Kuat vs Rapuh

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh The Soul Sista’ (bukan nama yang sebenarnya)

 

Kuat? Apakah yang dimaksud dengan menjadi orang yang kuat?

Lingkungan mengajarkan kita untuk menjadi orang yang kuat. Dan, pemahaman yang saya dapatkan dari apa yang diinginkan lingkungan mengenai orang yang kuat, adalah orang yang tidak dengan mudahnya menunjukkan bahwa dirinya rapuh. Terutama bagi kaum pria. Dan, ternyata hal ini juga berlaku bagi beberapa kaum wanita yang cenderung lebih peka terhadap emosinya.

Sepertinya, di masyarakat yang semakin modern ini, kerapuhan terkadang dipandang sebagai sesuatu yang tabu. Bila seseorang menunjukkan kerapuhannya, ia akan dipandang lemah. Dan, tidak ada seorangpun yang ingin melakukan hubungan dengan orang yang rapuh, karena berhubungan dengan orang-orang ini akan membuat kita melihat kepada kerapuhan yang ada pada diri kita sendiri. Seperti kita ketahui, berapa banyak orang yang kita temui yang tidak menyimpan sisi rapuhnya secara rapat-rapat…? Saya yakin jumlahnya dapat dihitung dengan jari.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Brené Brown, seorang profesor di sebuah Universitas di Amerika Serikat, University of Houston Graduate College of Social Work, orang-orang yang memiliki rasa mencintai yang besar, hidup dengan sepenuh hati, dan menghargai diri mereka sendiri adalah orang-orang yang berani untuk mengakui ketidaksempurnaan mereka. Dan, mereka sangat merangkul kerapuhan sisi manusia mereka.

Mereka percaya bahwa menjadi rapuh adalah suatu keindahan tersendiri. Kerapuhan, menurut pandangan mereka, bukanlah sesuatu yang tidak nyaman dan menyakitkan. Mereka lebih memandang kerapuhan sebagai sesuatu keharusan…sesuatu yang fundamental.

Mereka bersedia untuk menyatakan rasa cinta mereka terhadap pasangannya tanpa perlu menunggu pasangannya untuk mengucapkannya terlebih dahulu. Mereka bersedia untuk menjalani sebuah hubungan dengan segala ketidakpastiannya. Mereka bersedia melakukan hal-hal yang mungkin dipandang oleh kebanyakkan orang sebagai sesuatu yang tidak nyaman dan penuh dengan ketidakpastian, yang dapat menyebabkan siapapun yang melakukannya merasa rapuh.

Selain penjelasan yang disebutkan oleh Brené Brown diatas, saya ingin sedikit menambahkan pemahaman saya mengenai mereka yang berani merangkul kerapuhannya. Menurut saya, mereka adalah orang-orang yang ‘temboknya’ tidak setebal orang-orang lainnya yang berusaha menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang kuat kepada dunia. Mereka cenderung apa adanya dengan emosi yang mereka miliki. Ketika ada sesuatu yang buruk terjadi dan mereka merasa sedih, mereka tidak akan berpura-pura dan mengatakan kepada diri mereka bahwa mereka tidak boleh bersedih…bahwa mereka harus baik-baik saja. Mereka bersahabat dengan emosi-emosi yang mereka rasakan. Mereka tidak menyangkalnya. Mereka tidak menguburnya dalam-dalam. Dan, mereka berani untuk meminta pertolongan baik itu dalam bentuk jasmani ataupun rohani, kalau memang diperlukan. Mereka tidak segan-segan untuk menunjukkan bahwa mereka terluka…

Dengan begitu, mereka menjadi lebih bisa melakukan hubungan dengan diri mereka sendiri…dan tentunya dengan orang lain. Dengan begitu, mereka menjadi semakin mengenal diri mereka. Dengan begitu, kekuatan yang sesungguhnya…kekuatan yang datang dari dalam diri mereka akan keluar. Kekuatan murni. Bukan kekuatan yang mengandalkan dari sumber-sumber di luar diri mereka.

Kita tahu bahwa konsep merangkul kerapuhan ini bukanlah sesuatu yang umum diterapkan dalam lingkungan kita hidup. Tetapi, saya percaya pada kekuatan yang ada dibaliknya. Saya percaya, ketika kita berani untuk menjadi rapuh kepada diri kita sendiri, sesungguhnya kekuatanlah yang akan menjadi hadiahnya.

Kekuatan kerapuhan juga memberikan suatu keindahan tersendiri yang mungkin kalian tidak sadari tetapi kalian rasakan. Lihatlah sekeliling kalian… Puisi-puisi, musik-musik, cerita-cerita yang indah lahir ketika sang pencipta menyelami kerapuhannya. Bunga-bunga yang indah, harum dengan aneka warna dan bentuk, lahir dengan penuh kerapuhan. Dan…walaupun rapuh…kita sering menggunakan bunga untuk menyatakan rasa sayang kita kepada mereka yang kita sayangi dan cintai. Mungkin karena kita secara tidak langsung menyadari bahwa bunga dan cinta memiliki persamaan…mereka sama-sama indah tetapi juga sama-sama rapuh. Dan, dengan segala keindahan dan kerapuhannya, cinta jugalah yang menjadi kekuatan bagi kita dalam menjalani hidup ini. Sehingga, tidak salah untuk mengambil kesimpulan bahwa mereka yang sanggup mencintai sepenuh hati adalah mereka yang berani untuk menjadi rapuh…

“To share your weakness is to make yourself vulnerable; to make yourself vulnerable is to show your strength.” ― Criss Jami

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

This Soul Sista’ loves to read, write, eat, travel, and to enjoy a cup of coffee…and yeah…dogs!

I also do some cards reading by online, if there’s anybody interested, just contact me:

Email: thesoulsista@ymail.com / YM! thesoulsista

Advertisements

One thought on “Kuat vs Rapuh

  1. Tidak ada yg salah dengan menunjukkan kita kuat atau rapuh. Tiap orang punya their own system berdasarkan pengalaman hidup. Ada yg merasa its ok to show others kl kita rapuh, we’re just human, not robot and not superman. But for some people, dengan showing mereka rapuh mereka takut hal itu akan dipakai orang untuk attack mereka, mungkin krn mrk pernah punya pengalaman buruk dgn itu. Most important thing IMO is just to be true to yourself, we can show people we strong but deep inside we know we vulnerable. Dgn showing strong side to the world, we attract strong energy and it (maybe) can heal the weakness inside.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s