Terserah Loe Aje

 

Tulisan merupakan kontribusi oleh Ang[El] (bukan nama yang sebenarnya)

 

Seorang kawan bertanya pada saya: Apakah kita perlu petunjuk dalam hidup? Apakah kita perlu seseorang atau sesuatu untuk dijadikan titik acuan keputusan yang akan kita buat?

Pertanyaan itu mudah-mudah susah dan susah-susah gampang dijawab. Namun pada saat itu saya menjawab: Iya, perlu. Sampai kamu menyadari bahwa kamulah yang menjadi petunjuk untuk dirimu sendiri. Iya, perlu. Sampai kamulah yang menjadi titik acuan keputusan yang akan kamu buat.

Beberapa saat kami hanya saling melihat satu sama lain, menyesap kopi yang kami pesan, dan meresapi makna kalimat yang tadi saya katakan.

Tanpa dikomando, kami yang memang pada dasarnya bukan filsuf, scientist jadi-jadian yang banyak bertanya hal-hal tidak penting, tertawa terbahak-bahak. Sebetulnya kami bingung mentertawakan apa. Namun kami tertawa karena memang kami suka tertawa.

Akhirnya kami bercerita tentang bagaimana kami selalu sok tahu saat guru menerangkan di kelas. Kami teringat bahwa sering kami berkata: Ah… palingan itu konsensus. Itu kan hanya persetujuan sebagian pihak saja.

Namun kami juga membahas, bagaimana jika saja pada saat itu kami lebih mengikuti “arus” guru kami. Mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung dengan secara mental mengatakan “Iya, inilah sebuah kebenaran temporer yang sedang terjadi saat ini.” atau “Iya, inilah politik cuci otak yang sedang dilakukan oleh guru-guru kami”.

Kami tertawa lebih kencang saat kami berdiskusi: Being different is us and normal is a sin.

Saya: “How’s life? how does it feel to be “normal” person? Jadi orang yang bekerja dengan pekerjaan normal?”

Kawan: It feels great. Ntah ya, semua terasa menyenangkan. Tentunya ada saja konflik kepentingan di kantor, tapi semua terasa “kaya”. Mungkin secara dari lahir sudah jadi outsider, dari balita sudah berada di titik ekstrim kanan dan kiri, ini saatnya untuk berdamai dengan kehidupan mayoritas. Dan ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan sebelumnya. Bahkan jauh dari buruk.”

Saya: “Mungkin enggak, karena saya dan kamu, istilahnya sudah puas mengeksplorasi kedua polar kanan-kiri, saat kita menjadi pihak yang mayoritas, kita mendapatkan gambaran yang lebih jernih mengenai hidup? Kita sudah pernah mengisi otak kita dengan alien-alienan, malaikat-malaikatan, setan-setanan, energi-energian, sampai healing-healingan, apakah itu membuat perbedaan dalam kita melihat kehidupan? Kita tidak lagi melihat menjadi “biasa” adalah suatu dosa.”

Kawan: “Kayaknya sih begitu ya. Seperti kata kamu tadi. Kita berguru sama malaikat, sampai kita menjadi malaikatnya beneran. Kita belajar sama alien, sampai kita bener-bener ter-alienisasi.”

Saya: “He eh. Kita belajar sama setan sampai kita jadi setannya beneran. Ha ha ha.”

Kawan: “Mulai dari yang khawatir mengenai kiamat 2012, sampai ke kalimat “ya sudahlah”.”

Saya: “Iya. Dan apakah kamu merasakan apa yang saya rasakan? Bahwa hidup cuma punya satu hukum. Nama hukumnya: Terserah Loe Aje. Kita belajar mulai dari kecil sampai mati, mulai dari yang formal sampai nonformal, mulai dari yang science-based sampai klenik, ujungnya cuman satu: Terserah Loe Aje. Bahkan kita enggak lagi mempermasalahkan benar-salah, baik-buruk, berguna-sia-sia. Pada akhirnya, bermuara ditempat yang sama. Free will? Free choice? Go with the flow or Flow with the go? Seakan-akan tidak penting diperdebatkan.”

Kawan: “Iya. Ingat saat kita membuat konklusi bahwa orang yang benar-benar merdeka hanyalah orang gila, orang “normal” adalah orang yang menyukai “penjara”nya? Saya pikir kita adalah orang yang pernah gila, dan akan tetap jadi gila seumur hidup, namun membuat “penjara-penjara” seenak udel, dimanapun dan kapanpun.”

Kami tertawa terbahak-bahak kembali, bahkan kali ini lebih keras daripada sebelumnya. Kami kembali menikmati sisa kopi yang sudah mulai dingin. Tidak ada pembicaraan bermakna lebih lanjut. Tidak ada yang perlu dijawab karena tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan.

Pada saat dalam perjalanan pulang, saya bbm kawan saya: Dalam hidup, yang utama kita butuhkan hanya tiga. Kopi. Tertawa. Seorang kawan untuk menikmati ke dua hal sebelumnya dan ngobrol ngalor-ngidul tanpa arah. Sisanya terserah loe aja. Kami pun setuju.

_________________________________________________________________________________________________________________

Ang[El]

Seorang scorpio-monyet yang sedang menyelesaikan studinya di kedokteran jiwa Jakarta. Dia percaya bahwa “hidup di masa sekarang” selalu menjadi elemen terpenting dari semua jawaban, dan selalu ada [Tuhan] di setiap nama seluruh makhluk. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s