“Bebaskan Dirimu”

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Siregarrosey

 

Dulu aku termasuk orang yang sangat pemalu, dulu aku termasuk orang yang sangat tidak pede, tapi ada satu orang yang merubahku, dan bisa dibilang cara berpikirnya sedikit banyak membuat aku seperti sekarang.

Sebagai orang dengan budaya barat, dia sering bingung kalau aku mau sesuatu dan sering bertanya pendapatnya.

Me: “Do you like a girl with long hair or short hair?”

Him: “Long hair. But if I like a girl, I don’t care if she has long or short hair. I will love her whole package”

Di kesempatan lain…

Me: “I wanna tattoo, what do you think?”

Him: “It’s your body, do whatever you like for you, not for others.”

Kalimatnya yang terakhir terpatri di otakku. Ya, ini tubuhku, terserah aku mau apain, aku gak perlu ijin orang lain selama itu tidak merugikan orang lain. Kalau akhirnya sampai sekarang aku gak punya tattoo, itu bukan lagi karena takut akan apa yang dipikirkan orang lain atau takut akan larangan orang lain tapi karena memang aku memutuskan tidak.

Budaya timur sering kali membuat kita tidak bebas menentukan apapun bahkan untuk tubuh kita  sendiri. Masih teringat waktu pertama kali memotong cepak rambutku, bapak hampir sebulan gak mau ngomong sama aku. Sejak aku kecil Bapak memang selalu bilang suka rambutku panjang dan gak boleh dipotong pendek, sementara aku udah eneg dengan rambut panjangku. Memotong pendek rambutku adalah pemberontakan kecil pertama yang kulakukan, dan sejak itu aku mulai membebaskan diri melakukan apapun yang kusuka selama itu tidak merugikan orang lain dan diriku sendiri. I’m not your little girl anymore, Dad…

Begitulah budaya timur yang suka sekali mengatur orang yang dianggap miliknya: pasangan ataupun anak, hingga seringkali orang hidup bukan lagi menjadi dirinya sendiri, tapi menjadi boneka cantik yang diatur sedemikian rupa oleh orang yang menganggap dirinya “pemilik”. Kebiasaan itu membuat orang menjadi tidak yakin pada dirinya sendiri dan selalu merasa perlu afirmasi orang lain untuk setiap tindakan. Tidak lagi melakukan sesuatu karena dia ingin melakukan itu, tapi melakukan sesuatu karena orang lain mengatakan itulah yang cocok untuknya, itulah yang terbaik untuknya.

Hidup cuma sekali, sayang sekali jika hidup yang cuma sekali itu habis untuk memuaskan dan menyenangkan orang lain tapi terpenjara di tubuh sendiri.

Bebaskan dirimu, hidupi hidupmu!

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Siregarrosey

bungsu dari 7. pisces. single. two sides of coin personality. dog lover. love writing. love traveling. love to love. love to laugh.

Twitter: @rosceh

Perenungan di Minggu Sore

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh T. Maritza

 

Terkadang seseorang tanpa sadar melakukan hal-hal yang tidak masuk akal karena terikat oleh kebiasaan buruk. Bahkan ditengah kondisi ekonomi yang krisis, hal-hal tersebut tetap diberlakukan. Tukang ojek langganan saya pernah curhat, “Sekarang ini cari uang susah banget, sementara semua kebutuhan pada naik”. Menurut sebuah survei yang pernah saya baca, (mengambil tempat di Jakarta) bahwa seorang pemulung mendapatkan uang hasil kerjanya sehari sebesar Rp. 20.000, untuk biaya makan ia menghabiskan sebesar Rp. 8.000, dan sisanya Rp. 12.000 digunakan untuk membeli rokok. Tidak jauh beda dengan tukang ojek yang berpenghasilan Rp. 35.000, menghabiskan uang sebanyak Rp. 15.000 untuk rokok, Rp. 10.000 untuk menyalurkan hobinya bermain gaplek / kartu dengan sesama rekan tukang ojek dan sisanya Rp. 10.000 digunakan makan sehari-hari. Kalau cara menghabiskan uang seperti ini, rasanya sampai kapan juga kehidupan dan tingkat ekonomi mereka tidak akan berubah karena sebenarnya tanpa mereka sadari, mereka sebenarnya telah diperbudak untuk melakukan sesuatu yang sia-sia.

Hal yang gak jauh beda, bisa ditemukan di kalangan pelajar, berapa banyak uang saku yang sudah dihabiskan di warung internet, di kedai game online, Playstation, membeli pulsa, dll? Sebagai seorang mantan pelajar, saya juga punya kesukaan mengumpulkan pernak-pernik mulai dari mug, gelang, parfum, miniatur princess, dan pernak-pernik anak-anak perempuan pada umumnya. Berbicara tentang warung internet, jangan ditanya, saya jagonya! Dipenghujung tahun 90-an, awal 2000 saat warung internet belum terlalu banyak di kota Bandung, kota dimana saya tinggal, percaya atau tidak, saya sampai pernah dijemput ‘paksa’ oleh ayah saya, karena terlalu lama bermain di warnet. Sepeda saya dinaikkan ke mobilnya dan sepanjang perjalanan pulang, air mata tidak berhenti keluar, telinga memerah karena ditegur ayah. Di tempat lain, sampai-sampai dimasakkan hidangan khusus oleh yang pemilik warnet karena menghabiskan waktu 10 jam di warnetnya. Belakangan saya tidak kembali ke warnet itu karena ternyata pemilik warnet itu kenal dengan ayah saya dan keluarga kami. Tetapi sungguh, pada akhirnya saya sadar, sebenarnya saya sempat melakukan hal yang kurang lebih sama dengan apa yang dilakukan oleh pemulung dan tukang ojek di awal cerita ini. Saya tahan tidak makan, asalkan tetap bisa online. Sesuatu yang tidak masuk akal!

