil kesimpulan bahwa mereka yang sanggup mencintai sepenuh hati adalah mereka yang berani untuk menjadi rapuh…

“To share your weakness is to make yourself vulnerable; to make yourself vulnerable is to show your strength.” ― Criss Jami

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

This Soul Sista’ loves to read, write, eat, travel, and to enjoy a cup of coffee…and yeah…dogs!

I also do some cards reading by online, if there’s anybody interested, just contact me:

Email: thesoulsista@ymail.com / YM! thesoulsista

“Honey, I’ve Tried My Best.”

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Shirokuro (bukan nama yang sebenarnya)

 

Saya tidak pernah membayangkan bahwa “pernikahan” akan menjadi sesulit ini. Tidak, saya tidak naif dengan membayangkan bahwa pernikahan saya akan happily ever after seperti dalam negeri dongeng, hanya saja tidak pernah terbersit dalam pikiran saya bahwa pernikahan saya akan membuat saya terjatuh dan terjatuh lagi, membuat saya lupa akan bagaimana rasanya bahagia, dan membuat saya menangis dan berlutut di hadapan Tuhan demi memohon sedikit kekuatan untuk bertahan.

Jika seseorang bertanya apakah saya mencintai anak saya, saya akan menjawab, “Ya, tentu saja saya sangat mencintai anak saya.” Namun jika ada yang bertanya apakah saya mencintai suami saya, atau apakah saya bahagia dengan pernikahan saya, saya tidak tahu bagaimana harus menjawab. Rasa cinta saya pada suami sudah tergantikan oleh perasaan yang saya sendiri tidak tahu apa. Kecewa? Marah? Benci? Saya tidak bisa menggambarkannya dalam sebuah kata sifat. Yang saya tahu, rasa cinta itu mungkin sudah sedikit demi sedikit terkikis oleh tajam dan sakitnya perkataan yang kami lontarkan pada tiap pertengkaran. Mungkin suami saya pun merasakan hal yang sama. Lagi dan lagi saya mencoba mencari tahu apa yang salah dalam pernikahan kami, tapi tak pernah menemukan jawabannya.

Berkali-kali saya ingin mengakhiri ketidakjelasan ini dengan membawa anak saya pergi. Tapi selalu dan selalu, melihat wajah anak saya selalu mengubah pikiran saya. Mungkin rasa cinta saya pada anak saya jauh melebihi sakit dan melelahkannya ketidakpastian dalam pernikahan saya.

Ya, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba bertahan. Mencoba terus bertahan hingga titik dimana saya akan mati jika terus bertahan. Bukan demi cinta yang dulu saya rasakan untuk suami saya. Bukan demi menghindari rasa malu yang akan dicapkan oleh semua orang pada suatu “perceraian”. Melainkan hanya demi suatu saat nanti ketika anak saya bertanya mengapa saya memutuskan untuk berpisah dengan ayahnya, saya akan bisa menjawab “Honey, I’ve tried my very very best.”

_________________________________________________________________________________________________________________

Shirokuro

Control freak yang lagi mencoba bertobat

Notes di FB

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Lea Kusumawati

 

Gua baru baca note teman-teman dan sepupu-sepupu gua di FB
Tiba-tiba gua jadi makin down
Kayanya mereka bisa dengan kuat dan bijak memaknai hidup ini..
Sementara gua terpuruk makin dalam di jurang kekecewaan dan rasa tak berdaya…

Sampai akhirnya gua baca note dari sepupu gua…
Dimana yang dia tulis adalah rasa kekecewaan dia sama hidup yang dia jalanin sekarang…
Sama kaya gua… Pertanyaannya pun sama kayak pertanyaan yang selalu gua pikirin…

“What’s going on with me? What do I really looking for my life? What can make me fill fulfilled & happy?”

Dan setelah itu gua baca komentar dari temen-temennya…dari komentar yang mendukung sampe dengan komentar yang mau membuka matanya (dan menurut gua terkesan kurang halus untuk dikatakan ke orang yang lagi down, karena kalo gua diberi komentar seperti itu, gua bukan termotivasi tapi malah semakin down…).

