Kenapa Jalan-jalan?

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Parahita Satiti

 

“Kamu jalan-jalan terus ya?”

“Bulan ini jalan-jalan kemana lagi?”

“Uangmu habis buat jalan-jalan ya?”

Itu sebagian kecil pertanyaan yang sering mampir ke telinga terkait dengan hobi saya. Ya, hobi saya memang jalan-jalan. Kemana saja (ups, asal jangan naik gunung!), dengan siapa saja, namun karena saya pekerja 9to5, tentu saja tidak bisa jalan-jalan kapan saja saya mau.

Hingga suatu saat, ada teman yang bertanya “Kenapa kamu suka sekali jalan-jalan?”

Menurut saya, punya hobi jalan-jalan, sama saja dengan punya hobi lainnya. Merajut, memasak, berkebun, otomotif, merakit peralatan elektronik, bersepeda, membaca buku. Apa saja.

Sama-sama menghabiskan uang, iya. Kadang kala justru bisa menghasilkan uang, iya. Memberi rasa puas dan terhibur, pastinya.

Lalu apa yang begitu spesial sampai saya rela menghabiskan uang untuk jalan-jalan?

Pengalaman.

Satu kata tersebut yang membuat saya jatuh cinta dengan traveling.

Pengalaman terkena badai dalam perjalanan antara Pulau Peucang menuju Desa Sumur Jaya, di Ujung Kulon. Kapal terombang ambing terkena angin, baju basah kuyup oleh air hujan, dan badan menggigil kedinginan hingga satu-satunya hiburan adalah mengkhayalkan makanan, baju kering dan selimut hangat. Namun kami semua –saya dan ke 24 teman seperjalanan- masih bisa tertawa bahagia, menertawakan celetukkan konyol kami masing-masing.

Seperti saya sebutkan di atas, sama mau jalan-jalan kemana saja, asalkan tidak naik gunung. This b*tt aint made for hiking, baby! Cukuplah pengalaman mendaki bukit Sikunir di dataran tinggi Dieng, demi sepotong sunrise muncul diantara gunung Merapi, Merbabu dan Sindoro menjadi pengalaman sunrise terindah bagi saya. Mungkin suatu saat nanti, keyakinan saya berubah, dan saya tiba-tiba ingin naik gunung. Who knows…

Bertemu dengan berbagai macam teman menjadi pengalaman yang tak kalah seru. Ada teman yang berjumpa sejak awal saya jalan-jalan, dan tetap bersahabat hingga sekarang, tidak hanya untuk urusan traveling saja. Ada sekelompok teman, yang sangat jarang bertemu di kehidupan sehari-hari, namun justru menjadi seperti keluarga saat berjumpa. Ada teman-teman yang saking intens-nya kami menyiapkan suatu trip (dari 6 bulan sebelum berangkat), sampai hafal siapa sedang PMS dan giliran siapa berikutnya. Teman datang dan pergi, itu sudah hukum alam. Jalan-jalan, akan mengungkapkan watak asli seseorang, saya sangat percaya akan itu. Dan ketika kita menyadari kita memang tidak cocok berteman, apa lagi yang harus kita lakukan selain merelakan?

Ah, saya mulai terdengar sok bijaksana.

Mari berbagi kembali soal pengalaman yang menyenangkan.

Cavetubing, rivertubing, rafting, mandi di sungai, almarhum kakek saya pasti akan geleng-geleng kepala kalau tahu cucu perempuannya ini suka sekali dengan aktivitas itu. Hmmm… siapa suruh dulu waktu kecil aku dilarang main di sungai, Mbah? Coba kalau dari kecil saya boleh main di sungai, pasti saya bisa berenang.

Saya pernah lihat lumba-lumba, penyu, dan manta ray. Itu semua ada di Sea World! Iya, tapi saya lihat mereka di rumah mereka; lautan luas. Dan tolong kembali diingat, saya bukan diver, saya bahkan tidak bisa berenang tanpa bantuan fin. Betapa beruntungnya saya bisa menyaksikan hewan-hewan laut itu. Kalau saya yang renang saja ga bisa lurus sudah bisa dapat pengalaman seru melihat mereka, apalagi yang bisa menyelam ya? Pasti jauh lebih seru!

Hingga suatu saat cita-cita saya melihat aurora borealis terwujud, pernah menyaksikan taburan bintang di Teluk Kalong, Taman Nasional Pulau Komodo – Rinca, sudah cukup buat saya. Tidak apple to apple memang membandingkan keduanya, saya tahu… Seumur hidup, saya belum pernah melihat langit bertabur bintang, sebanyak malam itu. Sayangnya badan letih setelah seharian trekking di Pulau Rinca, snorkeling dan bermain lompat-lompatan di pantai cantik Pink Beach, juga akibat sebutir pil yang mengandung dimenhidraminat 50mg, saya tertidur pukul 10 malam itu. But yes, it was the best night of my life, so far!

Tiga minggu lagi, bersama 9 teman , saya akan jalan-jalan ke Pulau Weh. Kalau nanti masih ada yang bertanya kenapa saya suka jalan-jalan, pasti akan saya ceritakan bagaimana rasanya menyentuh titik paling barat Indonesia.

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Parahita Satiti

Perempuan cengengesan, packing-freak, dan tidak keberatan tidur di pojok bandara yang gelap dan kotor, demi menghemat uang penginapan.

Advertisements

7 thoughts on “Kenapa Jalan-jalan?

  1. Karena berawal dari puncak sikunir, saya malah suka mendaki gunung… 😀
    Bolehlah dicoba mba Titi, who knows 🙂
    Berada di gunung itu seperti berada di bumi dibelahan yang lain… Amazing…

    • Thanks, Idepp! Blog mu juga keren… Kamu tinggal di Lombok? visited Lombok a couple years a go, pengen balik lagi liburan kesana. Dan mudah2an kesampaian trekking sampai ke Sembalun. 🙂
      Salam kenal juga,
      –Titi–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s