Demam India

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh T. Maritza

 

Sudah sekitar satu tahun ini saya menderita “penyakit” ini, “penyakit” demam gak jelas kalau melihat segala sesuatu yang bertemakan India. Baik musiknya, tarian, film, makanan bahkan kalau di jalan ketemu atau lihat orang India lewat pasti jadi senyam-senyum gak jelas…hahaha…dan yang terbaru kejadiannya adalah tadi malam, saat sedang jalan santai dengan sahabat saya, sejak siang kami janjian ketemuan, makan siang bersama, janjian ketemu di salah satu rumah makan India di kawasan Kuningan, Jakarta. Mungkin karena frekuensi berkunjung saya cukup sering di rumah makan itu, kali ini kokinya sampai khusus keluar menyambut dan menanyakan, apa sudah pesan makanannya, padahal supervisor dari restaurant tersebut mencatatkan pesanan kami. Makan sambil bertukar cerita, saya suka melakukannya. Meja makan memang kerapkali mendekatkan kita dengan orang lain. Melihat pemandangan keluarga berkumpul makan sambil berbagi cerita di meja makan, keceriaan anak-anak di meja makan, kehangatan suami dan istri, sepasang kekasih atau kakek-nenek dan cucu ataupun sahabat seperti yang kami lakukan kemarin,..berkumpul, makan dan berbagi cerita terasa menghangatkan sanubari sekali ditengah-tengah geliat kota yang semakin individualistis ini.  Eh, kok jadi kesini ceritanya… Ok, so kembali ke demam India. Di rumah makan India yang lain, yang berlokasi di kawasan M.H. Thamrin, setelah beberapa kali kunjungan, saya sempat dikira sesama orang India.

Seingat saya, saya mulai merasakan “demam” dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan India sejak jumpa dengan seorang teman, Sebut saja, Raj namanya (bukan nama sebenarnya). Perkenalan biasa, karena saat itu saya akan ke Singapore dan perlu tahu tentang tempat-tempat yang perlu dikunjungi karena keberadaan yang singkat, hanya 2 malam disana. Sehingga sehari sebelum berangkat, saya kembali mencoba masuk ke dunia cyber mencari informasi dengan menuliskan di channel chat, menjelaskan tentang keperluan saya. Tidak disangka, saya lalu mendapat tanggapan dengan segera dari Raj dan tidak hanya menjelaskan dengan baik, dia juga menyertakan foto dirinya dan kami pun bertukar nomor telepon dan setelah chat selisih 1 hari, saya dan adik pun berangkat ke Singapore dan ternyata disana, Raj  benar-benar menyambut kami dengan baik. Perjumpaan kami ibarat saudara yang sudah lama tidak jumpa padahal ini merupakan pertemuan pertama, mulai dari menjadi tour guide hingga menemani belanja (dengan senang hati tanpa komplain sedikit pun, wahai sudara-saudara!) dan mentraktir makan mulai dari pagi hingga malam, Raj pun tidak segan membuka dirinya memperkenalkan tentang darimana Ia berasal dan kebudayaannya, serta dengan ringan tangan sedia membantu kami, orang yang baru dikenalnya, membuat saya seperti menemukan seorang Malaikat di tengah tempat yang asing. Ia pun bercerita dengan keluarga, pekerjaan dan secara tidak sengaja, saat sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, kami berpapasan dengan bos-nya, Raj tidak segan memperkenalkan kami kepada bosnya sebagai teman dari Jakarta dan sekarang walau sudah satu tahun belum berjumpa secara fisik, tidak jarang ia menanyakan kabar melalui e-mail ataupun sesekali menelepon.

Sejak pertemuan itu, semakin saya menyukai segala sesuatu tentang India. Mulai dari mempelajari map, sampai kepada jenis-jenis musik, bagaimana beda antara musik Punjabi, dan bahasa-bahasa yang digunakan pun sangat beranekaragam. Malayalam, Telugu, Marathi, Hindi, Tamil, dst…dst…yang oleh orang umum semuanya terdengar sama yakni bahasa India atau musik India atau lagu India. Padahal betapa kaya, unik dan beranekaragam kebudayaan mereka. Saya belum bisa berbicara dalam bahasa Hindi ataupun Tamil, tetapi saya senang membuka Youtube sekedar untuk melihat film baik dalam bahasa Hindi maupun Tamil. Film lama yang berjudul Bombay adalah salah satu film kegemaran saya. Judul dari film-film yang saya tonton biasanya muncul dari pencarian di Youtube jadi tidak dengan sengaja saya mencari judul tersebut.

Pada suatu kesempatan, saya menghabiskan Jumat malam di depan Youtube, film yang menurut saya menggugah hati sehingga saya menontonnya dengan serius, tanpa sadar adik saya pulang kantor dan memberi salam, karena penasaran salamnya tak berbalas karena saya nampak serius di depan laptop, akhirnya dia pun ikut melihat apa yang sedang saya tonton.. “O, Mak! Film India!” serunya… “Astaga! Terjemahannya mana? Kok gak ada terjemahannya?” lanjutnya.. “Busyeeet, emang loe ngerti?! …Kok pake nangis-nangis segala?!”, dari pertanyaan, berubah menjadi gelak tawa. Tidak mau ketinggalan, saya jawab “Loe nontonnya pake hati, dong… ini ceritanya bla bla bla bla”… sambil saya menjelaskan secara singkat film tersebut. “Itu asli kayak gitu ceritanya, atau versi loe?” jawabnya meledek. Dari mata yang masih sembap karena jalan cerita yang mengharukan, berubah jadi gelak tawa.