Disitu gua sadar bahwa gua ga sendirian…
Ada juga orang yang merasa hidupnya boring kaya gua…
Yang ngerasa ga punya tujuan…

Saat itu entah kenapa tangan ini rasanya ingin menuliskan sesuatu…hanya sebuah komentar kecil yang mungkin bisa menenangkannya tapi ga muluk-muluk…
Karena di saat seperti ini… Di saat gua merasakan hal yang sama… Bukan nasehat yang muluk-muluk dan bijak yang gua butuhin… Tapi mungkin hanya sebuah kalimat sederhana yang membuka mata gua sedikit tapi bisa membuat gua bersemangat lagi…

Beberapa kali nulis dan gua hapus lagi…
Gua ga mau jadi orang yang munafik.. nulis kalimat-kalimat bijak tapi gua sendiri ga bisa ngejalanin…
Karena saat ini gua ada di posisi yang sama…

Sampai akhirnya gua nulis komentar juga…
Dan gua memutuskan untuk menulisnya di sini…supaya gua sendiri ga lupa…
Ketika gua down…gua harap gua nemu tulisan ini lagi…

“Kadang kita bermimpi terlalu jauh untuk mengartikan apa yang namanya bahagia…dan ketika mimpi itu terlalu sulit dan seakan tidak akan tercapai, disitulah kekecewaan itu hadir…

Elu ga sendirian kok Jo…
Gua juga sedang mengalami hal yang sama…
Dan mungkin salah satu caranya adalah mulai membiasakan diri melihat kebahagiaan yang hadir di sekitar kita… Kadang kita ga menyadari anugerah yang datang buat kita setiap harinya…kita ga mensyukurinya…karena mata kita tertutup dengan semua rasa kecewa kita…

Semangat yah…”

_________________________________________________________________________________________________________________

Lea Kusumawati

Dreamer /Pet lover /Love to read, write, and crocheting…every person I met…all of the circumstances I’ve been through, whether it was a bad one or a good one…
Keep us to continue learning and growing…
And made who we are today…

 

Percakapan dengan Supir Taksi

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Siregarrosey

 

Hari ini aku terlambat ke kantor. Kakak sudah pergi duluan, akhirnya aku harus ngantor sendirian naik taksi.

Taksi yang ku tumpangi ternyata kurang hafal daerah yang aku sebut…walah…gawat, karena aku paling gak pede naik taksi sendirian dan si supir tidak tau jalan. Walaupun ini jalan yang tiap hari kulalui, tetap saja ada rasa tidak pede, takut nyasar.

Supir: “Ke kiri atau terus, Mbak?”

Aku: “Bapak gak tau daerah yang aku sebut ya?”

Supir: “Bukan gak tau, Mbak…tapi kurang hafal, karena saya biasa main di daerah Depok, dan seluruh selatan saya tau termasuk jalan tikus-nya, kalau disini saya kurang hafal, Mbak”

Aku: “Oh, ya sudah…kayaknya ke kiri deh, Pak….aku juga lupa-lupa inget Pak, biasa dianterin.”

Supir: “Oh, Mbak juga gak tau? Kalau gitu kita sama-sama gak tau ya, saling memaafkan saja ya Mbak…hehehehe…” katanya bercanda yang membuat aku tertawa.

Aku: “Iya Pak..paling kalau nyasar kita jalan-jalan, nyantai aja.”

Gak tau kenapa aku merasa comfortable dengan supir taksi ini, aku tidak merasa dia akan ambil kesempatan dengan kebodohanku soal jalan yang sedang kami lewati.

Supir: “Hari ini kenapa gak dianter, Mbak?”

Aku: “Biasalah Pak, males…terlambat bangun, jadi aku ditinggal.”

Supir: “Wah, Mbak…males jangan diikutin…” katanya tanpa nada menggurui.

Aku: “Iya sih, Pak…bener…tapi itu yang sulit, apalagi sekarang ini bawaannya lagi males terus.”

Supir: “Sebenarnya gak sulit sih Mbak kalau kita tidak merasa itu sulit.”

Deg…..aku ngerasa ditonjok, aku cengengesan.

Supir: “Semuanya itu tergantung kita, Mbak…kalau kita merasa sulit, ya jadi sulit. Orang lain tidak bisa mempengaruhi kita, tapi sikap kita bisa mempengaruhi orang lain…”

Aku terdiam. Rasanya kata-kata itu bukan hal yang asing tapi entah kenapa Supir Taksi itu seakan dikirim untuk mengingatkan aku kembali. Aku tidak bisa mengharapkan orang lain untuk membuat aku lebih baik, tapi aku bisa mempengaruhi orang lain (dengan sikap baikku).

