“Bebaskan Dirimu”

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Siregarrosey

 

Dulu aku termasuk orang yang sangat pemalu, dulu aku termasuk orang yang sangat tidak pede, tapi ada satu orang yang merubahku, dan bisa dibilang cara berpikirnya sedikit banyak membuat aku seperti sekarang.

Sebagai orang dengan budaya barat, dia sering bingung kalau aku mau sesuatu dan sering bertanya pendapatnya.

Me: “Do you like a girl with long hair or short hair?”

Him: “Long hair. But if I like a girl, I don’t care if she has long or short hair. I will love her whole package”

Di kesempatan lain…

Me: “I wanna tattoo, what do you think?”

Him: “It’s your body, do whatever you like for you, not for others.”

Kalimatnya yang terakhir terpatri di otakku. Ya, ini tubuhku, terserah aku mau apain, aku gak perlu ijin orang lain selama itu tidak merugikan orang lain. Kalau akhirnya sampai sekarang aku gak punya tattoo, itu bukan lagi karena takut akan apa yang dipikirkan orang lain atau takut akan larangan orang lain tapi karena memang aku memutuskan tidak.

Budaya timur sering kali membuat kita tidak bebas menentukan apapun bahkan untuk tubuh kita  sendiri. Masih teringat waktu pertama kali memotong cepak rambutku, bapak hampir sebulan gak mau ngomong sama aku. Sejak aku kecil Bapak memang selalu bilang suka rambutku panjang dan gak boleh dipotong pendek, sementara aku udah eneg dengan rambut panjangku. Memotong pendek rambutku adalah pemberontakan kecil pertama yang kulakukan, dan sejak itu aku mulai membebaskan diri melakukan apapun yang kusuka selama itu tidak merugikan orang lain dan diriku sendiri. I’m not your little girl anymore, Dad…

Begitulah budaya timur yang suka sekali mengatur orang yang dianggap miliknya: pasangan ataupun anak, hingga seringkali orang hidup bukan lagi menjadi dirinya sendiri, tapi menjadi boneka cantik yang diatur sedemikian rupa oleh orang yang menganggap dirinya “pemilik”. Kebiasaan itu membuat orang menjadi tidak yakin pada dirinya sendiri dan selalu merasa perlu afirmasi orang lain untuk setiap tindakan. Tidak lagi melakukan sesuatu karena dia ingin melakukan itu, tapi melakukan sesuatu karena orang lain mengatakan itulah yang cocok untuknya, itulah yang terbaik untuknya.

Hidup cuma sekali, sayang sekali jika hidup yang cuma sekali itu habis untuk memuaskan dan menyenangkan orang lain tapi terpenjara di tubuh sendiri.

Bebaskan dirimu, hidupi hidupmu!

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Siregarrosey

bungsu dari 7. pisces. single. two sides of coin personality. dog lover. love writing. love traveling. love to love. love to laugh.

Twitter: @rosceh

Advertisements

One thought on ““Bebaskan Dirimu”

  1. Setuju, gw juga dulu sempet merasa terlalu diatur2, ini itunya, ternyata lama2 berasa ada yg oke, good, gw ikutin juga aturannya…tapi ada juga hal yg lama2, pelan2, dibebaskan, terserah mau gimana, yg penting udah tau resiko pilihan tsb dan tanggung jawab, konsekuen sama pilihannya sendiri tsb.

    Jadi inget temen yg mottonya ‘Free to be Whatever I’ 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s