So, kembali ke cerita saat saya bersama sahabat saya. Usai kami makan siang, kami beranjak, jalan-jalan diseputaran Kawasan Kuningan untuk karaoke dan jalan santai, sesekali mengambil foto sebagai kenang-kenangan dan pada saat sahabat saya hendak mengambil foto saya yang siap bergaya, braaak! Tiba-tiba di samping saya ada orang India yang lewat..sempat tersenggol, tetapi kemudian dia tersenyum dan beberapa kali melirik dengan tetap tersenyum ke arah kami. Alamaaak! Mendadak, di telinga ini tiba-tiba kedengaran musik intro lagu “Kuch Kuch Hotta Hai”, syukurnya disana gak ada pepohonan rindang atau tiang-tiang yang berdiri kokoh di pinggir saya, atau kain selendang yang ngedadak jatuh dari langit, (atau entah darimana) kalau tidak, bukan tidak mungkin jika tahap berikutnya adalah saya menghayal menjadi Kajol! (*tatapan mata polos*)

Perjumpaan dengan Raj, menghantar saya berkenalan dengan beberapa orang India di Jakarta. Tidak banyak memang, hanya 4-5 orang tetapi melalui mereka, saya dapat belajar hal-hal baru, mulai dari memasak menu India sampai terkadang mendengarkan kisah mereka tentang keluarga dan pergumulan hidup mereka yang oleh karena mencari nafkah, harus terpisah dari negaranya dan orang-orang yang dikasihinya. Dari mereka, saya diajar untuk melihat ketekunan dalam berusaha dan berhemat (bukan pelit, loh!) Kebaikan Raj mengingatkan saya untuk setidaknya berbagi waktu dan perhatian dengan orang-orang baru yang Tuhan izinkan hadir dalam hidup saya. Mengajarkan bahasa Indonesia secara sukarela adalah hal yang saya suka, karena mengajarkan bahasa hingga akhirnya mereka paling sedikit sudah dapat berinteraksi untuk percakapan sehari-sehari, membuat saya ikut merasakan kebahagiaan yang tidak ternilai harganya.

Salah seorang teman India saya yang oleh karena Ibunya menderita kanker stadium lanjut, terpaksa harus kembali ke India, meninggalkan pekerjaannya untuk melayani sang Ibu. Sebut saja namanya Vijay, hanya tiga bulan saya mengenal dia, membantu dalam bahasa dan tidak disangka-sangka, saat ia hendak kembali ke India, beberapa hari sebelumnya ia memanggil saya datang ke rumahnya, ternyata ia telah mengumpulkan barang-barangnya mulai dari alat-alat masaknya, bumbu-bumbu sampai kepada selimut kesayangannya, semua dibungkus dengan rapi dan diberikan kepada saya sebagai kenang-kenangan. Oleh karena Vijay senang memasak, ia tidak suka melihat saya lebih suka berkunjung ke rumah makan atau kedai dekat rumah, ia sering menasehati saya untuk berhemat, menyisihkan uang untuk masa depan karena belajar dari apa yang ia hadapi, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti oleh karena itu sebisa mungkin hindari pos pengeluaran yang  tidak perlu.

Lain lagi dengan sebut saja, Srinivasan, seorang pendidik yang begitu ambisius dan ingin segala sesuatu perfect, walau usianya lebih muda dari saya, ia memandang hidup dengan sangat serius. Ia adalah orang yang sangat antusias dalam belajar bahasa. Pada suatu ketika, saya melihat telapak tangannya dan berkomentar bahwa telapak tangannya terasa kasar. Ia pun menceritakan kisah perjalanan hidupnya, anak pasangan petani dari daerah di India bagian Selatan, mereka hidup susah sejak Sri (demikian ia dipanggil) kecil, ia selalu dilibatkan membantu orang tuanya bekerja di sawah dan ladang. Oleh karena itu ia mencari kesempatan belajar setinggi-tingginya dan bekerja dengan serius agar nanti kedua orangtuanya di masa tua dapat hidup bahagia. Mendengar kisahnya, timbul perasaan kagum dan haru, tidak terasa saya menitikkan air mata.

Kehidupan mempertemukan saya dengan orang-orang seperti Raj, Vijay dan Sri.  Baik dari Utara maupun Selatan, mereka sama-sama dari India. Mereka ikut memberi warna dalam pengenalan saya akan budaya dan tempat kelahiran mereka dan …Hhmm…bukan tidak mungkin, mereka juga ikut berperan dalam menimbulkan “sakit” demam India yang saya alami sekarang ini.

Oh Dear!…

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

T. Maritza : Pecinta keluarga, keheningan, dan kreativitas. Suka masak gara-gara suka makan dan percaya bahwa dalam setiap adegan perjalanan hidup manusia, selalu ada musik yang cocok untuk jadi soundtrack-nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s