Saya termenung, berbicara dengan diri sendiri tentang betapa kehidupan perlu diatur agar bisa berjalan baik, bayangkan saja jika tukang ojek dan pemulung menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk rokok, lalu bagaimana nasib anak istri mereka? Apabila para pelajar lebih banyak menyita waktu dan keuangannya untuk menyukakan keinginan hati sesaat dibandingkan untuk melengkapi diri mereka lewat buku, kursus pengembangan diri, kursus keterampilan dan lain sebagainya yang lebih bermanfaat bagi masa depan mereka.

Tuhan memberikan kepada kita manusia, akal budi agar dapat membedakan mana yang baik, mana yang berguna dan mana yang tidak. Dengan demikian, kita dapat mempertanggungjawabkan hidup ini di hadapan manusia dan di hadapan Tuhan kelak. Namun semua keputusan ada di tangan manusia itu sendiri. Yang mana pilihan kita?

Hidup bijaksana memang tidak mudah. Karena itu perlu bagi kita untuk menemukan didikan dan tuntunan hidup yang menjadikan kita lebih bijak dan berhikmat. Kadang pergaulan pun ikut memberikan andil, tetapi sekali lagi, segala keputusan ada di tangan manusia itu sendiri. Hidup bijaksana dapat terbentuk juga melalui pengalaman. Lagi-lagi saya termenung, jika hari ini saya masih diberikan kesempatan untuk masuk dalam hari yang baru dan mudah-mudahan esok masih memperoleh kesempatan, kiranya lewat perenungan dan pengalaman-pengalaman yang ada, saya boleh menjadi seseorang yang dapat menyikapi hidup dengan bijaksana. Mengutip pernyataan Norman Vincent Peale, “Saya mengharapkan yang terbaik dan dengan pertolongan Tuhan, akan memperoleh yang terbaik.”

Kiranya semakin hari kita dapat menjadi seseorang yang lebih bijak dalam menjalani kehidupan ini.

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

T. Maritza : Pecinta keluarga, keheningan, dan kreativitas. Suka masak gara-gara suka makan dan percaya bahwa dalam setiap adegan perjalanan hidup manusia, selalu ada musik yang cocok untuk jadi soundtrack-nya.

We & Our Peculiar Ways

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh The Soul Sista’ (bukan nama yang sebenarnya)

 

Don’t you think that we…human…tend to live our life in such peculiar ways that usually end up with regrets….?!

How many times have you heard stories about people when their time comes to face the death…all they could think of is about their regrets upon the way they treated their loved ones…?

To tell you the truth, I hate it when people always make an excuse about their not spending so much time with the family for the sake of the family itself!

How could they do that?!
How could we do that?!

How could we use that as an excuse for our thirst of being admired for our success and achievements from our peers?!
How could we use that as an excuse for our ambition of being appreciated by our parents, because from our income, we could buy luxury for them…and for our family too…?! And identified that with happiness?!
How could we use that as an excuse for our ego of making it in the world, and yet whose world exactly we are trying to prove?!

And then…

On our dying days…minutes…and seconds…all we could think of are regrets about not being able to come home soon every day to have some quality time with our family…
…Regrets about not having to enjoy the laughter and the sadness that each of the members of the family was going through…
…Regrets about not being there at that present moments…you know…just being there! And somehow ended up being somewhere with the people that never really care about who we really are… People who only need us for their own benefit…and yet…our family needs us just for who we really are…for the person that we are…

But….who are we to judge….?!

For we’ve been taught that luxury can somehow bring happiness….
For we’ve been taught that luxury can make every parents so proud and cry in tears of joy…
For we’ve been taught that luxury can make our life easier… And yet, since when easy and happiness are the same…?!

I guess…
We could sum up that people is built that way…by the society…by the system…
The system of having less and having more…
The system of being rich and being poor…
The system of wanting more and more…

And the irony is…
We are part of that society…
We are part of that system…
That somehow…we are also playing our part in creating it…
So…it means…we are also responsible for it… Whether we like it or not… Subconsciously or not…
We have created a system where the word ‘enough’ could mean defeat…
We have created a system where the word ‘oneness’ could mean ineffectiveness…
We have created a system where the word ‘love’ could be traded…or even sold…

So…
What are we going to do about it?

Maybe, I’m not the right person to answer this…
But as far as I’ve learned…
Complaining won’t make it better… And so does judging…
And nothing ever works by changing things forcefully…

I believe…
All we can do…by quoting one of Michael Jackson’s song…
Is by starting with the ‘Man in The Mirror’ …

Sounds so simple…and yet…the easier it is to say, is usually the harder it is to do…

_________________________________________________________________________________________________________________

This Soul Sista’ loves to read, write, eat, travel, and to enjoy a cup of coffee…and yeah…dogs!

I also do some cards reading by online, if there’s anybody interested, just contact me:

Email: thesoulsista@ymail.com / YM! thesoulsista

Berilah, Maka Kau Akan Menerima

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Siregarrosey

 

Jethro, Chihuahua-ku menatapku dengan memelas penuh cinta ketika aku asyik main dengan Blackberry-ku sepulang kerja. Seolah dia berkata, “Mainlah denganku, sayangi aku, aku menunggumu seharian. :(”

Aku menatap pandangannya yang seolah bicara seperti manusia, tatapannya yang penuh harap agar aku meletakkan Blackberry-ku dan bermain dengannya, tatapan yang membuatku merasa bersalah, sedih, sekaligus tertawa lucu.

Aku segera meletakkan Blackberry-ku dan seolah mengerti, dia melonjak-lonjak riang. Badannya yang kecil disusupkan ke balik telapak tanganku dan ndusel-ndusel di pangkuan minta lehernya digarukin. Seperti biasa, itu caranya minta disayang dan dimanja.

