Dear Ibu

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh My Mother’s Daughter (bukan nama yang sebenarnya)

 

Dear Ibu,

Aku kangen sama Ibu, Bagaimana rasanya ‘disana’ Ibu? Apakah seindah yang orang-orang bilang akan kematian? Apakah engkau akhirnya menemukan ketenangan hati disana?

Selama hidupmu selalu saja ada cobaan yang datang. Aku ingat waktu lihat kedua telapak tanganmu yang penuh dengan goresan yang menunjukkan begitu banyaknya yang harus engkau perjuangkan.

Sudahkah capek waktu itu Ibu berjuangmu? Aku tahu itu sakit luar biasa tapi bisakah waktu itu engkau bertahan lebih lama lagi? Aku masih butuh Ibu. Egoiskah sebagai seorang anak berharap engkau dihidupkan kembali?

Maafkan ya, Ibu. Aku sebagai seorang anak merasa belum bisa memenuhi harapan Ibu. Padahal Ibu tidak meminta banyak & selalu memberi. Begitu ya besarnya sayangmu, Ibu.  Kalau mengingat waktu dulu kecil selalu direpotkan dengan keegoisanku akan hal-hal tidak penting.

Begitu besarnya sayangmu Ibu, aku masih ingat bagaimana egoisku masih ingin nempel menyusui sampai TK! Bagaimana bandelnya aku waktu itu yang selalu mendapat teguran dari guru karena banyak omong. Sampai engkau heran kenapa diantara 3 bersaudara, aku yang paling banyak suara dan walau aku sekolah diluar dengan bahasa Inggris, tetap saja raport menunjukkan keluhan guru akan banyak omongku.

Tapi karena banyak omong inilah, kita banyak ‘berdebat’ mengenai banyak hal sampai aku pergi ke negeri seberang, engkau kangen dengan sesi debat kita yang sama kerasnya. Hanya Bapak yang bisa melerai.  Aku kangen Ibu, banyak hal yang ingin aku debatkan sekarang. Kemana perginya sekarang aku untuk debat?

Begitu banyak yang didunia ini yang aku tidak bisa terima Ibu, bagaimana dulu Ibu bisa memaafkan itu semua & masih bisa menunjukkan kasih sayang? Paling berat adalah menerima bahwa engkau meninggal karena kanker hati padahal engkau begitu menjaga kesehatan. Dimana keadilan itu? Seharusnya engkau hidup lebih lama daripada orang-orang yang sembarangan menjalani hidupnya.

Egoiskah kalau aku masih menangisi kepergianmu hingga engkau belum sepenuhnya istirahat dengan tenang disana? Sekali lagi maafkan aku, Ibu.

Aku masih butuh waktu & proses untuk mencerna ini semua…Baru  sekarang aku mengerti arti berduka…Semoga selama proses ini aku menemukan caranya agar engkau pada akhirnya beristirahat dengan tenang.

Sending my love & prayers for you, Ibu.

_________________________________________________________________________________________________________________

My mother’s daughter who has a lot of life lesson learning to do.
Please do take note, who knows it might come in handy.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s