Perlukah Berubah?

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Soul Sista’ (bukan nama yang sebenarnya)

 

Namaste,

I love dogs.

Bisa memelihara anjing adalah impianku yang masih belum terwujudkan.

Melihat foto-foto anjing di internet bisa menghiburku di saat-saat aku sedih atau BT.

Dan, akhirnya…salah satu saluran tv pada tv kabel berlangganan menayangkan serial The Dog Whisperer. Serial ini pun langsung menjadi salah satu acara tv kesukaan kami di rumah. Pria yang mempunyai bakat sebagai dog whisperer ini bernama Cesar Millan. Sejak kecil ia selalu dikelilingi oleh anjing. Mungkin, itu sebabnya ia bisa begitu memahami anjing.

Tetapi, yang membuatku mencintai serial ini bukan hanya karena ‘bertebaran’ anjing-anjing lucu di dalamnya. Sebetulnya, tidak bisa dibilang lucu-lucu juga sih, karena anjing-anjing yang bermasalah itu cukup menakutkan. They bite, you know, even to the owner.

Menurut Cesar Millan, anjing-anjing peliharaan kita merupakan cerminan dari energi kita…cerminan dari our state of mind. Jika si pemilik memiliki energi atau state of mind yang tidak stabil atau tidak seimbang, yang berlawanan dari state of mind love atau joy, maka hal itu akan dapat terlihat dari tingkah laku si anjing.

Misal, jika si pemilik tidak mempunyai kepercayaan diri atau keyakinan terhadap diri sendiri yang cukup besar, yang berarti kurangnya self-love, maka anjing peliharaannya lah yang akan menguasai rumah itu. Ia akan bertingkah laku semaunya, susah diatur dan si pemilik akan terus menerus dikontrol oleh keadaan itu. Dan, bisa saja lama kelamaan, si pemilik akan kehilangan kontrol atas rumahnya sendiri kalau tidak bisa menyadari masalah yang tersirat.

Cesar Millan merasa bahwa dalam pekerjaannya sebagai dog whisperer, ia tidak hanya merehabilitasi si anjing. Sebetulnya ia juga membukakan mata, hati dan pikiran si pemilik bahwa mereka juga harus berubah. Tidak bisa hanya dari satu pihak. Harus ada kerjasama dari kedua belah pihak. Membuatku jadi teringat dengan apa yang pernah dikatakan Mahatma Gandhi, “You must be the change you want to see in the world.”

Dulu, aku selalu berpikir bahwa suatu hubungan antara dua manusia, lebih tepatnya hubungan percintaan, dapat berhasil apabila kita dapat merubah pasangan kita menjadi lebih baik. Hmm…menjadi lebih baik…? Lebih baik dari apa? Dari siapa? Lebih baik dari dirinya yang dulu pastinya. Judgmental enough, huh?!

Cara berpikirku itu seakan-akan ingin mengatakan kepada dunia bahwa aku lebih baik dari pasanganku. Dan, jika mereka berhasil menjadi lebih baik dari diri mereka yang dulu, maka orang-orang pasti akan kagum dengan diriku. Orang-orang akan berkata, “Wah, cewe lo hebat banget yak!”.

Jujur, kalau mengingat-ingat hal itu, agak-agak membuat diriku sedikit mual dan geli. Hahaha… Well…itulah yang terjadi kalau terlalu banyak menghabiskan waktu dengan novel-novel cinta ala remaja dan serial cantik komik Jepang. Way too much, I guess.

Lalu, seperti manusia pada umumnya, agar cara berpikir yang cenderung menyesatkan itu bisa berubah, harus terjadi sesuatu dalam hidup mereka yang dapat mengguncang dunianya. A shock therapy!

Sejak shock therapy’ itu, aku menyadari bahwa kita memang tidak akan pernah bisa merubah siapapun. Aku hanya berharap seandainya aku mengetahui hal ini sejak dulu, mungkin aku bisa menyelamatkan beberapa kasus patah hati dan tidak perlu meninggalkan bekas-bekas luka, baik pada diriku sendiri maupun pada pasanganku.

Pencerahanku tidak hanya berhenti disini. Ternyata, kita memang bisa merubah orang lain. Yes! Dapat pembenaran!

Eits…tunggu dulu…tidak semudah itu tentunya. Kita memang bisa merubah orang lain, tetapi kita harus bisa merubah diri kita sendiri dulu.

Aku yakin kita semua menyadari bahwa merubah diri kita sendiri itu bagaikan suatu perjuangan besar yang susah untuk dimenangkan. Tetapi ingat…susah bukan berarti ga mungkin. Banyak kisah-kisah nyata kehidupan orang lain, yang diangkat menjadi film, buku, dsb dimana mereka berhasil memenangkan perjuangan itu.

Di dalam perjalanan hidup setiap individu, semua pasti pernah berpapasan dengan berbagai macam karakter atau sifat manusia yang berbeda-beda. Kadang hanya berpapasan, tetapi terkadang mereka hadir dan tinggal dalam waktu yang cukup lama dalam hidup kita masing-masing.

Salah satu pengalaman yang cukup berkesan bagiku adalah ketika menghadapi seseorang yang menyimpan amarah begitu besar dalam dirinya, sehingga ia sangat reaktif dan sensitif. Dari yang aku amati, individu-individu yang memiliki kecenderungan pemarah dan reaktif adalah mereka yang mempunyai ego yang besar. Pada dasarnya mereka bersembunyi dibalik egonya untuk melindungi hati mereka dari rasa sakit. Karena, sebetulnya, hati mereka sangatlah lembut.