Kadang aku mikir, “Kok gue jadi kayak budaknya ya? Asoy bener hidupnya makan-minum disediain, mandi dimandiin, kandangnya dirapihin, kotorannya dibersihin…kok malah gue yang melayani dia ya, kan gue tuannya?”

Tapi menyadari bagaimana aku tertawa melihat tingkahnya atau tersenyum-senyum seperti saat aku menuliskan semua ini, membuat aku sadar “pelayanan” yang aku beri sesungguhnya membuat aku menerima lebih. Ketika aku memberi cinta dengan mengelus-elusnya, ketika aku memberi waktu bermain dengannya, sesungguhnya aku tidak kekurangan malah aku jadi berkelimpahan rasa senang, rasa dicintai, rasa dibutuhkan. Kalau makan adalah kebutuhan primer, maka rasa dicintai dan dibutuhkan itu adalah makanan primer untuk jiwa.

Ada orang yang beruntung mendapatkan itu dari keluarga, dari pasangan atau dari anak. Tapi tidak semua orang seberuntung itu. Jika saat ini aku hidup merantau jauh dari keluarga, belum punya pasangan apalagi anak, aku merasa Jethro menutup lubang kosong akan kebutuhan itu, untuk dicintai tanpa syarat, dan dibutuhkan sepenuhnya. Tidak sama pastinya, tapi sangat berarti dan membuatku tetap bahagia dan waras.

Dunia ini luas, ada banyak hal yang bisa kita cintai bahkan ketika kita merasa dunia tak memberi apa-apa dan siapa-siapa. Manusia selalu mencari seseorang atau sesuatu untuk mencukupi makanan jiwanya tersebut, untuk merasa dicintai dan dibutuhkan.

Jangan terpaku hanya mengharapkan cinta dari seseorang, tapi berilah cinta (kepada sesama, kepada binatang peliharaan, kepada tanaman) maka kita akan menerima perasaan dicintai, dibutuhkan, dan saat itulah kita merasa hidup kita berarti, karena hidup hanya untuk diri sendiri itulah sesungguhnya rasa sepi yang paling mematikan hati.

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Siregarrosey

bungsu dari 7. pisces. single. two sides of coin personality. dog lover. love writing. love traveling. love to love. love to laugh.

Twitter: @rosceh

Demam India

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh T. Maritza

 

Sudah sekitar satu tahun ini saya menderita “penyakit” ini, “penyakit” demam gak jelas kalau melihat segala sesuatu yang bertemakan India. Baik musiknya, tarian, film, makanan bahkan kalau di jalan ketemu atau lihat orang India lewat pasti jadi senyam-senyum gak jelas…hahaha…dan yang terbaru kejadiannya adalah tadi malam, saat sedang jalan santai dengan sahabat saya, sejak siang kami janjian ketemuan, makan siang bersama, janjian ketemu di salah satu rumah makan India di kawasan Kuningan, Jakarta. Mungkin karena frekuensi berkunjung saya cukup sering di rumah makan itu, kali ini kokinya sampai khusus keluar menyambut dan menanyakan, apa sudah pesan makanannya, padahal supervisor dari restaurant tersebut mencatatkan pesanan kami. Makan sambil bertukar cerita, saya suka melakukannya. Meja makan memang kerapkali mendekatkan kita dengan orang lain. Melihat pemandangan keluarga berkumpul makan sambil berbagi cerita di meja makan, keceriaan anak-anak di meja makan, kehangatan suami dan istri, sepasang kekasih atau kakek-nenek dan cucu ataupun sahabat seperti yang kami lakukan kemarin,..berkumpul, makan dan berbagi cerita terasa menghangatkan sanubari sekali ditengah-tengah geliat kota yang semakin individualistis ini.  Eh, kok jadi kesini ceritanya… Ok, so kembali ke demam India. Di rumah makan India yang lain, yang berlokasi di kawasan M.H. Thamrin, setelah beberapa kali kunjungan, saya sempat dikira sesama orang India.

Seingat saya, saya mulai merasakan “demam” dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan India sejak jumpa dengan seorang teman, Sebut saja, Raj namanya (bukan nama sebenarnya). Perkenalan biasa, karena saat itu saya akan ke Singapore dan perlu tahu tentang tempat-tempat yang perlu dikunjungi karena keberadaan yang singkat, hanya 2 malam disana. Sehingga sehari sebelum berangkat, saya kembali mencoba masuk ke dunia cyber mencari informasi dengan menuliskan di channel chat, menjelaskan tentang keperluan saya. Tidak disangka, saya lalu mendapat tanggapan dengan segera dari Raj dan tidak hanya menjelaskan dengan baik, dia juga menyertakan foto dirinya dan kami pun bertukar nomor telepon dan setelah chat selisih 1 hari, saya dan adik pun berangkat ke Singapore dan ternyata disana, Raj  benar-benar menyambut kami dengan baik. Perjumpaan kami ibarat saudara yang sudah lama tidak jumpa padahal ini merupakan pertemuan pertama, mulai dari menjadi tour guide hingga menemani belanja (dengan senang hati tanpa komplain sedikit pun, wahai sudara-saudara!) dan mentraktir makan mulai dari pagi hingga malam, Raj pun tidak segan membuka dirinya memperkenalkan tentang darimana Ia berasal dan kebudayaannya, serta dengan ringan tangan sedia membantu kami, orang yang baru dikenalnya, membuat saya seperti menemukan seorang Malaikat di tengah tempat yang asing. Ia pun bercerita dengan keluarga, pekerjaan dan secara tidak sengaja, saat sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, kami berpapasan dengan bos-nya, Raj tidak segan memperkenalkan kami kepada bosnya sebagai teman dari Jakarta dan sekarang walau sudah satu tahun belum berjumpa secara fisik, tidak jarang ia menanyakan kabar melalui e-mail ataupun sesekali menelepon.

