Menjanda

 

Tulisan in merupakan kontribusi oleh Astrid Claudia

 

Bunyinya cukup menakutkan?

Ha ha..baru dengar sudah takut, bagaimana yang sudah jadi janda betulan? Pernah terpikir bagaimana perasaan mereka yang hidup dengan label ini?

Menduda jauh lebih mudah daripada menjanda.  Tidak percaya? Lihat sekeliling anda. Duda dengan lebih mudah menikah lagi. Lebih ditolerir. Apalagi kalau duda ditinggal mati. Langsung laris.

Bagaimana dengan menjanda? Janda ditinggal mati masih lumayan. Yang menjanda akibat cerai, apalagi kalau masih muda, habis dicibir.

Tidak bertingkah macam-macam, sudah distempel duluan.

Berdandan menor sedikit, dibilang kepingin cepat laku.

Baik-baik dengan teman pria (lajang), disangka kegenitan.

Baik-baik dengan teman pria (beristri), katanya gatal amat sama laki orang.

Sendirian terus, dibilang susah laku, pilih-pilih.

Melamar kerja, yang diingat orang status jandanya, bukan isi wawancara dan resume-nya.

Bagaimana dengan janda yang harus menanggung anak-anaknya? Selain tekanan masayarakat tadi, mereka masih harus memikirkan bagaimana anak-anaknya hidup, mengisi kekosongan figur ayah untuk mereka, dan juga, menjelaskan kepada anak-anak mereka kenapa; dia harus sendirian membesarkan mereka.

Belum lagi menghadapi orang-orang yang merasa lebih tahu kenapa mereka menjanda daripada yang jadi janda sendiri. Berspekulasi. Berteori. Berapriori.

Kata siapa masayarakat Indonesia bisa menerima perempuan janda dengan lapang?

Saya tidak bermaksud menakut-nakuti. Tapi itulah yang saya lihat.

Dan lebih menyakitkan lagi, kalau semua himpitan sosial itu justru kebanyakan datang dari kaum Hawa sendiri.

Kenapa? Bukankah janda itu juga wanita? Dia hanya kembali sendirian. Kembali lajang.

Kembali lajang bukan berarti menjalang. Bukan berarti mereka bisa dimanfaatkan atas status mereka.

Tidak satu pun dari para janda itu yang menginginkan keadaan mereka seperti itu. Walau mungkin pernikahan mereka cuma berumur sehari.

Keadaan memaksa. Takdir berkehendak.

Mereka juga masih punya harga diri.

Bahkan mungkin jauh lebih tangguh daripada kebanyakan wanita lain. Karena mereka harus berjalan diatas cibiran, prasangka, dan tuduhan-tuduhan tak beralasan yang dialamatkan pada mereka.

Mereka lebih sanggup menelan air mata bulat-bulat.

Mereka harus bisa pura-pura tidak dengar semua desas-desus yang berhembus di balik punggungnya.

Mereka harus tetap tegar, demi orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada mereka, terutama anak-anaknya.

Kenapa?

Apa kalian fikir keluar dari sebuah pernikahan itu mudah?

Apa kalian fikir mengakhiri sebuah janji dihadapan Tuhan itu semudah membatalkan perjanjian jual beli mobil? Tidak jadi uang kembali??

Apa kalian fikir dipisahkan oleh maut dari pasangan hidup kalian itu seperti kehilangan anak kucing?

Apa semua hal itu mudah untuk dilakukan seorang wanita?

Tidak. Wanita, seperti kodratnya, lebih banyak memakai perasaan daripada rasio.

Sekarang, untuk sebuah makhluk yang berperasaan, enakkah hidup menjanda?

Tidak. Sama sekali.

Dengan semua tekanan budaya dan sosial yang ada di masyarakat kita; tidak sama sekali.

Dengan cara berfikir masyarakat kita yang lepas landasnya setengah-setengah; tidak sama sekali.

Dengan kebanyakan masyarakat kita yang ternyata diam-diam masih feodal dan sok priyayi; tidak sama sekali.

Jadi, wanita-wanita yang masih menjanda hingga kini, saya yakin mereka bukan perempuan lemah.

Mereka punya kekuatan untuk keluar dari sebuah fase kehidupan bernama perkawinan, mereka pasti diberi kekuatan lebih untuk menghadapi semua kegilaan yang dilemparkan pada mereka.

Menjanda bukan hanya sekedar kata bagi sebagian wanita.

Menjanda adalah kehidupan mereka.

Dan bukan untuk bahan cibiran atau mainan.

Mereka tahu itu. Dan sebaiknya, semua orang tahu diri juga.

Itu juga bisa terjadi pada anda.

_________________________________________________________________________________________________________________

Astrid Claudia, tidak merasa cocok dibilang kreatif, “banyak maunya” bisa lebih tepat untuk dia. Buat dia hidup adalah misteri, teka-teki, labirin, dan juga penuh keajaiban. Selain menyukai buku dan tulisan, dia sangat menyukai musik, dan menjadi penyanyi karaoke yang jauh dari profesional. Earphone hampir selalu nyantol di kupingnya. Sehari-harinya seorang tax analyst, tapi dia tidak begitu hobi membicarakan pekerjaannya diluar jam kantor. Email: astrid.claudia@hotmail.com. Twitter: @tidtud.

Advertisements

5 thoughts on “Menjanda

  1. Ciayoooo, Trid…perduli setan dengan apa kata orang, lu mau sedih atau tertawa akan ada saja orang yg menganggap salah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s