Perenungan di Minggu Sore

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh T. Maritza

 

Terkadang seseorang tanpa sadar melakukan hal-hal yang tidak masuk akal karena terikat oleh kebiasaan buruk. Bahkan ditengah kondisi ekonomi yang krisis, hal-hal tersebut tetap diberlakukan. Tukang ojek langganan saya pernah curhat, “Sekarang ini cari uang susah banget, sementara semua kebutuhan pada naik”. Menurut sebuah survei yang pernah saya baca, (mengambil tempat di Jakarta) bahwa seorang pemulung mendapatkan uang hasil kerjanya sehari sebesar Rp. 20.000, untuk biaya makan ia menghabiskan sebesar Rp. 8.000, dan sisanya Rp. 12.000 digunakan untuk membeli rokok. Tidak jauh beda dengan tukang ojek yang berpenghasilan Rp. 35.000, menghabiskan uang sebanyak Rp. 15.000 untuk rokok, Rp. 10.000 untuk menyalurkan hobinya bermain gaplek / kartu dengan sesama rekan tukang ojek dan sisanya Rp. 10.000 digunakan makan sehari-hari. Kalau cara menghabiskan uang seperti ini, rasanya sampai kapan juga kehidupan dan tingkat ekonomi mereka tidak akan berubah karena sebenarnya tanpa mereka sadari, mereka sebenarnya telah diperbudak untuk melakukan sesuatu yang sia-sia.

Hal yang gak jauh beda, bisa ditemukan di kalangan pelajar, berapa banyak uang saku yang sudah dihabiskan di warung internet, di kedai game online, Playstation, membeli pulsa, dll? Sebagai seorang mantan pelajar, saya juga punya kesukaan mengumpulkan pernak-pernik mulai dari mug, gelang, parfum, miniatur princess, dan pernak-pernik anak-anak perempuan pada umumnya. Berbicara tentang warung internet, jangan ditanya, saya jagonya! Dipenghujung tahun 90-an, awal 2000 saat warung internet belum terlalu banyak di kota Bandung, kota dimana saya tinggal, percaya atau tidak, saya sampai pernah dijemput ‘paksa’ oleh ayah saya, karena terlalu lama bermain di warnet. Sepeda saya dinaikkan ke mobilnya dan sepanjang perjalanan pulang, air mata tidak berhenti keluar, telinga memerah karena ditegur ayah. Di tempat lain, sampai-sampai dimasakkan hidangan khusus oleh yang pemilik warnet karena menghabiskan waktu 10 jam di warnetnya. Belakangan saya tidak kembali ke warnet itu karena ternyata pemilik warnet itu kenal dengan ayah saya dan keluarga kami. Tetapi sungguh, pada akhirnya saya sadar, sebenarnya saya sempat melakukan hal yang kurang lebih sama dengan apa yang dilakukan oleh pemulung dan tukang ojek di awal cerita ini. Saya tahan tidak makan, asalkan tetap bisa online. Sesuatu yang tidak masuk akal!

Saya termenung, berbicara dengan diri sendiri tentang betapa kehidupan perlu diatur agar bisa berjalan baik, bayangkan saja jika tukang ojek dan pemulung menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk rokok, lalu bagaimana nasib anak istri mereka? Apabila para pelajar lebih banyak menyita waktu dan keuangannya untuk menyukakan keinginan hati sesaat dibandingkan untuk melengkapi diri mereka lewat buku, kursus pengembangan diri, kursus keterampilan dan lain sebagainya yang lebih bermanfaat bagi masa depan mereka.

Tuhan memberikan kepada kita manusia, akal budi agar dapat membedakan mana yang baik, mana yang berguna dan mana yang tidak. Dengan demikian, kita dapat mempertanggungjawabkan hidup ini di hadapan manusia dan di hadapan Tuhan kelak. Namun semua keputusan ada di tangan manusia itu sendiri. Yang mana pilihan kita?

Hidup bijaksana memang tidak mudah. Karena itu perlu bagi kita untuk menemukan didikan dan tuntunan hidup yang menjadikan kita lebih bijak dan berhikmat. Kadang pergaulan pun ikut memberikan andil, tetapi sekali lagi, segala keputusan ada di tangan manusia itu sendiri. Hidup bijaksana dapat terbentuk juga melalui pengalaman. Lagi-lagi saya termenung, jika hari ini saya masih diberikan kesempatan untuk masuk dalam hari yang baru dan mudah-mudahan esok masih memperoleh kesempatan, kiranya lewat perenungan dan pengalaman-pengalaman yang ada, saya boleh menjadi seseorang yang dapat menyikapi hidup dengan bijaksana. Mengutip pernyataan Norman Vincent Peale, “Saya mengharapkan yang terbaik dan dengan pertolongan Tuhan, akan memperoleh yang terbaik.”

Kiranya semakin hari kita dapat menjadi seseorang yang lebih bijak dalam menjalani kehidupan ini.

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

T. Maritza : Pecinta keluarga, keheningan, dan kreativitas. Suka masak gara-gara suka makan dan percaya bahwa dalam setiap adegan perjalanan hidup manusia, selalu ada musik yang cocok untuk jadi soundtrack-nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s