Mauliate. Matur Suksema. Sauweghele. Sakalangkong. Terimong Gaseh Beh….*

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Parahita Satiti

 

Cornelia, seorang teman asal Jerman, dalam perjalanan kami ke Tanjung Lesung bercerita;

“In Germany, I live in Hamburg, at the northern part of Germany. I think… we, people in the north, have the clearest English accent. Frankly, I barely understand the Deutsch of the southern people. They speak in totally different accent that I have to listen very carefully to understand what they say.”

Ia bercerita seperti itu setelah saya mengira ia berasal dari Inggris, karena dalam bahasa Inggris yang dia gunakan terselip beberapa kata dengan aksen British yang sangat kental.

“Do you mean the Germans in the south have totally different language with the other parts of Germany?” tanya saya dengan penasaran.

“Well, they have some, but not totally different. It’s just their accent that makes me hard to understand what they say. I easily understand people from the west, or the east… but the one from the south…” jawabnya sambil mengangkat bahu, tanda dia menyerah.

Saya tersenyum sambil memikirkan sesuatu, hendak menyampaikan suatu pendapat. Namun sayang, teman yang bertugas sebagai pemimpin rombongan sekaligus pengemudi memutuskan kami akan berhenti untuk makan siang terlebih dahulu.

Pemikiran itu terus mengganggu, hingga saya tak tahan untuk menyampaikannya.

“Cornelia, do you know that Indonesia consists of almost 17,000 islands? I bet you don’t know that Indonesia has more than 1,200 local languages. Even one tribe, let’ say the Javanese, the Javanese in Central Java use a slightly different language with the one in East Java.”

“Wow! Do the 1,200 local languages have something in common? I mean, do you guys easily understand each other’s language?” tanya Oleg, bule satu lagi yang berasal dari Ukraina.

“Off course, no! I think it is impossible for a Sundanese, let’s say, having a conversation with a Bataknese using their own local languages.”

“So how do they communicate each other?”

“Of course using our national language, Bahasa Indonesia. Thanks to our ancestors, they choose Indonesia language as our union-language, in 1928. Way before our proclamation of independence day.”

Lalu makan siang hari itu berlanjut dengan diskusi ringan tentang Bahasa Indonesia. Tentang bagaimana mudahnya mempelajari bahasa Indonesia, karena tidak mengenal ‘tenses’ seperti dalam bahasa Inggris, juga tidak mengenal bentuk maskulin-feminin seperti dalam bahasa Perancis atau Spanyol, dan karena hampir semuanya hanya perlu diucapkan seperti tulisannya, tidak kurang tidak lebih.

Apa jadinya ya jika dulu para ketua organisasi pemuda kesukuan di Indonesia tidak memutuskan untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan saat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928?

Bahasa Indonesia telah menyatukan Indonesia. Itu pasti.

Tuntutan globalisasi, membuat kita mau tak mau harus juga menguasai bahasa internasional, minimal bahasa Inggris.

Lalu apa yang terjadi dengan bahasa daerah? Masihkah kita menguasai bahasa daerah, minimal bahasa daerah asal orang tua kita? Atau mungkin bahasa daerah tempat kita dulu menghabiskan masa sekolah?

Saya lahir di Klaten, Jawa Tengah. Kedua orangtua saya juga berasal dari Klaten. Saya bisa bahasa Jawa sejak kecil. Lalu menghabiskan masa SD di Bekasi, saya belajar bahasa Sunda, meski untuk sekedar mendapat nilai 7 di rapor, mama saya harus ‘nganterin’ ayam panggang ke rumah seorang oknum guru. Saat kuliah di Bandung, karena tuntutan pergaulan, lama-lama saya bisa juga bahasa Sunda, meski hanya yang sederhana dan ga pede kalau harus ngomong panjang lebar.

Mulai bekerja, saya banyak berhubungan dengan orang-orang dari Sumatera Utara dan Sulawesi Utara, hingga saya akrab dengan logat bicara mereka. Saya belajar tentang bicara dengan tegas dari intonasi orang Batak saat berbicara. Tegas, bukan galak. Dan entah bagaimana, saya selalu menemukan sedikit romantisme dari nada bicara orang-orang dari Sulawesi Utara, baik itu orang Manado, Tomohon, Sangir.

Saya seringkali tak bisa menahan senyum setiap kali mendengar orang lain berbicara dalam bahasa daerahnya. Meski saya tidak paham isi pembicaraannya, ada sesuatu yang menggelitik  untuk disimak. Saat traveling, sedapat mungkin saya belajar beberapa kata dalam bahasa daerah tersebut. Kata-kata yang sederhana saja, semacam: mauliate godang (terimakasih banyak, dalam bahasa Batak), atau minimal bisa sedikit logat setempat. Biasanya sih, jurus ini ampuh untuk cepat akrab dengan orang lokal.

Indonesia ini kaya sekali akan bahasa daerah, sayang sekali ya kalau suatu saat satu per satu bahasa daerah itu punah, karena tidak ada lagi yang menuturkannya dalam percakapan sehari-hari.

Kamu bisa berbahasa daerah? Ajari saya bahasa daerahmu ya… Hingga suatu saat saya bisa mengunjungi daerah mu, saya bisa dengan bangga berkata “Saya diajari oleh teman saya bahasa ini…”

 

*kesemuanya berarti sama: terimakasih, dalam bahasa: Batak, Bali, Nias, Madura, dan Aceh.

_________________________________________________________________________________________________________________

Parahita Satiti

Perempuan Jawa yang sering disangka boru Batak. Di ipod-nya banyak tersimpan lagu daerah yang bahkan ia tak tahu apa artinya. Dengan suka cita akan menerima jika ada yang mau mengajari bahasa daerah apapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s