Sejak pertemuan itu, semakin saya menyukai segala sesuatu tentang India. Mulai dari mempelajari map, sampai kepada jenis-jenis musik, bagaimana beda antara musik Punjabi, dan bahasa-bahasa yang digunakan pun sangat beranekaragam. Malayalam, Telugu, Marathi, Hindi, Tamil, dst…dst…yang oleh orang umum semuanya terdengar sama yakni bahasa India atau musik India atau lagu India. Padahal betapa kaya, unik dan beranekaragam kebudayaan mereka. Saya belum bisa berbicara dalam bahasa Hindi ataupun Tamil, tetapi saya senang membuka Youtube sekedar untuk melihat film baik dalam bahasa Hindi maupun Tamil. Film lama yang berjudul Bombay adalah salah satu film kegemaran saya. Judul dari film-film yang saya tonton biasanya muncul dari pencarian di Youtube jadi tidak dengan sengaja saya mencari judul tersebut.

Pada suatu kesempatan, saya menghabiskan Jumat malam di depan Youtube, film yang menurut saya menggugah hati sehingga saya menontonnya dengan serius, tanpa sadar adik saya pulang kantor dan memberi salam, karena penasaran salamnya tak berbalas karena saya nampak serius di depan laptop, akhirnya dia pun ikut melihat apa yang sedang saya tonton.. “O, Mak! Film India!” serunya… “Astaga! Terjemahannya mana? Kok gak ada terjemahannya?” lanjutnya.. “Busyeeet, emang loe ngerti?! …Kok pake nangis-nangis segala?!”, dari pertanyaan, berubah menjadi gelak tawa. Tidak mau ketinggalan, saya jawab “Loe nontonnya pake hati, dong… ini ceritanya bla bla bla bla”… sambil saya menjelaskan secara singkat film tersebut. “Itu asli kayak gitu ceritanya, atau versi loe?” jawabnya meledek. Dari mata yang masih sembap karena jalan cerita yang mengharukan, berubah jadi gelak tawa.

So, kembali ke cerita saat saya bersama sahabat saya. Usai kami makan siang, kami beranjak, jalan-jalan diseputaran Kawasan Kuningan untuk karaoke dan jalan santai, sesekali mengambil foto sebagai kenang-kenangan dan pada saat sahabat saya hendak mengambil foto saya yang siap bergaya, braaak! Tiba-tiba di samping saya ada orang India yang lewat..sempat tersenggol, tetapi kemudian dia tersenyum dan beberapa kali melirik dengan tetap tersenyum ke arah kami. Alamaaak! Mendadak, di telinga ini tiba-tiba kedengaran musik intro lagu “Kuch Kuch Hotta Hai”, syukurnya disana gak ada pepohonan rindang atau tiang-tiang yang berdiri kokoh di pinggir saya, atau kain selendang yang ngedadak jatuh dari langit, (atau entah darimana) kalau tidak, bukan tidak mungkin jika tahap berikutnya adalah saya menghayal menjadi Kajol! (*tatapan mata polos*)

Perjumpaan dengan Raj, menghantar saya berkenalan dengan beberapa orang India di Jakarta. Tidak banyak memang, hanya 4-5 orang tetapi melalui mereka, saya dapat belajar hal-hal baru, mulai dari memasak menu India sampai terkadang mendengarkan kisah mereka tentang keluarga dan pergumulan hidup mereka yang oleh karena mencari nafkah, harus terpisah dari negaranya dan orang-orang yang dikasihinya. Dari mereka, saya diajar untuk melihat ketekunan dalam berusaha dan berhemat (bukan pelit, loh!) Kebaikan Raj mengingatkan saya untuk setidaknya berbagi waktu dan perhatian dengan orang-orang baru yang Tuhan izinkan hadir dalam hidup saya. Mengajarkan bahasa Indonesia secara sukarela adalah hal yang saya suka, karena mengajarkan bahasa hingga akhirnya mereka paling sedikit sudah dapat berinteraksi untuk percakapan sehari-sehari, membuat saya ikut merasakan kebahagiaan yang tidak ternilai harganya.

Salah seorang teman India saya yang oleh karena Ibunya menderita kanker stadium lanjut, terpaksa harus kembali ke India, meninggalkan pekerjaannya untuk melayani sang Ibu. Sebut saja namanya Vijay, hanya tiga bulan saya mengenal dia, membantu dalam bahasa dan tidak disangka-sangka, saat ia hendak kembali ke India, beberapa hari sebelumnya ia memanggil saya datang ke rumahnya, ternyata ia telah mengumpulkan barang-barangnya mulai dari alat-alat masaknya, bumbu-bumbu sampai kepada selimut kesayangannya, semua dibungkus dengan rapi dan diberikan kepada saya sebagai kenang-kenangan. Oleh karena Vijay senang memasak, ia tidak suka melihat saya lebih suka berkunjung ke rumah makan atau kedai dekat rumah, ia sering menasehati saya untuk berhemat, menyisihkan uang untuk masa depan karena belajar dari apa yang ia hadapi, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti oleh karena itu sebisa mungkin hindari pos pengeluaran yang  tidak perlu.

Lain lagi dengan sebut saja, Srinivasan, seorang pendidik yang begitu ambisius dan ingin segala sesuatu perfect, walau usianya lebih muda dari saya, ia memandang hidup dengan sangat serius. Ia adalah orang yang sangat antusias dalam belajar bahasa. Pada suatu ketika, saya melihat telapak tangannya dan berkomentar bahwa telapak tangannya terasa kasar. Ia pun menceritakan kisah perjalanan hidupnya, anak pasangan petani dari daerah di India bagian Selatan, mereka hidup susah sejak Sri (demikian ia dipanggil) kecil, ia selalu dilibatkan membantu orang tuanya bekerja di sawah dan ladang. Oleh karena itu ia mencari kesempatan belajar setinggi-tingginya dan bekerja dengan serius agar nanti kedua orangtuanya di masa tua dapat hidup bahagia. Mendengar kisahnya, timbul perasaan kagum dan haru, tidak terasa saya menitikkan air mata.

