Bermain Drama

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Soul Sista’ (bukan nama yang sebenarnya)

“To do whatever is required of you in any situation without it becoming a role that you identify with is an essential lesson in the art of living that each one of us is here to learn.” -Eckhart Tolle, A New Earth: Awakening to Your Life’s Purpose-

Namaste,

Saya percaya bahwa tidak ada satupun anak di dunia ini yang tidak suka bermain. Dan, kalau kita mengingat kembali masa kanak-kanak kita, yang muncul adalah bahwa semua terasa ringan, mudah dan hari-hari kita sebagian besar dijalani dengan bermain.  Bahkan, kalau kita mau jujur, sampai sekarang pun kita masih suka bermain. Perbedaanya terletak pada motif dibelakang permainannya. Yang satu didasari oleh love, dan yang satu lagi didasari oleh fear.

Ketika kita masih kanak-kanak, kita bermain karena kita memang menyukainya. Kita merasa begitu lepas dan bebas ketika sedang bermain, karena semuanya murni for the love of the game. Menang atau kalah, maupun benar atau salah, tidak menjadi bagian penting dalam permainan-permainan itu. Akan tetapi, semakin beranjak dewasa, kita tidak lagi bermain dengan alasan yang sama seperti ketika kita masih kanak-kanak dulu.

Bermain drama…itulah permainan yang kita mainkan seiring berjalannya waktu. Kita bermain drama melalui peran-peran yang kita ciptakan sesuai dengan kebutuhan emosional kita. Kita menciptakan peran-peran itu untuk menarik perhatian orang-orang di sekeliling kita.  Kita ingin disukai, disayang, dicintai, dsb. Dan, tentunya agar kita merasa bahwa kitalah yang memegang kendali dalam hubungan kita dengan orang-orang tersebut, sehingga kita dapat mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada diri kita. Karena, kita tidak mau mereka semua tahu betapa rapuhnya dan ketakutannya kita.

Banyak peran yang kita mainkan dalam hidup ini. Terkadang kita berperan sebagai ‘si cuek’, ‘si manja’, ‘si dominan’, dll. Dan, salah satu peran yang mendominasi hidup saya adalah the victim.

Saya mencoba menarik perhatian orang-orang di sekitar saya dengan kisah-kisah yang mendorong mereka untuk mengasihani saya; bahwa saya adalah korban ketidakadilan perlakuan seseorang terhadap saya, bahwa beban hidup saya berat, dll. Sehingga, sudah sepantasnya saya mendapatkan perhatian lebih…that I needed to be rescued. Akibatnya, saya sangat rentan mengalami ketidakstabilan emosi, karena saya sangat bergantung pada orang lain; mudah kecewa; dan sangat sensitif.

Berdasarkan pengalaman saya, peran the victim cenderung menarik perhatian orang-orang yang memainkan peran sebagai ‘si penyelamat’, the player, dan tentu saja the victim lainnya. The player disini maksudnya adalah mereka yang suka ‘bermain api’ dengan cinta dalam menjalin hubungan romantis.

Kebutuhan the victim yang selalu ingin diselamatkan oleh a knight in shining armor akan dapat terpenuhi dengan menjalin hubungan bersama mereka yang memainkan peran ‘si penyelamat’, dimana ‘si penyelamat’ membutuhkan pengakuan secara emosi atas keberadaan dirinya dengan menjadi pahlawan bagi mereka yang tertindas secara emosi, dengan kata lain…the victims.

Sedangkan, hubungan antara the player dengan the victim, menurut pendapat saya, bagaikan dua sisi pada satu koin. Mereka tampak berbeda, tetapi sesungguhnya memiliki banyak persamaan. Kedua peran ini adalah peran-peran yang sangat ahli dalam memanipulasi pikiran.

Menjalin hubungan dengan the player akan menyebabkan kita berpikir bahwa mereka mempunyai indera keenam, karena mereka seakan-seakan mengetahui jalan pikiran para ‘korban’. Mereka tahu bagaimana memperlakukan para ‘korban’nya agar takluk ke dalam permainan mereka. Mereka cenderung cepat bosan, karena selalu membutuhkan tantangan.  Sehingga, tidak mengherankan apabila mereka bisa bermain dengan beberapa ‘korban’ sekaligus.