Mereka ‘memilih’ untuk menjadi seorang pemarah karena itu adalah salah satu cara yang mereka tahu untuk bisa survive, untuk menutupi kekurangan-kekurangan mereka. Yup, mereka adalah manusia-manusia yang sangat insecure. Well, but who doesn’t anyway.

Darinya, aku ‘berkaca’ bahwa ternyata aku sebetulnya juga menyimpan amarah yang besar dalam diriku. Amarah dari luka-luka batinku sejak kecil.

Jujur, aku sangat sedih ketika mengetahuinya. Bahwa aku masih belum bisa memaafkan sepenuhnya apa yang sudah terjadi. Bahwa luka-luka ini masih belum sembuh seutuhnya. Mungkin itu alasan Alam Semesta mengirimkan dirinya ke dalam hidupku.

Cesar Millan pernah berkata, bahwa kita akan selalu mendapatkan anjing-anjing yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Anjing-anjing itu hadir untuk mengajarkan kita hal-hal yang selama ini tidak kita sadari ada pada diri kita, seperti grieve, anger, fear, dsbnya. I guess it’s the same thing with human beings.

Lalu, tibalah saat dimana aku harus bisa tetap teguh bagaikan karang, agar tidak menjadi reaktif, dalam menghadapi amarahnya. Aku duduk diam memandangnya dan mendengarkan semua kata-kata yang keluar dari mulutnya, yang menunjukkan betapa marahnya ia padaku.

Sebetulnya ia tidak marah. Ia hanya khawatir. Tetapi karena ia tidak bisa menggali emosi-emosi yang lain dalam dirinya selain rasa marah, maka yang keluar hanyalah marah-marah.

Aku pun mengatur ritme nafasku agar tetap lambat. Seperti kita ketahui, ketika kita ketakutan atau marah, dsb, ritme nafas kita cenderung menjadi lebih pendek dan cepat. Oleh karena itu, mengatur ritme nafas dapat membantu kita menjadi lebih tenang.

Pada saat yang bersamaan, aku bisa merasakan egoku berusaha menggoda dan memancingku untuk ikut ke dalam permainan egonya…untuk menjadi reaktif. Dan dorongan godaan itu benar-benar kuat. Tapi, aku lebih kuat lagi. Aku harus menjadi lebih kuat lagi atau hal ini tidak akan ada habisnya, yang ada hanya akan “berebut benjol” meminjam istilah yang sering disebut papaku. Dan, aku tidak mau ‘benjol’!

Ada kalimat terapi yang aku pelajari dari buku dan teman-temanku, dan berasal dari Hawaii’s ancient wisdom. Kalimat ini berbunyi, “I love you. I’m sorry. Please forgive me. Thank you.”

Dan, selama ‘sesi’ marah-marah itu berlangsung, aku mengucapkan kalimat terapi itu berulangkali di dalam hatiku. Hal itu tidak gampang untuk dilakukan mengingat aku juga sangat gampang untuk terpancing dan menjadi reaktif. Aku bisa merasakan rahangku menjadi kaku dan kepalan tanganku semakin kuat. Tetapi, ketika kita mendorong diri kita untuk keluar dari comfort zone…keluar dari kebiasaan-kebiasaan lama kita, yang terjadi adalah keajaiban.

Ia menjadi lebih cepat tenang dan ‘sesi’ marah-marah itu pun selesai relatif lebih cepat dari biasanya. Amazing! Benar-benar tidak seperti biasanya! Karena, biasanya egoku akan ikut bermain…merasa tidak terima dimarahi. Sehingga aku juga akan menjadi marah-marah, seakan-akan ingin memperpanjang masalah, yang menyebabkan ‘sesi’ marah-marah itu baru benar-benar bisa selesai ketika masing-masing pihak kehabisan energi. Tetapi, kali ini tidak begitu.

Sejak saat itu, setiap terjadi konflik diantara kami, aku berusaha mengingat kembali keberhasilanku dalam menguasai emosiku pada waktu itu, lalu kuulangi lagi prosesnya. Sehingga, berangsur-angsur, aku menjadi lebih tidak reaktif dibandingkan dahulu, dan ia juga menjadi lebih tidak cepat marah dan reaktif.

Hal itu tentu saja tidak mudah untuk dilakukan. Terkadang aku masih suka terpancing dan menjadi reaktif, tetapi kita semua pun tahu kalau perubahan tidak seperti membalikkan telapak tangan. Itu semua membutuhkan proses dan keteguhan hati.

Sekarang, tidak ada lagi alasan bagiku untuk play the blaming game. Kitalah yang memegang kontrol. Kita tidak bisa mengontrol orang lain dan lingkungan kita untuk berubah. Tetapi, kita bisa mengontrol reaksi kita terhadap orang lain dan lingkungan kita. Dan, ketika kita berubah, maka orang lain dan lingkungan kita pun ikut berubah…termasuk anjing-anjing peliharaan kita sekalipun.

P.S: Moral of this story is…go get yourself a dog! :p Just kidding! 😉 

_________________________________________________________________________________________________________________

This Soul Sista’ loves to read, write, eat, travel, and to enjoy a cup of coffee…and yeah…dogs!

I also do some cards reading by online, if there’s anybody interested, just contact me:

Email: thesoulsista@ymail.com / YM! thesoulsista

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s