Akhirnya kami sampai di tujuan tanpa nyasar.

Aku: “Stop disini Pak.”

Supir: “Oh..iya…makasih Mbak, senang bisa berkenalan dengan Mbak.”

Aku terpesona dengan kebaikan dan sopan santunnya. Dia mengucapkan itu sebelum aku menyodorkan ongkos taksi beserta tips setengah dari ongkos taksi. Dia menyebut terimakasih, dia ramah, dia senang berkenalan dengan aku, sebelum dia tahu berapa yang aku kasih sebagai tips. Dia tidak mengucapkan terima kasih karena tips yang aku berikan, tapi sebuah ucapan terima kasih yang tulus karena dia senang berbincang denganku, padahal seharusnya aku lah yang berterimakasih padanya karena telah mengingatkanku banyak hal.

Aku: “Makasih Pak…” Kataku sambil menyodorkan uang.
Dalam hati aku berdoa, bahkan sampai aku menulis ini, ”Semoga Bapak mendapat rejeki yang cukup hari ini dan seterusnya.”
Doa dalam hati itu membuatku tersadar, kebaikannya bisa membuat orang asing seperti aku mendoakan orang asing seperti si Supir Taksi, dan aku yakin sebaliknya, sikap buruk kita bisa membuat siapapun termasuk orang asing menyumpah serapahi kita.

Bener banget Pak, sikap kita bisa mempengaruhi orang lain dan hari ini aku terpengaruh dengan sikap baik Pak Supir…and it’s brighten up my mellow lazy morning.

_________________________________________________________________________________________________________________

Siregarrosey

bungsu dari 7. pisces. single. two sides of coin personality. dog lover. love writing. love traveling. love to love. love to laugh.

Twitter: @rosceh

Dear ….,

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh The Soul Sista’ (bukan nama yang sebenarnya)

 

Sometimes, I wish that my parents gave me some kind of manual to guide me through life. So, I thought, why not make some kind of manual that I could pass-on to my children…someday. Or, at least, it could be a guidance for our inner child, which we all know we still have deep down inside.

“Dear child,

(the word ‘child’ will be replaced with the name of my children)

I would like to share with you 12 points that came up to my mind now, hoping that it will be able to help you or could be used as a guidance as you walk through this journey called life.

Of course, it will take more than these 12 points as guidance…but just focus on these 12 points; I think it will give you tremendous benefit…at least based on my experiences…

 

1. Just because the adults are older doesn’t mean they are wiser

Age has nothing to do with wisdom. So, feel free to disagree but respect them nonetheless. Practice benefit of the doubts and search the answers within your heart.

2. Be yourself

Everybody is unique. Everybody is different. Everybody is special. So, you…yourself are unique, different, and special…regardless of what others tell you. Yes…sometimes it could feel so scary to just be you. It takes courage. And, you, my dear one, is courageous. You are a warrior. So, just be you!

3. Making mistakes is everybody’s birthright

So, be kind to others and yourself. Forgive others and yourself when mistakes happen. Learn from theirs’ and your mistakes.

4. Everything in this world is transitory

Sometimes, you have to let go some people in your life…some things in your life. It’s ok to feel sad…or angry. But, remember…none of it is because of you. It’s just life. So, don’t dwell too long on your sadness and anger. Eventually new people, new experiences, new things will come to your life to bring another lesson.

5. Heartbreak is inevitable

If you have heartbreak, it may feel like it’s the end of the world…but it is not. All people in the world have experienced heartbreak. So, you’re not the only one, my dear. It’s just part of life. You cannot experience love without experience the pain. The same goes with hot and cold, high and low, happy and sad, black and white…the ebb and flow of life. And yet…no matter what…never ever give up on love.

6. Be 100% in the present

Regrets always have to do with something in the past. Fear…or worry always has to do with something in the future. The key is…just be 100% in the present. So, when you look back, there won’t be any regrets…and no fear or worry for the future. As hard as it might be to always be in the present, never stop practicing.

7. Differentiate between needs and wants

What you want doesn’t necessarily mean the same as your need. Sometimes…life won’t give you what you want the most. But, life will certainly give what you need the most at that time. And, remember…what you need is not always the same with others’. So, no need for comparing and judgment.

8. Have integrity with your thoughts, words, and actions

As much as you carefully watch your thoughts, words, and actions to others…it is much more important to also carefully watch your thoughts, words, and actions to yourself. So, stop the self-abuse’s thoughts, words, and actions.

