Semua Akan Baik-baik Saja

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Astrid Claudia

 

“Semua kan baik-baik saja.”

“Everything will be alright.”

“Ntar juga semua oke lagi.”

Tapi bisakah kita mempercayai hal itu? Ketika cobaan dan halangan seperti tak putus mendatangi kita? Ketika kita kehilangan seseorang yang kita sayangi? Ketika kita kehilangan pekerjaan? Ketika semua usaha nampak bagai sia-sia karena tak mendulang hasil yang seperti kita inginkan? Ketika kita merasa kehilangan segalanya?

Yang ada kita justru bertanya- tanya “Kapan ini semua selesai?” “Habis ini, aku gimana ya?”

Been there, done that. And I’m even still struggling over some things with those questions.

Saya pernah melalui hari-hari seperti itu. Bukan sekali dua kali. Berkali-kali. Setiap hari rasanya awan ditutupi awan kelabu. Dada seperti sesak terus menerus. Ingin menangis, tapi air mata rasanya kering. Dan yang lebih parah, saya sendiri bingung mau menangisi apalagi. Kusut semuanya.

Hari demi hari berlalu. Kadang saya mencurahkan isi hati saya dengan berlepotan. Saya tidak pintar curhat.  Ingin, tapi kadang kata-kata yang keluar justru tidak tepat, sehingga yang dengar pun ikut bingung.

Tapi dari beberapa orang yang berusaha dan mau mendengarkan saya, saya mendapat banyak masukan yang selalu saya ingat-ingat, kapanpun saya menghadapi masalah.

Dan yang selalu saya ingat, setiap hari; adalah, perasaan ketika kita berduka, kesusahan, kehilangan, adalah hasil dari sebuah sugesti dari pikiran kita. Sadarkah kita kalau sebenarnya pikiran kita ini adalah sumber dari segalanya?? Kalau pikiran kita ini mempunyai kekuatan tak terhingga untuk membentuk kehidupan kita??

Kesedihan adalah sesuatu yang wajar. Manusiawi. Tapi kesedihan tidak boleh menghentikan laju kehidupan kita. Karena ketidakabadian adalah hukum alam. Tak ada yang bahagia selamanya. Jadi, takkan ada kesedihan yang berlaku selamanya.

“Semua ada di pikiran kita”

Dunia kita, ada dalam pikiran kita. Hari kita, berdasarkan pemikiran kita. Tidakkah Sang Pencipta memberikan suatu yang luar biasa? Gunakanlah.

Hari kita diawali dari pemikiran kita? Tidak percaya?

Bayangkan anda suatu pagi, ketika hendak ke kantor, anda terjebak macet parah, sementara bos anda sudah menunggu. Anda begitu kesal, kesal luar biasa, pada kemacetan itu, anda mengingatnya terus, seharian, mengutuknya sebagai sumber kesialan anda. Karena macet, anda terlambat, bos anda marah, anda tidak bisa makan siang karena harus bekerja, anda bekerja dengan kesal sampai-sampai anda membuat banyak kesalahan pada pekerjaan anda, anda harus mengulangnya, dan anda jadi harus bekerja lebih lama lagi. Anda semakin kesal kan???

Anda membiarkan kemacetan itu menjadi sumber petaka pada pikiran anda.

There are things that beyond our control.

Terimalah. Siapa juga yang mau terjebak kemacetan? Tapi kita dapat mengontrol diri kita. Pikiran kita.

Di lain hari, anda kehilangan kekasih, atau pasangan hidup, atau orang terdekat anda. Bukan karena kematian. Tapi karena pilihan yang dia buat.

Anda berduka berhari-hari. Setiap menit memikirkan kenapa hal ini terjadi pada anda, begitu teganya, menangisi keadaan, dan buntutnya, menyalahkan diri sendiri. Hari-hari anda tak lagi ceria.

There are things that beyond our control.

Terimalah. Pikiran dan aksi orang lain bukanlah beban kita untuk kita telan. Bukan sesuatu yang harus kita telan bulat-bulat. Tidak selamanya apa yang mereka buat, karena Kita. Saya, anda,  bukan pembaca pikiran, dan isi kepala seseorang, bukan hak kita.

Kendalikan apa yang kita punya. Pikiran kita.

Ingatlah. Ketidakabadian adalah pasti.

Kita bisa melalui semua ini. Mulailah dari yang paling dalam. Hati kita. Pikiran kita.

Jika kita bisa merusak segalanya dengan pikiran-pikiran menyedihkan itu, berarti kita bisa menyenangkan hati kita dengan pikiran-pikiran yang baik pula.

Tiap kali saya mulai merasakan kesedihan merambah hati saya, saya mengulang kata-kata ini terus menerus, “Semua akan baik-baik saja”. Setiap saya habis menangis, saya ulangi kata-kata itu.

Tiap hari. Tiap saya memerlukannya. Karena ini pikiran saya. Hidup saya. Saya perlu untuk merasa baik-baik saja.

Saya mensugesti diri saya sendiri dengan kata-kata itu. Tidak mudah. Karena hal-hal negatif itu jauh lebih cepat menguasai pikiran, apalagi dalam suasana yang kisruh dan tidak menentu. Saya jatuh bangun tiap hari untuk melakukan hal ini.

“Semua akan baik-baik saja.”

“Semua akan baik-baik saja.”

“Semua akan baik-baik saja.”

Setiap hari. Ibarat mantra, katakan selalu pada diri kita. Jangan remehkan sugesti yang kita tanam.

Karena tiap kata adalah doa, untuk saya.

Doa tidak harus bersimpuh di tempat ibadah buat saya.

Ada doa dalam tiap kata seorang makhluk hidup. Dan Semesta, mendengar tiap kata dari makhluk yang ada. Semesta ini  mendengar, menyimpan, dan memberikan semua kekuatan pikiran kita.

Dan buat saya, Pikiran adalah anugerah yang luar biasa. Gunakanlah. Apa yang membedakan manusia dengan hewan dan tumbuhan? Pikiran. Kita tidak memilikinya hanya untuk sekolah dan menciptakan roket untuk ke bulan. Kita diberi Pikiran untuk menjalankan hidup kita.

Hidup pastilah memiliki masalah. Karena itulah esensi dari hidup manusia. Manusia tanpa masalah justru akan mati. Karena dia tak lagi berpikir, berharap, dan tak lagi berdoa.

Anda tidak tahu kan apa yang sedang saya hadapi ketika menuliskan ini?

Tapi saya bisa menuliskannya karena, saya sedang melakukannya.

Saya mengucapkan, “Semua akan baik-baik saja.”

Karena saya percaya, semua memang akan baik-baik saja. Saya akan baik-baik saja. Semua ini akan berlalu. Saya telah melalui banyak hal dengan kalimat tadi. Dan saya masih hidup hingga kini.

Jadi katakan,  “Semua akan baik-baik saja.”

 

Note: I don’t think I have enough religious bones in my body. But I put my trust in the Universe.

_________________________________________________________________________________________________________________

Astrid Claudia, tidak merasa cocok dibilang kreatif, “banyak maunya” bisa lebih tepat untuk dia. Buat dia hidup adalah misteri, teka-teki, labirin, dan juga penuh keajaiban. Selain menyukai buku dan tulisan, dia sangat menyukai musik, dan menjadi penyanyi karaoke yang jauh dari profesional. Earphone hampir selalu nyantol di kupingnya. Sehari-harinya seorang tax analyst, tapi dia tidak begitu hobi membicarakan pekerjaannya diluar jam kantor. Email: astrid.claudia@hotmail.com. Twitter: @tidtud.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s