Independent Woman

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Michelle Walewangko

 

“Kasian amat, emang ga punya temen yah sampe lo nonton di bioskop sendirian?’

“Kog bisa sih lo, makan sendirian di restoran gitu? Ih kalo gue sih, amit-amit, berasa desperado amat, mending beli, bungkus makan di rumah aja deh daripada terpaksa makan sendirian”

“Kasihan banget sih lo, masa jalan-jalan ke luar kota sendirian gitu, emang gak ada yang bisa nemenin?”

Bukan hanya sekali dua kali teman-teman saya berkomentar demikian. Saya yang sempat mikir, memang salah ya kalau kita melakukan berbagai aktivitas sendiri? Memang kita harus ke mana-mana rame-rame atau harus ada teman supaya dapat beraktivitas?

Kalau saya sih, pas lagi jalan-jalan di mall (sendiri) misalnya, eh mendadak laper, ya udah, masuk restoran, pesan, makan, bayar, pulang. Gak ada yang salah kan? Laper ya makan gitu. Saya sih cuek aja, gak ada tuh pikiran, tar apa kata orang lain, kog kasian amat cewek makan gak ada yang temenin.

Memang sih, ga semua restoran juga yang saya pe-de masuk ke sana sendirian, misalnya di fine-dining resto atau yang tipe-tipe tempat orang nge-date gitu, yah mati gaya sih kalau diantara berbagai pasangan yang sedang kencan eh ada saya yang bengong luntang-lantung sendiri. Tapi mayoritas dari warung kaki lima, food court dan resto standar lainnya, saya sering nyantai aja tuh makan di sana, ada temennya boleh tapi sendirian juga, siapa takut?

Selain makan, saya juga hobi nonton film. Kalau lagi ingin nonton film di bioskop (misalnya film action, itu kan enaknya  nonton di bioskop, sound system-nya keren lah dibanding nonton DVD di TV rumah).  Saya dulu sering juga nonton bareng temen-temen saya, tapi gak jarang juga, karena satu dan lain hal, saya nonton sendirian aja di bioskop. Misalnya, film yang saya ingin nonton, teman-teman ga ada yang tertarik – ya udah kita pisah theater aja. Atau di hari kerja, sepulang jam kantor, sambil nunggu macetnya jalanan sedikit mereda, saya lihat ada film apa yang menarik, kalau oke ya udah saya beli karcis lalu enjoy aja nonton sendirian.

Mayoritas teman-teman saya gak ada yang seperti ini, ada sih 1 atau 2 aja yang berprinsip seperti saya. Mereka ngerasa ’pathetic’ banget sih, kayak segitu gak ada temennya aja sampai ’kencan’ (di malam minggu makan dan nonton) dengan diri sendiri gitu? Ah, kalau prinsip saya mah terbalik. Kalau saya mau makan, pas ga ada temen, – terus mesti nahan lapar gitu? Ya enggak lah, mending makan. Pas mau nonton, eh pas ga ada temen – terus mau nunggu sampe ada temen gitu? Yah, filmnya keburu turun (gak diputar di) bioskop nanti.  Pas saya mau pergi, ga ada yang temenin, terus saya mesti ngendon mingkem aja di rumah gitu? Makasih dah, mending saya pergi sendiri, bebas, mandiri.

Saya juga suka banget jalan-jalan. Dulu sempat, hampir di setiap liburan atau cuti kantor, saya pergi ke luar kota. Sekedar refreshing menjauh dari suasana hiruk pikuk kota Jakarta. Saya pertama kali pergi ke luar kota sendiri saat baru lulus SD. Saya ingat naik kereta sendiri, dari Jakarta ke Bandung. Walau selama di Bandung saya tinggal di rumah saudara tapi selama di kereta, penumpang yang duduk sebelah saya sempat heran, ada anak baru mau masuk SMP kog berani pergi sendirian.