9. Embrace change

The only thing that is certain in life is changes. If you think you could avoid it, you would only bring miseries to your life. Changes could be scary, but once you embrace it, the world is in your hand.

10. Give yourself a time to go within yourself every day

No matter how busy your work is, or how hectic your life at that moment or how miserable your life seems at that moment…always…let me emphasize that word again…always spare some time to go ‘within’. Going within yourself, even only for 5 minutes, is all that you’ll ever need to stay grounded.

11. Always be grateful

Be grateful for the good and bad in your life. Even though you couldn’t feel it at that time, believe me, there’s always a blessing in disguise for every bad things that happen to you. The tricky part is to be able to see the blessing. But it is there…hiding…waiting for you to find it.

12. The answer to every questions in life is Love

As cliché as it sounds, Love…my Dear… is always the answer to everything that happens in your life…in everybody’s life. So, when you feel lost and confused, and don’t know what to do…always go with love. Ask yourself, “What would Love do?” ‘Coz no matter what happen, you were born out of love. By going with love, you’re going back within yourself…to the Source. And the Source itself is actually Love.”

Love & Light,

Mom

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

This Soul Sista’ loves to read, write, eat, travel, and to enjoy a cup of coffee…and yeah…dogs!

I also do some cards reading by online, if there’s anybody interested, just contact me:

Email: thesoulsista@ymail.com / YM! thesoulsista

Let Your Past Go

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Michelle Walewangko

 

Do you believe in the healing power of love, or is it just a fantasy?
Do you believe in the power from above? I feel it between you and me.

There’s a healing power deep in all of us.
In the darkest hour we can still rise up.
There’s a new horizon shining between you and me.
When you slip your hand in mine, I feel the rub of the healing power of love.

Deep in the night, when we’re so alone,

I swear I feel the power that’s greater than our own
and how a love unfolds as we tumble through the darkness to the great unknown.

Lyric: Dan Hill

When we were so naïve and blind caused by love, we had a motto “You don’t marry someone you can live with, but you marry someone you cannot live without.”

We believed in that phrase for years and a decade. We thought we could not live without our exes. We depended on them entirely, despite of what they have done to us.

We fed them well, even too much. Now we realized, it was not appropriate and it was not fair; but we were too blind to see. We continually provided their requests and abandoned our own sake.

After all we have done, it was ironic. Our sincere actions backfired on us. We did not get any equal and deserving treatments. They rejected and cheated on us. They spit on us with their sarcasm words, threw us their abusive behaviors, robbed us financially, and tortured us mentally and psychologically. They sucked our blood and drained our last teardrops. What a backstabbing jerk!

One of the most difficult things to handle is: how to let go of the ghosts from our past? We knew, our exes were the ones who left us, and they made decision to choose those sc*mbag and b*tches. They were the ones who hurt us intentionally. They made their own choices and they should take care of their miserable lives on their own right now. Do not rely on us anymore! They have to be responsible with their chosen acts.

We realized the truth of this phrase: You cannot discover new oceans, unless you have the courage to lose sight of the shore.

Somehow I think it is good for two brokenhearted people to meet and love each other. So they can share their own traumatic experiences in the past. They will try their best to be more careful, to exchange advises, to be wiser and to be more alert in order to prevent the similar horrible things happen again in the future.

We know that ‘although the pain has gone but the scar remains’.

They should have been forgiven and may not be forgotten but in this present time, we have to set the limit: enough is enough! Do not let anyone take advantage from us ever again.

We know, we could not change the past, but somehow we can plan our future by using our logic thinking and rational mind at this present time.

 

I accidentally found this 5-6 year old writing and the update is:

 I feel blessed, truly blessed. I made peace with my darkest past. I have no anger, no regret, no hatred and no sentimental memories or whatsoever – with them all.

 I live my life as it is. I let my past go, I enjoy my present life and I am looking forward to reach my future.

I also wish for those of you who are still trapped with the ghosts of your past, could let it go. Do not be fixated on what you have lost in the past, but be grateful for what you have right now.