Kehidupan mempertemukan saya dengan orang-orang seperti Raj, Vijay dan Sri.  Baik dari Utara maupun Selatan, mereka sama-sama dari India. Mereka ikut memberi warna dalam pengenalan saya akan budaya dan tempat kelahiran mereka dan …Hhmm…bukan tidak mungkin, mereka juga ikut berperan dalam menimbulkan “sakit” demam India yang saya alami sekarang ini.

Oh Dear!…

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

T. Maritza : Pecinta keluarga, keheningan, dan kreativitas. Suka masak gara-gara suka makan dan percaya bahwa dalam setiap adegan perjalanan hidup manusia, selalu ada musik yang cocok untuk jadi soundtrack-nya.

On My Quiet Night & My Quiet Stars…

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh The Soul Sista’ (bukan nama yang sebenarnya)

 

Tulisan ini saya buat di awal tahun 2007…semacam New Year’s Resolution ceritanya. Waktu itu saya sedang bermain dalam permainan hidup yang berakhir dengan kekecewaan yang sangat dalam… But, I’ve learned my lesson and blessed the experience…for it has taught me lots of things in life.

 

Namaste,

Dalam perjalanan hidup ini my paths have came across with many people’s lives

Beberapa ada yang memberikan pengalaman yang menyakitkan, dan beberapa lagi ada yang menyenangkan.

Tapi, apapun itu…semuanya mempunyai peranan yang sangat besar dalam hidup saya.

Dan…di dalam perjalanan hidup itulah saya belajar bahwa tidak ada seorang pun yang bisa dipercaya 100%.

Hal itu tidak menjadi penting bagi saya, karena saya tidak mempunyai kewajiban untuk mempercayai mereka 100%, dan mereka pun juga tidak mempunyai kewajiban untuk mempercayai saya.

Menurut saya…itu cukup adil kok!

Mungkin ada yang berpikir bahwa saya ekstrem dengan pandangan saya ini…

Mungkin ada yang berpikir bahwa saya punya trauma yang sangat dalam hingga bisa sampai pada kesimpulan ini…

Apapun itu…saya tidak akan protes…karena itu semua akan kembali lagi ke masalah ‘free will’ dan ‘free choice’.

People has been talking about melepaskan topeng-topeng…tidak judgmental, dsbnya…

Tapi itu semua hanyalah menjadi suatu wacana karena ujung-ujungnya men-judge dan memakai topeng-topeng itu sudah menjadi kebiasaan yang telah melekat bertahun-tahun, bahkan mungkin juga sudah sampai berpuluh-puluh tahun.

Kemudian…orang-orang mulai berbicara mengenai belief system yang harus didobrak sebagai salah satu cara untuk menghilangkan judgmental dan melepaskan topeng-topeng itu…

Hingga sampai pada satu kesimpulan…sampai sejauh mana mereka mau mendobraknya…?

Lalu, apa yang terjadi ketika topeng-topeng itu akhirnya lepas?

Kita akan menjadi tidak judgmental…?

Kita akan menjadi lebih truthful…? Akan dan dengan diri kita sendiri…?

Kita akan menjadi seseorang yang lebih honest…?

Dan…apakah kita siap dengan itu semua…ketika kata ‘honest’ dan ‘truth’ itself menjadi sesuatu yang sangat baru di telinga kita…dan kita tidak punya pemahaman yang mendalam akan apa arti yang sebenarnya dari masing-masing kata itu…

Di jaman sekarang ini sepertinya susah sekali menemukan orang-orang yang benar-benar ‘honest’ atau ‘truthful’.

Bahkan kita sendiri pun masih sering tidak bisa mempercayai diri kita sendiri.

Dan kita pun akhirnya pusing-pusing sendiri mencari makna dari kedua hal itu…benar-benar seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Bahkan mungkin tujuan hidup kita ini adalah pencarian akan ‘kejujuran’ dan ‘kebenaran’.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita akan menemukannya bila kita sendiri tidak bisa ‘honest’ dan ‘truthful’ terhadap diri kita sendiri…? Tidak men-deny kepada diri kita sendiri terhadap apa yang sebetulnya kita ‘butuh’kan dalam hidup ini dan bukan hanya memfokuskan diri kita pada apa yang kita ‘mau’.

Dan ironisnya…permainan ini masih saja dimainkan oleh orang-orang yang ‘seharusnya’ sudah bisa melewati tahap ini dalam hidupnya.

Tapi…sekali lagi…itu berarti saya juga menjadi judgmental karena saya berpegang pada sesuatu yang ‘seharusnya’ atau sesuatu yang menurut saya ideal.

Karena menurut saya pribadi, Universe sebetulnya tidak mengenal kata ‘ideal’, dimana didalam kata itu mengandung arti ‘kesempurnaan’.

Dan kita semua telah belajar dan mengerti sekali bahwa alam tidak bekerja dengan ‘sempurna’ seperti yang kita mau…tapi dia bekerja dengan ‘sempurna’ sesuai dengan ‘kebutuhan’ kita.

Akhirnya…saya mengambil kesimpulan bahwa apapun yang terjadi…the honestyand the truthful…dan segala kesempurnaan hidup ini hanya bisa terjadi dengan memulainya dari diri sendiri…dengan menjadi honest with our feelingsour needsour passionsour flawsour knowledgeour bodyand so onand don’t forget to just surrender

And then let the Universe plays its parts

For better or worse

“Anyone who, can touch you, can hurt you, or heal you

Anyone who, can reach you, can love you, or leave you…”

(diambil dari salah satu lirik lagu…)

_________________________________________________________________________________________________________________

This Soul Sista’ loves to read, write, eat, travel, and to enjoy a cup of coffee…and yeah…dogs!

