Percakapan dengan Supir Taksi

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Siregarrosey

 

Hari ini aku terlambat ke kantor. Kakak sudah pergi duluan, akhirnya aku harus ngantor sendirian naik taksi.

Taksi yang ku tumpangi ternyata kurang hafal daerah yang aku sebut…walah…gawat, karena aku paling gak pede naik taksi sendirian dan si supir tidak tau jalan. Walaupun ini jalan yang tiap hari kulalui, tetap saja ada rasa tidak pede, takut nyasar.

Supir: “Ke kiri atau terus, Mbak?”

Aku: “Bapak gak tau daerah yang aku sebut ya?”

Supir: “Bukan gak tau, Mbak…tapi kurang hafal, karena saya biasa main di daerah Depok, dan seluruh selatan saya tau termasuk jalan tikus-nya, kalau disini saya kurang hafal, Mbak”

Aku: “Oh, ya sudah…kayaknya ke kiri deh, Pak….aku juga lupa-lupa inget Pak, biasa dianterin.”

Supir: “Oh, Mbak juga gak tau? Kalau gitu kita sama-sama gak tau ya, saling memaafkan saja ya Mbak…hehehehe…” katanya bercanda yang membuat aku tertawa.

Aku: “Iya Pak..paling kalau nyasar kita jalan-jalan, nyantai aja.”

Gak tau kenapa aku merasa comfortable dengan supir taksi ini, aku tidak merasa dia akan ambil kesempatan dengan kebodohanku soal jalan yang sedang kami lewati.

Supir: “Hari ini kenapa gak dianter, Mbak?”

Aku: “Biasalah Pak, males…terlambat bangun, jadi aku ditinggal.”

Supir: “Wah, Mbak…males jangan diikutin…” katanya tanpa nada menggurui.

Aku: “Iya sih, Pak…bener…tapi itu yang sulit, apalagi sekarang ini bawaannya lagi males terus.”

Supir: “Sebenarnya gak sulit sih Mbak kalau kita tidak merasa itu sulit.”

Deg…..aku ngerasa ditonjok, aku cengengesan.

Supir: “Semuanya itu tergantung kita, Mbak…kalau kita merasa sulit, ya jadi sulit. Orang lain tidak bisa mempengaruhi kita, tapi sikap kita bisa mempengaruhi orang lain…”

Aku terdiam. Rasanya kata-kata itu bukan hal yang asing tapi entah kenapa Supir Taksi itu seakan dikirim untuk mengingatkan aku kembali. Aku tidak bisa mengharapkan orang lain untuk membuat aku lebih baik, tapi aku bisa mempengaruhi orang lain (dengan sikap baikku).

Akhirnya kami sampai di tujuan tanpa nyasar.

Aku: “Stop disini Pak.”

Supir: “Oh..iya…makasih Mbak, senang bisa berkenalan dengan Mbak.”

Aku terpesona dengan kebaikan dan sopan santunnya. Dia mengucapkan itu sebelum aku menyodorkan ongkos taksi beserta tips setengah dari ongkos taksi. Dia menyebut terimakasih, dia ramah, dia senang berkenalan dengan aku, sebelum dia tahu berapa yang aku kasih sebagai tips. Dia tidak mengucapkan terima kasih karena tips yang aku berikan, tapi sebuah ucapan terima kasih yang tulus karena dia senang berbincang denganku, padahal seharusnya aku lah yang berterimakasih padanya karena telah mengingatkanku banyak hal.

Aku: “Makasih Pak…” Kataku sambil menyodorkan uang.
Dalam hati aku berdoa, bahkan sampai aku menulis ini, ”Semoga Bapak mendapat rejeki yang cukup hari ini dan seterusnya.”
Doa dalam hati itu membuatku tersadar, kebaikannya bisa membuat orang asing seperti aku mendoakan orang asing seperti si Supir Taksi, dan aku yakin sebaliknya, sikap buruk kita bisa membuat siapapun termasuk orang asing menyumpah serapahi kita.

Bener banget Pak, sikap kita bisa mempengaruhi orang lain dan hari ini aku terpengaruh dengan sikap baik Pak Supir…and it’s brighten up my mellow lazy morning.

_________________________________________________________________________________________________________________

Siregarrosey

bungsu dari 7. pisces. single. two sides of coin personality. dog lover. love writing. love traveling. love to love. love to laugh.

Twitter: @rosceh

Advertisements

2 thoughts on “Percakapan dengan Supir Taksi

  1. Gw juga pas ke Yogya pernah diajak obrol sama sopir taxi-nya, kakek2 gitu, tapi dia cerita secara singkat (tapi panjang lebar) sejarah hidupnya, gimana dia kerja setengah mati untuk sekolahin anak2nya yang sekarang udah ‘jadi orang’. salut sama perjuangan hidupnya.

  2. Kemarin gw juga ngobrol sama supir taksi, karena kebetulan sama-sama Batak, jadi makin nyambung. Dia cerita istrinya (yg kebetulan Siregar juga) baru aja meninggal, ngobrol ngalor ngidul dia nanya ttg aku dan keluarga, pas tau kl kakakku jg belum married, dia bilang “kira-kira kalau kakakmu itu mau gak sama aku dek?”…gubrak! Gw langsung drop. Yaelaaahhh…baru cerita sedih2 soal istrinya yg baru 2 minggu meninggal, udah mikir mau kawen lagi, sama kakakku pulak tu…pengen gw keplak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s