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Michelle is a foodie who is not fond of cooking. Her ideal job would be like Samantha Brown’s or Andrew Zimmern’s from TLC, to travel around the world, eat good food, and meet people; however on the weekdays she’s stuck at her cubicle from 9 to 5. She loves reading but doesn’t have enough confidence to write her own stories, or publish it. Psychology, Interior Design, Foreign Language and Culinary are her interests. Stay in touch with her at: Facebook: michelle.walewangko / Twitter: @mwalewangko / Tumblr: mwalewangko

Friendship is a Priceless Gift

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Ivanna

 

Friendship is a Priceless Gift

It cannot be bought or sold

But it value is far greater

than a mountain made of Gold.

For Gold is cold and lifeless

it can neither see nor hear

and in the time of trouble

It is powerless to cheer

It has no ears to listen

nor heart to understand

It cannot bring you comfort

or reach out a helping hand

So when you ask God for a Gift

be thankful if He sends…

not diamond, pearls, or riches

but the love of Real True Friend

~Helen Steiner Rice~

We meet by chance that we could not find it nor buy it (how rich we are…true friend and true friendship could not be bought) and turn into a friend. God has His own plans when He introduces someone into our life. He may send someone just for a short period or longer period, or forever. And now it’s our destiny to keep each others close, to make our friendship grows more with the passing time. Why I call it our destiny? ‘Coz if our destiny says that we could not be friend, nor if the destiny says that our friendship is no longer there, no matter how hard the efforts to keep it alive — it could not work…’coz He already plan it for us.

However, it does not mean bad if He send friends only for a short time period. Nothing is negative in His plan. We have to think it deeply to understand His plan. It is not easy to find and understand. But just believe that time will tell us the truth and the meaning of all those.

None of us can say nor claim that we are an Angel for others. Even if we say that to the ‘new people’ and hope that with that ‘word’ we could be friends, I don’t believe it could works. That is not a ‘magic word’ in this Universe nowadays. None of us can do this! Only God can do it. It will be wise, if we do not say or assume that he or she claims themselves to be our Angel just to attract our attention to become their friend. This is totally wrong perception. None of us have rights to do this.

Friendship is a choice, it is free from hatred, it’s a freedom for us to decide based on our destiny and our understanding of God’s plans. It is not a coercion. No one can enforce a friendship.

I would like to say:

“Walk with me when your heart needs accompany and trust me. Take my hand when you feel alone — even if nothing I can do for you. Turn to me when you need someone to learn and share together with…..nothing I can promise you except I always be with you in all your sad time instead your happy time.”

For me: Real and True Friendship is a rare relationship in this Universe nowadays. That the Treasure given by God more than diamond nor pearl that need to be flushed every time…everywhere to keep it alive and shining along with the Sun. Shine on them so we will never forget who comes into our life every morning till afternoon, and shining along with the Moon which will replace by the Sun to ligthen our night, to be more brightly.

~Please bear in mind that I have no rights to claim myself as an ‘Angel’ in someone life~

~Respect people who find time for us in their busy life and schedule, BUT Love people who never look at their schedule and time when we need them…that is the Real and True Friendship~

P.S.: Dedicate this notes to my real and true friend who always be with me in my insomnia time:) every night….love you buddy, thanks for your value time and true friendship:)

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

I am Ivanna…just ordinary people who has no talent to be an author or writer, but excellent in providing and writing tax advise for individual and multi-national companies. I worked as a tax consultant at one of the big four tax consultant in Indonesia.  Email: ivannave71@gmail.com

Siap Untuk ‘Bermain’?

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh The Soul Sista’ (bukan nama yang sebenarnya)

Tulisan ini saya buat beberapa tahun silam.

 

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang pria yang sedang mengalami masalah dalam kehidupan ‘percintaannya’ (kalau memang bisa disebut dengan percintaan, dimana menurut saya lebih banyak nafsu yang berbicara) dengan seorang Janda.
Padahal pria ini sendiri sudah menikah dan mempunyai anak.
Dan, sekarang dia lagi pusing karena si Janda tidak mau mengakhiri hubungan mereka, dan mengancam akan bunuh diri atau akan memberitahukan hubungan ‘ilegal’ mereka ke istri si pria.

Sekarang, kebayang kan pusingnya si pria ini?!

Dia bertanya dari segi spiritual dan realita kepada saya…harus bagaimana ia menghadapi ini semua, sedangkan ia sudah tidak punya ‘perasaan’ apa-apa kepada si Janda ini?!
Dalam hati saya, “Hmmm…memang ada ‘perasaan’ apa gitu awalnya?!”
Karena, seperti sudah saya sebutkan di atas…kalau perasaan cinta sih…saya yakin kemungkinannya kecil.
Kalaupun ada, mungkin hanya perasaan tertantang, ingin tahu, dan tentu saja memuaskan nafsu seksual semata.