The victim sendiri dapat dikatakan ‘merelakan’ dirinya untuk menjadi ‘korban’ the player. Karena, di dalam hati kecilnya, mereka mengetahui bahwa the player ini adalah bad news. Tetapi, kecanduan mereka akan drama-drama untuk ‘bertahan hidup’ membuat mereka tidak mau meninggalkan the player ini, walaupun mereka tahu segala resikonya.

Lalu, bila seorang the victim menjalin hubungan dengan the victim lainnya, maka masalah demi masalah, drama demi drama, seakan tiada habis-habisnya. Kemudian, mereka akan menceritakan kisah-kisah mengenai penderitaan, pengorbanan, ketidakadilan yang mereka dapatkan dari pasangannya, dsb-nya, kepada siapapun yang mau mendengarkannya. Sedangkan, bagi mereka yang cenderung introvert dan merasa tidak nyaman untuk ‘curhat’, kisah-kisah itu akan diputar berulang kali di kepala mereka.

Bagaimana dengan anda? Apakah ini semua terdengar akrab di telinga anda?

Dalam perjalanan hidup saya, saya menemukan banyak sekali yang sudah menyadari akan peran-peran yang mereka mainkan, tetapi hanya beberapa yang benar-benar ingin berubah. Tentu saja ada juga yang benar-benar tidak menyadari peran-peran apa yang mereka mainkan selama ini.

Jika kita bingung dengan peran-peran apa yang kita mainkan, cobalah lihat teman-teman yang ada di sekeliling kita, serta keluarga atau lingkungan kita dibesarkan. Karena, mereka semua adalah cerminan dari diri kita. Selain itu, keluhan-keluhan kita akan seseorang juga merupakan tanda bahwa kita memiliki hal-hal yang kita tidak sukai dari orang itu dalam diri kita.

Misalkan, seseorang yang senang mengeluh, akan berkumpul dengan orang-orang yang senang mengeluh juga. Karena hanya merekalah yang dapat mengambil manfaat dari mengeluh, yang akan tahan menghadapi sesama pengeluh. Begitu juga dengan peran-peran lainnya.

Menyadari serta mengakui akan peran-peran yang kita mainkan, merupakan langkah awal untuk berubah. Proses ini sendiri bisa memakan waktu yang cukup lama. Setelah itu, niatan kita untuk berubah merupakan langkah yang paling menentukan.

Proses yang harus saya lalui untuk berubah, merupakan proses yang amat sangat menyiksa. Dapat dikatakan, saya menangis hampir setiap harinya. Drama-drama yang dulu saya mainkan, datang ‘menghantam’ saya melalui orang-orang lain. Memaksa saya untuk ‘berkaca’ pada mereka semua akan drama-drama yang pernah saya mainkan dulu, sehingga membuat dada saya begitu sesak.

Terkadang muncul pikiran-pikiran, bahwa apa yang saya lakukan ini hanya sia-sia saja. “Emangnya lo pikir, lo bisa bener-bener ga bermain peran sama sekali dalam hidup lo?! Realistis aja deh!”

Ya…itu semua memang tidak mudah. Tetapi, bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Saya sendiri belum dapat dikatakan benar-benar telah menghilangkan peran-peran itu dalam hidup saya 100%. Hal itu mungkin akan menghabiskan waktu seumur hidup saya. Akan tetapi, bila saya melihat kembali hidup saya ke belakang dan membandingkan dengan keadaan saya sekarang, betapapun beratnya proses yang saya harus lalui untuk berubah, hal itu sangat sepadan untuk dilalui.

Sekarang, saya menjadi lebih nyaman dengan diri saya sendiri, menjadi lebih tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal di luar diri saya, saya merasa lebih tenang dan lebih yakin dalam menjalani hidup ini dibandingkan dulu, dimana saya dipenuhi rasa takut akan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu ditakuti, yang hanya menggerogoti kualitas hidup yang patut saya dapatkan.

“You become most powerful in whatever you do if the action is performed for its own sake rather than as a means to protect, enhance, or conform to your role identity.” -Eckhart Tolle, A New Earth: Awakening to Your Life’s Purpose-

_________________________________________________________________________________________________________________

This Soul Sista’ loves to read, write, eat, travel, and to enjoy a cup of coffee…and yeah…dogs!

I also do some cards reading by online, if there’s anybody interested, just contact me:

Email: thesoulsista@ymail.com / YM! thesoulsista

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s