I also do some cards reading by online, if there’s anybody interested, just contact me:

Email: thesoulsista@ymail.com / YM! thesoulsista

Tempe + Ayam Mr. Kentucky

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh T. Maritza

 

Kurang lebih satu pekan lalu, saya mengunjngi rumah salah seorang anggota keluarga kami. Saya senang saat dapat berkumpul dengan anak yang paling bungsu dari keluarga itu yang saat ini baru duduk di bangku Taman Kanak-Kanak / TK, Rebecca namanya, biasa dipanggil Becca. Setiap kunjungan saya, Becca tampak sangat antusias dan biasanya meminta saya untuk memasakkan sesuatu untuknya. Masakan sederhana seperti french toast atau puding akan saya masakkan, intinya agar ia dapat membantu saya memasak sebelum akhirnya ia menyantap makanan tersebut. Pelajaran memasak dan masa-masa kebersamaan yang saya harapkan akan ia kenang sampai ia dewasa kelak. Kali ini saya dan Becca membuat Strawberry Choco Dip, yakni strawberry yang ditusuk seperti sate dan kemudian dicelupkan ke dalam coklat leleh dan saat kemudian diberi hiasan taburan meisjes warna-warni,tentunya menarik bagi anak-anak, bukan?. Saat saya dengan Becca sedang memasak, datanglah kedua orang anak tetangga yang hendak mengajak Becca bermain tetapi oleh karena Becca tampak antusias dengan ajakan memasak sehingga ia memilih tinggal dan memasak dengan saya. Sehingga kedua orang temannya inipun ikut bermain di rumah. Mereka berdua usia 7 dan 8 tahun, keduanya anak perempuan. Sebut saja, Lia dan Nafa namanya. Mereka ikut gembira dapat membantu membuatkan Strawberry Choco Dip bersama-sama. Selesai membuatnya, mereka pun tinggal untuk ikut makan siang bersama kami.

Dalam percakapan sambil makan siang, Lia nampak kesulitan untuk menghabiskan sayuran di piring makannya sedangkan Nafa nampak dapat menikmati hidangan dengan tuntas, sesekali Nafa menasehati Lia untuk menghabiskan makanan yang sudah disajikan dan tidak jarang Lia terlihat kesal karena dinasehati oleh Nafa yang (hanya) berusia 2 tahun diatasnya (merupakan hiburan tersendiri bagi saya untuk melihat seorang anak menasehati sesamanya, hehehe…). Adapun Lia dan Nafa adalah saudara sepupu. Saat Nafa beranjak dari meja makan karena hidangan di piringnya sudah habis maka Lia pun menghampiri saya dan mengatakan apa yang dipikirkannya dan hal tersebut sedikit membuat saya terhenyak. “Kak, enak ya jadi Becca. Seandainya saja saya memiliki Papa seperti Papanya Becca”, ujar bibir kecilnya. “Kenapa Lia bilang begitu?” tanya saya. “Ya,karena Becca punya apa saja, kalau Papa saya itu Papanya Becca pasti minta apa saja dikabulin”, lanjut Lia lagi. “Papanya Lia dimana?” tanya saya. Saya kenal dengan Ayah dari Lia, pekerjaan Ayah Lia sebagai pencari berita untuk liputan layar kaca mengakibatkan Lia tidak jarang harus ditinggal karena tugas dan kewajiban Ayahnya. “Papa sering ninggalin aku, Papa juga suka marahin aku. Aku lebih suka punya Papa seperti Papanya Becca, Kak.”

Saya agak kaget mendengar kata-kata dari seorang anak umur 7 tahun mengenai apa yang ia pikirkan mengenai Ayahnya dan kemudian mencoba berbicara dari hati ke hati dengan Lia bahwa Ayahnya tidak seperti yang ia pikirkan selama ini dan setiap Ayah yang kita miliki adalah Ayah yang terbaik yang telah Tuhan siapkan bagi kita dan mempunyai cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan rasa sayangnya pada kita anak-anaknya.

Lahir dan ditempatkan dalam keluarga seperti apa, adalah menjadi rahasia Tuhan atas hidup kita, manusia ciptaan-Nya termasuk di dalamnya saya dan Lia. Berlaku bagi siapa saja, mulai dari anak pewaris kerajaan yang terlahir dengan segala kenyamanan dan fasilitas sampai kepada anak seorang pemulung di dekat rumah kami yang harus berjuang hidup bekerja demi mendapatkan upah 10 ribu rupiah setiap harinya. Adalah bohong apabila saya mengatakan saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan mengapa saya harus terlahir di tengah-tengah keluarga seperti yang saya miliki sekarang, mengapa saya menjadi anak sulung, mengapa harus terlahir dengan membawa nama keluarga sebagaimana nama keluarga yang saya sandang sekarang ini dan mengapa-mengapa lainnya tetapi saya tidak pernah terpikir untuk membandingkan Ayah saya dengan Ayah dari orang lain. Menurut pemikiran saya, ketimbang saya harus membandingkan Ayah saya dengan orang lain lebih baik meminta Ayah saya untuk berubah menjadi seorang Ayah yang lebih baik atau jika tidak dapat terucapkan, setidaknya dapat meminta dalam doa agar Tuhan, sebagai Sang pemilik, dapat memperbaharui pola pikir dan memampukan Ayah saya untuk memilih melakukan apa yang lebih baik dari pada keberadaannya sekarang dan ini tidak hanya merupakan permohonan satu arah melainkan juga memampukan saya untuk senantiasa mengucap syukur atas apapun yang Tuhan izinkan berlaku dalam hidup saya. Hal ini tidak semudah membalikkan telapak tangan karena proses pastilah diperlukan. Saya dan adik saya diajar Tuhan untuk menghargai setiap proses yang ada. Proses itu penting, apabila menginginkan hasil akhir yang cemerlang, kami diajar untuk juga melalui setiap tahapan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang cemerlang dengan demikian, tujuan yang sudah dibuat ditempuh dengan cara yang benar pula dan sehingga tidak mengenal istilah tujuan menghalalkan cara.