Saya bilang saja ke pria itu, “Kalau memang dia berniat bunuh diri, ya sudah…biarin saja bunuh diri. Atau kalau dia akan memberitahu istri anda, ya biarkan saja.”
Dan, si pria ini terbengong-bengong melihat muka saya setelah saya mengatakan semua itu.

Nah…ini dia nih yang menggelikan dari para pria yang seperti ini.
Maaf-maaf saja…tapi kalau kalian sudah berani mengambil keputusan untuk ‘bermain’, berarti harus siap juga menanggung resikonya.
Kan segala sesuatu pasti ada konsekuensinya.
Masalah konsekuensinya seperti apa…bagus atau tidak…itu sifatnya relatif.
Setidaknya, itu sih menurut saya.

Saya sering bertemu dengan cukup banyak player dalam hidup saya.
Entah itu perempuan, maupun laki-laki.
Tua ataupun muda.

Menjadi seorang player itu tidak mengenal gender, usia, maupun warna kulit.
Benar-benar tidak ada diskriminasi dalam bidang yang satu ini.

Entah itu attraction dari saya juga, atau apa, saya dengan mudah sekali menjadi tempat bercerita bagi para player.
Dan, entah bagaimana juga, saya kok mudah sekali ya menangkap cara berpikir mereka…?!
Menurut teman saya dan saudara saya sih, saya juga termasuk player tanpa saya sadari.
Jujur, hal itu membuat saya sempat terdiam.
Tapi, saya rasa mereka ada benarnya.
To know One, you have to be One!
Hehehehe…

Yang saya temui banyak sekali yang masih suka setengah-setengah untuk menjadi seorang player.
Ini nih yang susah.

Kecenderungannya, kalau setengah-setengah, berarti melakukannya pun sangat-sangat tidak mempunyai conscious.
Ya, bahkan untuk menjadi seorang player pun dibutuhkan ‘kesadaran penuh’.
You have to be fully conscious.

Berdasarkan pengalaman saya, para player itu mempunyai tujuan hanya untuk menikmati tantangannya saja, yang bisa menaikkan adrenalin mereka layaknya melakukan olahraga-olahraga ekstrim seperti Bungee Jumping dan sejenisnya.
Bedanya, kalau olahraga-olahraga ekstrim itu lebih terfokus pada fisik.
Sedangkan kalau player fokusnya lebih kepada ‘permainan pikiran’ atau mind games.

Sebetulnya, pada olahraga-olahraga ekstrim juga menggunakan permainan mind. Dengan segala ketegangan yang ada, kita harus tetap bisa memfokuskan pikiran kita agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dan, kita semua mengerti betapa sulitnya untuk tetap bisa fokus dengan segala ketegangan itu.
Tapi, kalau player, itu sebetulnya permainan strategi…membaca pikiran dan tindak-tanduk orang lain.
Seperti permainan catur.
Para player harus bisa membaca pikiran orang lain dalam bertindak atau mengambil keputusan sebelum orang itu benar-benar melakukannya.
Dan, jangan salah…biasanya para player itu bawaannya tenang dan tidak banyak bicara kalau di depan umum, karena harus menjadi pengamat.
Jadi, jangan cepat terkecoh dengan pria-pria yang tampaknya lugu atau memberikan kesan pemalu dan baik.
Karena, sejujurnya, para player itu senangnya bermain one-on-one.
Mereka ahli sekali dalam permainan kata-kata dan tahu sekali bagaimana harus bersikap yang tepat di depan ‘si target’ ketika sedang berdua saja dengan targetnya.

Ada tipe player yang memang hanya mencari tantangan, dalam arti kalau mereka sudah bisa menaklukkan hati si target dan sudah tidak ada tantangannya lagi maka mereka akan menjauh.
Tapi, ada juga tipe player yang memang dari awal hanya mencari kepuasan seksual semata.
Ketika si player sudah mendapatkan yang mereka mau, atau sudah berhasil ‘melakukannya’, maka si player akan meninggalkan ‘si target’.

