Ibu, Ada yang Ngajak Nikah Lagi!

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh My Mother’s Daughter (bukan nama yang sebenarnya)

 

Dear Ibu,

Apa kabar diatas sana? Semoga nanti dimasa depan ada cara lain untuk kita bisa ngobrol lagi ya.
Tapi sejauh ini, let’s just make use of this letter-blogging, who knows heaven post sends it to you.

Jadi gini loh Ibu,uhm, mau cerita nih,…
Seperti terakhir Ibu tahu, kehidupan percintaanku tidak berubah, masih tetap belum menikah.
Jadi sebenarnya kasihan juga mengulur-ulur waktu sakitmu untuk aku yang sampai sekarang belum menikah.

Ada alasannya, bukannya aku tidak mau menikah. Siapa sih yang tidak mau. Well, there’s one person I know but the majority still does want to get married.

Tahukah Ibu, ada ajakan nikah lagi. Bingung juga menanggapinya karena kita baru mengenal beberapa bulan. Gimana nih, Ibu? Salah tidak keputusanku?

Aku tahu kriteria yang ibu inginkan tapi mengertilah Ibu, aku juga yang harus menjalani kehidupan itu setiap harinya jadi tolonglah jangan sering-sering muncul dalam mimpiku untuk mengingatkannya. I got it, ibu…please deh…

And then your question will be : Bedanya yang ini sama yang dulu Ibu suka, apa?

Seperti yang terakhir yang mengajak nikah, bukannya tidak mau tapi batin aku yang menolak sampai tahukah Ibu, aku menangis saat membayangkan kalau akhirnya jadi sama orang itu. Aku mengerti kalau Ibu sangat senang dengan calon yang satu itu. Tapi tahukah Ibu, pada saat aku mengandalkan dia untuk menjelaskan tentang agama, dia menertawakan pertanyaanku, merendahkan ilmu agamaku, membuat aku merasa kecil. Apakah itu seorang imam yang baik? Secara bibit, bobot, bebet memang dia ideal. Dari latar belakang keluarga yang baik, naik haji dengan hasil jerih payahnya sendiri, sudah memiliki cicilan rumah, sehat jasmani dan rohani. Apa yang kurang? Batin aku yang menolak, maaf ya Ibu. Padahal kalau aku menerimanya, mungkin Ibu masih sempat melihat cucu dari aku.

Bedanya dengan yang sekarang? Dia hampir ideal seperti yang Ibu mau kecuali  satu hal, agama. Dalam hal ini sebenarnya aku tidak keberatan karena bagiku sifat dari orang itu yang aku lihat paling penting.
Agama hanyalah alat untuk orang itu menjadi lebih baik. Memang menjalani dua hal yang berbeda akan ada tantangannya tapi bila dia seorang yang memiliki toleransi & itikad baik semua hal bisa kita komunikasikan dengan baik. Insya Allah.

Yang menjadi pertanyaan besar buatku justru mengapa dia begitu yakin padahal kita baru mengenal, apakah karena dia begitu menggebunya ingin menikah jadi siapa aja yang kira-kira masuk kriteria besar dia akan
diajak menikah? Apakah niat dia untuk menikahiku karena dia cocok denganku? Ataukah hanya karena dorongan umur, keluarga & orang-orang sekitarnya?

Mungkin karena faktor umur yang sudah-lebih-dari-cukup-untuk-menikah, aku jadi bisa melihat banyak & membandingkan pengalaman orang lain dalam hal pernikahan. Memang tidak mudah ya, sampai Bapak pun mengakui
bahwa selama pernikahan kalian, begitu banyak cobaan yang menghampiri. Kalau kalian berdua tidak begitu kuat rasa komitmen terhadap sesama maka sudah cerai dari dulu.

Apakah mungkin itu juga yang membuatku ragu untuk melangkah dengan orang ini padahal dia orangnya baik & tentunya dari hasil didikan dari keluarga yang baik, karirnya dia cerah, bertanggung jawab. Tapi kenapa aku merasa tidak ‘diperjuangkan’ dan sepertinya karena faktor umur & situasi dimana pilihanku yang makin menyempit menjadikan aku mempertimbangkan tawarannya.

Padahal kalau aku masih umur 25 tahun, dia mungkin bukan pilihanku sama sekali. Untuk mencoba menjalani hubungan pacaran pun mungkin tidak. Mengerikan tidak Ibu melihat aku begitu labil untuk hal ini?

Pada akhirnya aku pasrah sama situasi & mengambangkan tawarannya sampai akhirnya dia pun mundur. Gagal lagi deh mau menikahnya. Tapi bukannya lebih baik tidak memaksakan jika memang ragu? Sesuatu yang dipaksakan biasanya hasilnya tidak bagus tapi kenapa ya Ibu pernikahan jaman dulu yang dijodohkan banyak yang lenggang dibanding jaman sekarang? Atau karena penduduknya lebih banyak jadi kesannya lebih
banyak? “Apa sih, adek?” pasti jawabanmu. Suka boten-boten ae.

Aku masih ingat waktu itu engkau dudukkan aku untuk menjelaskan bagaimana Ibu berharap bahwa aku menemukan pasangan hidup yang kurang lebih memperlakukan aku dengan penuh rasa hormat & kasih sayang
seperti  Bapak & kakak laki-lakiku. “Ibu ngajari masmu kalau dia berani ngajak perempuan keluar, dia harus menjemput dari pintu depan dan diantarkan lagi ke pintu depan. Minta ijin sama orang tua & pamitan. Jadi Ibu berharap kalau ada laki-laki yang mau mengajak kamu, mereka harus juga seperti itu.”

Duh agak report ya, tapi memang ya Ibu. Rasa hormat & saling mengharagai itu sangat diperlukan dalam kehidupan rumah tangga. Banyak cerita yang aku dengar dari pihak laki-laki maupun perempuan bahwa
sebenarnya bukan masalah perselingkuhan atau tidak tapi karena dalam masa menjalani kehidupan perkawinan terdapat perubahan yang bisa merubah rasa sayang itu karena kehilangan rasa hormat & saling menghargai.

Jadi sekarang balik lagi ke titik awal deh, cari lagi yang baru.
Tolong dibantu dong dari dunia sebrang sana mungkin koneksinya lebih kuat ke Maha Kuasa dibanding dari dunia ini.

Miss you Ibu, sending my love & prayers as always.

_________________________________________________________________________________________________________________

My mother’s daughter who has a lot of life lesson learning to do.
Please do take note, who knows it might come in handy.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s