Jaman dulu orang juga masih jarang naik pesawat terbang, karena tiket mahal. Kalau gak perlu banget, mereka lebih pilih naik kereta api atau mobil dengan pertimbangan harga. Tapi beruntung saya dulu sering mendapat tiket pesawat murah, bahkan gratis (karena orang tua ada yang bekerja di salah satu maskapai penerbangan nasional). Jadi bukan sekali, dua kali, saya pergi ke luar kota sendirian. Biasanya ke Surabaya, tempat Opa-Oma dan Om-Tante tinggal. Jadi saya ’sendirian’-nya selama penerbangan saja. Seperti biasa, saat diajak obrol sama penumpang di sebelah, mereka bingung, kog anak SMP (dan saat saya SMA), perempuan pula, berani pergi sendiri jauh-jauh.  Wah, adek saya (cowok) malah lebih muda lagi, dari SD kelas berapa tuh, pas kelas 3 SD kali ya, udah dikirim pergi sendiri naik pesawat ke luar kota.

Pengalaman saya pertama kali benar-benar berlibur berhari-hari di luar kota sendiri saat SMA kelas 2. Oke saya memang pergi-nya bareng Mama yang sekalian tugas kantor di Bali. Tapi kemudian Mama pulang duluan ke Jakarta setelah 1 atau 2 hari gitu. Lalu selama 3 atau 4 hari-nya lagi saya benar-benar sendiri di Bali (sampai Adek saya minta nyusul karena dia iri kog saya liburan dia ditinggal di rumah? Haha).  Ngapain aja di sana? Yah, macam-macam. Paling baca buku sambil leyeh-leyeh berjemur matahari, berenang, snorkeling, bengong-bengong bego di pantai, makan, tidur, ya gitu deh.

Jalan-jalan sendirian memang bikin kecanduan. Daripada ’terpaksa’ pergi dengan teman-teman yang gak klop, saya sih lebih senang pergi sendiri. Misalnya teman saya lebih suka keluar masuk pusat perbelanjaan, lebih suka wisata belanja, sedangkan saya lebih suka wisata kuliner dan budaya, ya mending kita pisah aja deh, pergi sendiri-sendiri.

Setelah kerja, saya masih beberapa kali pergi ke luar kota, keliling pulau Jawa, bahkan ke luar negeri sendiri. Tapi ya tergantung daerahnya juga. Saya pergi ke tempat yang kira-kira aman dan nyaman untuk ’female solo traveler’. Saya juga membekali diri dengan informasi tentang lokasi yang saya tuju dan walau kelihatan santai tapi tetap waspada di sepanjang perjalanan.

Syukurlah memang saya gak pernah mengalami kejadian yang bikin kapok, misalnya jadi korban kejahatan (amit-amit semoga gak pernah). Tapi pengalaman ’ditawar’ orang pas bengong di pantai (disangka ’mejeng’ kali ya) pernah! Ada-ada aja.

Jadi orang jaman sekarang, jangankan cowok, jadi cewek aja, musti mandiri. Jangan mau tergantung sama orang lain.  Kalau apa-apa tergantung sama orang lain, mesti ditemenin, jadi kalau ga ada siapa-siapa jadi gak berkutik, gak bisa apa-apa , gak bisa ke mana-mana.  Males banget kan?

“You can be alone but do not feel lonely but you still can be lonely even in a crowd that is your call.”

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Michelle is a foodie who is not fond of cooking. Her ideal job would be like Samantha Brown’s or Andrew Zimmern’s from TLC, to travel around the world, eat good food, and meet people; however on the weekdays she’s stuck at her cubicle from 9 to 5. She loves reading but doesn’t have enough confidence to write her own stories, or publish it. Psychology, Interior Design, Foreign Language and Culinary are her interests. Stay in touch with her at: Facebook: michelle.walewangko / Twitter: @mwalewangko / Tumblr: mwalewangko

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s