Berjalan Bersama Kesendirian

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Soul Sista’ (bukan nama yang sebenarnya)

 

Namaste,

Sejak enam tahun yang lalu, saya mulai intens terjun ke dunia ‘spiritual’.  ‘Spiritual’ yang dimaksud disini mungkin lebih tepatnya dapat dikatakan ‘pencarian jati diri’ versi saya.  Dalam perjalanannya, saya menemukan teman-teman baru.  Dan, dari merekalah, setidaknya salah satu dari mereka berkata bahwa perjalanan spiritual itu merupakan a journey of aloneness.

“Tentu saja.” dalam hati saya berkata.

Spiritual atau pencarian jati diri atau apapun itu kita ingin menyebutnya, adalah perjalanan ke dalam diri, yang berarti mengenali suara yang datang dari dalam diri.  Hal itu tentu saja tidak bisa dilakukan tanpa mampu berdamai dengan diri kita, termasuk kesendirian kita.  Our aloneness.

Pada saat itu, saya merasa tidak akan punya masalah dengan konsep aloneness ini.  Pertama, karena saya anak tunggal.  Kedua, karena saya bukan termasuk tipe orang yang banyak bicara.  Ketiga, karena saya tidak terlalu menyukai keramaian.  Jadi, saya merasa yakin bisa melewati tahap ini tanpa terlalu banyak kesulitan.

Lalu, beberapa tahun kemudian, saya mengalami beberapa kejadian yang membuat saya merevisi kembali pemahaman saya mengenai aloneness.

Ternyata, selama ini pemahaman saya mengenai aloneness masih sangat dangkal.  Akhirnya, saya harus mengakui dengan amat sangat menyakitkan, bahwa saya belum benar-benar pergi ke dalam diri saya.  Saya masih lebih suka mendengarkan suara-suara di luar diri saya.

Ini bagaikan suatu tamparan keras dari Alam Semesta, karena satu persatu orang disekeliling hidup saya menjauh dan bahkan hilang kontak sama sekali.  Saya pun menangis berhari-hari dan tiada henti-hentinya menanyakan pertanyaan yang sama, “Mengapa hal ini terjadi pada saya?”.  “Salah saya apa?”.

Setelah mengalami naik turunnya emosi sambil mencoba mengatasi kesedihan saya dengan memaksakan diri berteman sana-sini,  dimana saya tidak memilah-milah siapa yang memang baik untuk dijadikan teman, dan siapa yang tidak, karena saya merasa putus asa…bukannya terjadi pertemanan seperti yang saya harapkan, melainkan berujung pada kekecewaan.  Alam Semesta seperti ingin memberitahu saya bahwa segala sesuatu yang dipaksakan hanya akan…M-E-N-G-E-C-E-W-A-K-A-N.

Akhirnya,  saya pun merasa lelah terombang-ambing dalam emosi-emosi tidak produktif, dan secara perlahan-lahan mulai mau…dan bisa menerima kenyataan yang ada.  Saya melepaskan pengharapan-pengharapan, dan menghadapi nyanyian-nyanyian sumbang yang berasal dari suara-suara di kepala saya, yang juga dibarengi dengan suara-suara lembut, yang datang dari hati saya.  Ego dan suara hati seperti mencoba merebut perhatian saya dengan cara mereka masing-masing.

Mungkin memang benar bahwa Alam Semesta bekerja secara misterius.  Ketika saya bisa menerima dan melepaskan semua pengharapan itu, serta berhenti melawan, yang saya dapatkan adalah ketenangan.  Dan, rasa ketakutan akan kesepian pun berangsur-angsur hilang.  Saya pun seperti mendapatkan pemahaman yang lebih dalam lagi mengenai apa yang dimaksud dengan feeling lonely dan being alone.

Sepertinya, pepatah yang mengatakan bahwa “rasa sepi bisa membunuh” itu mungkin mengandung kebenaran dibaliknya.  Kita seringkali begitu takut untuk sendirian.  Karena, sendirian identik dengan sepi…dengan kesepian.  Bukan hanya itu saja, ketika kita sendirian, suara-suara di kepala dan hati kita menjadi terdengar lebih nyaring.  Dan, kebanyakan, suara-suara di kepala itu jauh lebih mudah didengar dibandingkan suara hati kita, padahal suara-suara dari kepala kita itu cenderung menyuarakan hal-hal yang sifatnya menjatuhkan diri kita sendiri.

“Saya bukan siapa-siapa.”

“Tidak ada yang bisa dibanggakan dari diri saya.”

“Saya tidak pantas untuknya.  Dia terlalu bagus untuk saya.”, dan sebagainya.

Tidak heran bila perjalanan spiritual atau perjalanan ke dalam diri ini menjadi sesuatu yang sepertinya berada di awang-awang.  Susah untuk diraih.  Dan, journey of aloneness pun menjadi sesuatu yang menakutkan.  Tetapi, hal itu semakin menunjukkan bahwa perjalanan ini menjadi sesuatu yang amat penting karena kita tidak lagi hanya mengandalkan pengalaman-pengalaman orang lain untuk pembelajaran kita.  Sehingga kita menjadi tidak mudah dipengaruhi atau didoktrin oleh orang lain, pemikiran-pemikiran orang lain, maupun oleh institusi-institusi atau instansi-instansi lain yang ingin mengontrol kita.

Apapun yang telah dikatakan oleh lingkungan kita…kita tidak pernah sendirian.  Alam Semesta selalu bersama kita dalam suka maupun duka.  Dan, kita adalah bagian dari Alam Semesta itu.  Rasa sepi itu hanyalah persepsi yang ada di dalam pikiran kita atas ketidakpuasan terhadap diri kita sendiri, bahwa kita belum merasa nyaman dengan diri kita sendiri.  Kita belum bisa mempercayai diri kita 100%.

Kalau kita mau jujur dengan diri kita sendiri, seberapa sering kita merasa kesepian bahkan di tengah keramaian sekalipun…?

Kita semua tahu bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini kecuali perubahan.  Orang-orang datang dan pergi dalam hidup kita silih berganti…teman, pacar, orang tua, anak, dll.  Kematian dan kehidupan selalu mewarnai dunia ini.

Oleh karena itu, janganlah takut untuk berjalan bersama aloneness ketika hal itu datang menghampiri kita.  Mungkin itu petunjuk dari Alam Semesta bahwa kita perlu meluangkan waktu untuk pergi ke dalam diri kita.  Lalu, manfaatkanlah saat-saat itu untuk mengenal lebih dalam siapa diri kita sebenarnya, dan untuk menjadi lebih nyaman dengan diri kita sendiri.  Being alone tidak semenakutkan seperti yang mereka katakan.

Selebihnya, Alam Semesta akan mengatur datangnya orang-orang baru, serta pengalaman-pengalaman baru ke dalam kehidupan kita untuk mengajarkan kita lebih banyak lagi siapa diri kita yang sebenarnya.  Dan, semoga pada saat itu tiba, kita sudah merasa nyaman dengan diri kita sendiri, sehingga dimanapun kita berada…dengan siapapun kita bersama, bahkan ketika tidak ada seorangpun disekeliling kita.  Maka, kesepian tidak lagi menjadi pilihan.

Don’t be scared to walk alone. Don’t be scared to like it. -John Mayer-

_________________________________________________________________________________________________________________

This Soul Sista’ loves to read, write, eat, travel, and to enjoy a cup of coffee…and yeah…dogs!

I also do some cards reading by online, if there’s anybody interested, just contact me:

Email: thesoulsista@ymail.com / YM! thesoulsista

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s