Sebagaimana yang saya tulis diatas bahwa Tuhan mengubah pola pikir seseorang, yang dalam hal ini Ayah saya, dan memampukan saya untuk mengucap syukur atas apapun yang sudah Tuhan berikan dalam hidup saya. Hal yang sama pasti juga berlaku dalam kehidupan Ayah dan Ibu saya, mereka tentu memiliki gambaran ideal mengenai apa yang terbaik bagi mereka dan termasuk dalam menerima kehadiran kami, anak-anaknya, tentunya Tuhan juga memperlengkapi mereka dengan segala sesuatu yang pada akhirnya menjadikan mereka mengucap syukur dengan keberadaan kami.

Pada hari minggu kemarin, Pengkhotbah di ditempat dimana kami beribadah memberikan ilustrasi yang mempermudah bagaimana orang untuk dapat mengerti bahwa pada masa ini pun Tuhan masih bekerja dan perbuatan-perbuatan Tuhan besar dan ajaib. Diceritakan bahwa manusia tidak jarang berkeluh pada Tuhan, dalam contoh sederhana, pada saat ia menginginkan (katakanlah makanan yang lezat, seperti Kentucky) namun di atas meja makan hanya terhidang makanan sederhana dari tempe. Apakah Tuhan dapat mengubah tempe menjadi ayam goreng lezat bertepung bumbu nan harum menggoda ala Kentucky? Adakah yang mustahil bagi Tuhan? Beranjak dari pemahaman bahwa tidak ada hal yang mustahil untuk Tuhan kerjakan, tentu tidak dan tentu itu merupakan hal yang sangat mudah bagi Tuhan. Tetapi daripada mengubah tempe menjadi ayam goreng lezat berbumbu dan bersalut tepung tebal, Tuhan mengubah rasa ingin Kentucky di hati menjadi tempe, sehingga dengan tersajinya tempe di hadapan kita, kita menjadi bersukacita dan itulah rasa syukur!

Manusia terkadang terlalu membesar-besarkan kepandaian, merasa dirinya dapat merasionalkan segala sesuatu dan pada akhirnya membuatnya kehilangan kesadaran bahwa Tuhan itu masih ada dan berkuasa dan mujizat Tuhan masih berlaku hingga masa ini, salah satu contoh mujizat yang Tuhan sediakan bagi dunia di masa ini adalah rasa syukur.

Oleh karena itu, bersyukurlah…dalam segala keadaan…apapun itu yang menimpa kita saat ini, kesulitan dan tekanan hidup sekalipun tidak dapat menutup diri kita dari Anugerah Tuhan selama kita masih melatih diri kita untuk mengucap syukur. Termasuk di pagi hari ini, saya hendak mengucap syukur bahwa Tuhan masih memberikan nafas hidup dan mempercayakan satu hari baru dalam kehidupan saya, itupun ucapan syukur dan bahwa Tuhan masih mengizinkan saya masuk di hari ini berarti rancangan Tuhan dalam hidup saya belum usai dan melebihi itu semua, saya mengucap syukur karena Tuhan masih memampukan saya untuk melihat, merenungkan dan kemudian menuangkan apa yang saya lihat dan renungkan dalam tulisan sederhana ini sehingga pada akhirnya dapat mengucap syukur juga bagi tiap-tiap orang yang telah meluangkan waktunya membaca tulisan ini.

Tetaplah bersyukur, sebab dengan bersyukur, kita dapat dengan tulus menjalani hidup ini karena percaya segala sesuatu telah Tuhan sediakan dan itu adalah yang terbaik bagi kita, dan itulah yang kita perlukan. Segala Puji, Hormat bagi Tuhan.

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

T. Maritza : Pecinta keluarga, keheningan, dan kreativitas. Suka masak gara-gara suka makan dan percaya bahwa dalam setiap adegan perjalanan hidup manusia, selalu ada musik yang cocok untuk jadi soundtrack-nya.

Happy One Month Anniversary

 

Semestamu.Semestaku sudah berjalan selama sebulan.

Sesuatu yang tidak disangka-sangka mengingat semua ini dijalani dengan mengalir saja.

Sampai detik ini, total viewers blog Semestamu.Semestaku sebanyak 1.527 orang; yang keseluruhannya berasal dari Indonesia, USA, Australia, India, Finlandia, Malaysia, Taiwan, Filipina, Inggris, Jerman, Spanyol, Singapura, Brasil dan Jepang.

Terima kasih Semestamu.Semestaku ucapkan sebesar-besarnya kepada para kontributor dan pembaca, tanpa kalian semua…blog ini tidak akan dapat terwujud.

Oleh karena itu, Semestamu.Semestaku berharap kepada semua untuk terus menulis dan membaca…untuk tidak ragu-ragu menyumbangkan tulisannya ke dalam blog ini, karena Alam Semesta ini adalah bagian dari kita semua dan pengalaman-pengalaman hidup kalian semua juga merupakan cerminan dari Alam Semesta ini. Tidak ada yang benar atau salah. Tidak ada keharusan untuk menjadi sempurna. Hidup sudah sangat sempurna karena kita semua juga sudah sangat sempurna.

Semoga Semestamu.Semestaku dapat terus menginspirasi semua individu bahwa kita semua adalah satu. Oleh karena itu, berbagi cerita lah kalian agar semua dapat menyadari bahwa tidak ada satupun manusia yang terbebas dari masalah, tetapi masalah-masalah itu ada untuk kita menjadi semakin consciousawakebecause in the endwe are actually a spiritual being in a human body.