Player yang sejati sebetulnya tidak terlalu mementingkan fisik ‘si target’.
Fisik yang baik memang menjadi penilaian pertama, tetapi kalau ternyata setelah didekati tidak memberikan tantangan, walaupun secantik atau seganteng apapun, player cenderung malas untuk ‘bermain’ dengannya.
Player lebih memilih pada target yang bisa menantang mereka.

Player yang sejati biasanya juga tidak akan menjadikan si target sebagai kekasihnya dalam mencapai tujuannya.
Karena para player cenderung berhasil mendapatkan apa yang mereka mau, sebelum status menempel pada hubungan mereka.

Jadi, kalau ada perempuan atau laki-laki yang sepertinya menunjukkan perhatian besar kepada kita layaknya seorang pacar, tetapi tidak pernah mau menjadikan kita sebagai pacarnya, percayalah, kecenderungan besar, dia hanya sedang ‘bermain’.

Kunci dalam permainan ini adalah satu.
Player tidak pernah menggunakan hati.
Rasa kasihan atau tidak enak hati, atau karma itu tidak ada dalam kamus mereka.
Player tidak mengenal rasa bersalah, karena dari awal mereka sebetulnya sudah menyadari bahwa yang mereka lakukan itu salah, dan mereka juga dengan sadar mengambil keputusan untuk ‘bermain’ itu.
Mereka terima-terima saja kalau sampai ada yang sakit hati atau marah atau dendam ke mereka.
Itu adalah bagian dari resiko permainan mereka, yang mereka sadari dengan penuh.

Jadi, sebetulnya sia-sia saja kalau kita menyimpan rasa marah atau dendam atau apapun ke mereka.
Itu hanya akan menghabiskan energi kita sendiri.
Sedangkan si player sendiri sudah melakukan aksinya lagi ke target berikutnya.

Kalau ada yang ‘bermain’ dan menjadi stres-stres sendiri, itu berarti dia sok bermain, tetapi tidak mengerti sama sekali dengan permainannya sendiri.
Dan ini yang paling bahaya dan yang paling banyak saya temui.
Jujur saja, yang kayak begini sih dibantu juga percuma.
Karena, these players wannabe ini hanya akan terus menerus mencari pembenaran-pembenaran atas tindakan mereka.
Padahal jelas-jelas, dimana ada aksi pasti ada reaksi.

Dan, menurut saya, untuk menghadapi orang-orang yang masih setengah-setengah ini, lebih baik dibiarkan saja sampai jatuh sendiri.
Karena, kecenderungannya, tidak akan kapok, atau akan mengulang kembali pola-pola yang sama kalau belum benar-benar jatuh.
Memang kedengarannya kok sepertinya bodoh sekali…tapi, ya…itulah.
Manusia itu memang lucu.

Jadi, pintar-pintarlah ‘membaca’ orang karena begitu banyak player di sekeliling kita.
Satu hal yang pasti, jangan cepat termakan dengan omongan-omongan manis.
Bagi seorang player mengobral kata-kata manis itu sudah menjadi makanan sehari-hari, jadi mereka dengan mudahnya bisa mengobral kata-kata itu secara alami.

Para player dapat juga dikatakan seorang artis, karena mereka sangat pandai berakting.
Jadi, lebih waspadalah kepada orang-orang yang bisa membuat kita merasa sangat tersanjung, atau diperhatikan, atau dicintai melalui sikap-sikap mereka, terutama dalam jangka waktu yang begitu cepat.

Tapi, menurut saya, yang lebih bahaya adalah, player bahkan bisa membuat kita merasa sangat nyaman berada disekeliling mereka, tanpa mereka perlu berkata-kata atau melakukan apapun.
Mereka tahu sekali bagaimana memainkan atmosfernya.

Dibalik semua itu, kalau kita bisa menaklukkan seorang player, dia akan tunduk dan menjadi seorang pasangan yang sangat setia, bahkan bisa dikatakan dia menjadi seorang pasangan yang ideal bagi kita.

Satu hal lagi, bila kita selalu mengulangi pola yang sama dengan menaruh hati pada para player, itu cukup wajar sih.
Karena, para player itu Too Attractive To Lose, Too Dangerous To Keep.

But in my opinion…the drama is definitely not worth it!

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

This Soul Sista’ loves to read, write, eat, travel, and to enjoy a cup of coffee…and yeah…dogs!

I also do some cards reading by online, if there’s anybody interested, just contact me:

Email: thesoulsista@ymail.com / YM! thesoulsista