Punya Anak

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Astrid Claudia

 

Punya anak?

Punya pasangan saja tidak malah memikirkan punya anak.

Kalau anda kenal saya dekat, saya adalah orang terakhir yang rasanya anda pikirkan untuk punya anak. Saya jauh dari keibuan. Kadang-kadang saya diledek teman-teman kalau saya ini setengah pria .

Sampai suatu hari, saya iseng mengunjungi sebuah rumah panti asuhan beberapa tahun lalu. Bermain-main dengan anak-anak disitu. Waktu itu tidak ada yang terlalu spesial, senang saja bisa melakukan sesuatu yang lain dengan teman-teman.

Tahun pun berlalu. Saya kembali lagi dengan teman-teman ke tempat yang sama. Mendapati beberapa anak yang kita kenali sudah tumbuh besar. Beberapa diantaranya nampak cerdas, menggemaskan, dan di sisi lain, menyedihkan.

Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya terpikir tentang anak-anak, dan punya anak.

Dari pernikahan saya yang kandas, saya tidak dikaruniai anak, dan pada saat itu, memang tidak berminat. Anak jauh dari pikiran saya. Malah sempat bersyukur tidak punya anak kemarin.

Bagaimana anak-anak ini bisa sampai disini? Di rumah panti asuhan ini?

Ya tentunya karena tidak diinginkan oleh orang tuanya. Ada juga yang orang tuanya tidak sanggup membiayai, lalu dititip, tapi tak pernah diambil lagi. Klise bak sinetron. Tapi ini bukan sinteron. Ini kehidupan nyata.

Anak- anak itu nyata. Mereka sehari-harinya dijaga oleh beberapa pengasuh yang menurut saya, kurang jumlahnya dengan sekian banyak anak-anak disitu. Dan betapa kurang perhatian untuk tiap anak, walaupun mereka menyayangi anak-anak itu.

Anak-anak itu haus perhatian. Memang banyak yang mengunjugi rumah panti asuhan itu. Silih berganti tiap hari. Diantara sekian banyak orang itu, ada yang rutin menyambangi. Saya tahu itu dari mengobrol dengan beberapa pengasuhnya.

Ada anak perempuan yang sudah berkali-kali diadopsi, tapi selalu dikembalikan orang tua asuhnya, karena tidak sanggup menghadapi kenakalannya. Anak ini memang sebenarnya bukan anak biasa menurut saya. Sifat hiperaktifnya membuat dia memerlukan perhatian khusus.

“Kan sudah tahu pastinya waktu mau ngambil…” kata saya.

“Yah, namanya bukan anak sendiri, Mbak.. “ jawab salah satu pengasuh.

Saya yang bingung. Menurut saya, kalaulah kita ikhlas, menerima anak ini, dan memang sudah tahu, kenapa dikembalikan?

Saya memikirkan perasaan anak itu. Dari satu rumah, ke rumah lainnya, dan akhirnya, kembali juga kesini. Dan sepertinya dia bahagia kembali kemari.

Tentu saja. Dia tidak merasakan penolakan di rumah yatim piatu ini. Tidak seperti saat di rumah-rumah tempat dia sempat tinggal, dimana akhirnya, dia merasakan, tidak lagi diinginkan.

Dari lahir sudah tidak diinginkan, ditaruh disini, dan akhirnya merasakan “tidak diinginkan” secara nyata. Anak kecil halus perasaannya, menurut saya. Dan anak-anak ini bukan anak-anak dengan hati yang biasa. Hidup mereka bak singa yang terlahir dengan takdir ada gigi yang ompong selamanya. Perasaan yang menganga itu ada dari sejak mereka menyadari, orang tua mereka tidak ada. Ada, tapi tiada untuk mereka.

Kenyataan yang membuat saya meringis, sedih, sekaligus bersyukur, saya terlahir dengan orang tua lengkap. Dan juga bersyukur, tidak melahirkan anak lain hanya untuk memberikan hidup seperti ini pada anak itu. Saya jadi termenung-menung disitu.

Lalu lewatlah seorang anak laki-laki yang saya kenali dari kunjungan saya yang dulu, dengan tangan bengkak akibat terjatuh. Dia duduk di pangkuan saya, minta ditemani makan, bermain-main dengan kamera ponsel saya (dia pandai bergaya juga ternyata), dan dia tidak mengeluhkan tangannya sedikit juga. Justru saya yang akhirnya bertanya “ Masih sakit tangannya?” Dia cuma menjawab singkat “Masih.” Lau sibuk bermain lagi. Dia tidak terbiasa mengeluhkan rasa sakitnya. Wajar menurut saya.

Yang pasti, anak ini, mencuri hati saya bulat-bulat. Entah kenapa. Yah, memang tidak pernah ada alasan logis untuk menyayangi seseorang kan? Saya, yang berperingai tidak halus, benci dengan suara berisik anak-anak, tiba-tiba betah menemani anak ini. Tiga puluh satu tahun saya hidup, baru kali ini, naluri keibuan saya terusik, hanya karena anak ini mendadak ingin tidur siang di pangkuan saya.

Dan dia memanggil saya “ Ibu”.

Biasa saya hanya dipanggil “ibu” kalau belanja di toko atau oleh telemarketer di telepon. Tapi ini oleh seorang anak kecil yang entah dimana ibu yang melahirkannya. Pastinya bukan saya saja yang dipanggil ibu olehnya. Peduli amat.

Dia yang pertama kali menyentuh hati saya dengan panggilan itu. Sulit untuk menuliskan perasaan saya. Rasanya dua puluh enam abjad yang ada ini tidak sanggup menerjemahkan perasaan saya. Berlebihan? Buat anda mungkin. Buat saya, ini hal yang sangat tidak biasa.

Waktu berkunjung saya habis, dan si kecil ini harus tidur siang. Saya pikir dia kan langsung lari ke kamar meninggalkan saya. Toh saya hanya pengunjung seperti yang lainnya. Tapi dia minta diantar ke depan pintu kamarnya sambil menyeret saya, dan menyalam tangan saya seperti anak yang menyalam tangan ibunya kalau mau pergi. Seperti saya kepada orang tua saya. Menempelkan pipinya ke tangan saya.

Anak itu menemukan sosok ibu pada semua yang mengunjunginya. Bukan…dia mencari sosok ibu. Tapi tak satu pun dari orang yang mengunjunginya tetap tinggal untuk menjadi ibu seperti yang anak-anak lain punya.

Dan karena dia, saya menemukan ada sosok lain dari diri saya. Sosok seorang ibu, yang tidak pernah saya pikirkan sama sekali. Bahkan tidak ketika masih menikah.

Barangkali, sekitar seminggu, tiap malam saya menangis tiap ingat anak itu, dan teman-temannya. Saya memandangi potonya tiap hari, dan ketika saya menuliskan ini, poto di blackberry messenger saya adalah poto saya dengan si kecil ini. Saya merindukan dia saat ini. Dan merindukan perasaan luar biasa yang dia kenalkan pada saya.

Akhirnya saya mengerti, kenapa seseorang ingin punya anak. Bukan sekedar melanjutkan keturunan. Pengertian yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tapi kalau anda seorang ibu, atau seorang ayah, tentunya mengerti perasaan ini.

Seorang anak bisa memberi arti lain untuk seseorang. Sekali lagi, klise bak sinetron. Tapi bayangkan, bagaimana perasaan anda ketika anda tahu anda begitu berarti bagi sebuah makhluk hidup?

Ini tidak sama dengan perasaan ketika anda tahu pasangan anda, atau kekasih anda, atau siapalah, menganggap anda begitu berharga untuk mereka. Ini jauh lebih besar dari itu. Dan sekali ini saya yakin, saya tidak berlebihan.

Perasaan yang luar biasa.

Beberapa di antara kalian mungkin sudah tahu perasan saya seperti apa. Kenapa?

Punya anak.

Mau tahu rasanya.

Silakan.

Punya anak.

_________________________________________________________________________________________________________________

Astrid Claudia, tidak merasa cocok dibilang kreatif, “banyak maunya” bisa lebih tepat untuk dia. Buat dia hidup adalah misteri, teka-teki, labirin, dan juga penuh keajaiban. Selain menyukai buku dan tulisan, dia sangat menyukai musik, dan menjadi penyanyi karaoke yang jauh dari profesional. Earphone hampir selalu nyantol di kupingnya. Sehari-harinya seorang tax analyst, tapi dia tidak begitu hobi membicarakan pekerjaannya diluar jam kantor. Email: astrid.claudia@hotmail.com. Twitter: @tidtud.

Advertisements

One thought on “Punya Anak

  1. ini yg anak kecil di pp bbm waktu itu ya? gw kira sodara lo makanya gw pikir, tumben lo mau main2 sama anak kecil, biasa kan ga sabaran :p
    ternyataaaa…. mengharukan kisahnya… can’t wait to read more of your writing 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s