 

Semestamu.Semestaku akan menutup ucapan terimakasih ini dengan tulisan yang merupakan kontribusi oleh Mira Hadiatmana.

Mira Hadiatmana adalah seorang guru, penulis dan individu yang gemar traveling ke berbagai tempat baru. Ia adalah seseorang yang nampak lembut di luar, namun idealis di dalam. Kata-kata yang sesuai menggambarkan sosok bergolongan darah AB ini adalah kreatif, unik dan ambigu (ramah dan mudah bersosialisasi tapi tidak senang keramaian, gemar mencoba hal baru tapi senang dengan lingkungan yang familiar, suka keteraturan tapi mudah jenuh). Mengalir seperti air, seperti zodiak yang menaunginya, Aquarius, hal yang terpenting dalam hidup bagi Mira adalah terus belajar dan mengajar; dimanapun ia berada. Twitter: itnarimuya

 

 

Give Thanks!

In this seemingly chaotic world, things can drive us nuts. Making a gratitude list helps to keep us calm and boost the energy needed to move on.

Dear God,

Thank you…

For allowing me to learn my strengths and weaknesses

For granting me a fulfilled life

For connecting me with such beautiful souls I would call bestfriends and family

For soothing me in my darkest nights

For cheering me in my brightest lights

For helping me make the right choices

For giving me signs that all is good, here and now

For being my safety net when I have nothing to confide in

For surrounding me  with the beauty of nature and human characters

For teaching me that my heart is my compass

For loving me, and teaching me how to love & be loved

For making me realize that everyone is growing at their own level of consciousness, and they’re perfect as they are

For showing me that I am safe & protected, no matter what happens in the outside world

What are you grateful for today?

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Independent Woman

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Michelle Walewangko

 

“Kasian amat, emang ga punya temen yah sampe lo nonton di bioskop sendirian?’

“Kog bisa sih lo, makan sendirian di restoran gitu? Ih kalo gue sih, amit-amit, berasa desperado amat, mending beli, bungkus makan di rumah aja deh daripada terpaksa makan sendirian”

“Kasihan banget sih lo, masa jalan-jalan ke luar kota sendirian gitu, emang gak ada yang bisa nemenin?”

Bukan hanya sekali dua kali teman-teman saya berkomentar demikian. Saya yang sempat mikir, memang salah ya kalau kita melakukan berbagai aktivitas sendiri? Memang kita harus ke mana-mana rame-rame atau harus ada teman supaya dapat beraktivitas?

Kalau saya sih, pas lagi jalan-jalan di mall (sendiri) misalnya, eh mendadak laper, ya udah, masuk restoran, pesan, makan, bayar, pulang. Gak ada yang salah kan? Laper ya makan gitu. Saya sih cuek aja, gak ada tuh pikiran, tar apa kata orang lain, kog kasian amat cewek makan gak ada yang temenin.

Memang sih, ga semua restoran juga yang saya pe-de masuk ke sana sendirian, misalnya di fine-dining resto atau yang tipe-tipe tempat orang nge-date gitu, yah mati gaya sih kalau diantara berbagai pasangan yang sedang kencan eh ada saya yang bengong luntang-lantung sendiri. Tapi mayoritas dari warung kaki lima, food court dan resto standar lainnya, saya sering nyantai aja tuh makan di sana, ada temennya boleh tapi sendirian juga, siapa takut?

Selain makan, saya juga hobi nonton film. Kalau lagi ingin nonton film di bioskop (misalnya film action, itu kan enaknya  nonton di bioskop, sound system-nya keren lah dibanding nonton DVD di TV rumah).  Saya dulu sering juga nonton bareng temen-temen saya, tapi gak jarang juga, karena satu dan lain hal, saya nonton sendirian aja di bioskop. Misalnya, film yang saya ingin nonton, teman-teman ga ada yang tertarik – ya udah kita pisah theater aja. Atau di hari kerja, sepulang jam kantor, sambil nunggu macetnya jalanan sedikit mereda, saya lihat ada film apa yang menarik, kalau oke ya udah saya beli karcis lalu enjoy aja nonton sendirian.

Mayoritas teman-teman saya gak ada yang seperti ini, ada sih 1 atau 2 aja yang berprinsip seperti saya. Mereka ngerasa ’pathetic’ banget sih, kayak segitu gak ada temennya aja sampai ’kencan’ (di malam minggu makan dan nonton) dengan diri sendiri gitu? Ah, kalau prinsip saya mah terbalik. Kalau saya mau makan, pas ga ada temen, – terus mesti nahan lapar gitu? Ya enggak lah, mending makan. Pas mau nonton, eh pas ga ada temen – terus mau nunggu sampe ada temen gitu? Yah, filmnya keburu turun (gak diputar di) bioskop nanti.  Pas saya mau pergi, ga ada yang temenin, terus saya mesti ngendon mingkem aja di rumah gitu? Makasih dah, mending saya pergi sendiri, bebas, mandiri.

Saya juga suka banget jalan-jalan. Dulu sempat, hampir di setiap liburan atau cuti kantor, saya pergi ke luar kota. Sekedar refreshing menjauh dari suasana hiruk pikuk kota Jakarta. Saya pertama kali pergi ke luar kota sendiri saat baru lulus SD. Saya ingat naik kereta sendiri, dari Jakarta ke Bandung. Walau selama di Bandung saya tinggal di rumah saudara tapi selama di kereta, penumpang yang duduk sebelah saya sempat heran, ada anak baru mau masuk SMP kog berani pergi sendirian.

Jaman dulu orang juga masih jarang naik pesawat terbang, karena tiket mahal. Kalau gak perlu banget, mereka lebih pilih naik kereta api atau mobil dengan pertimbangan harga. Tapi beruntung saya dulu sering mendapat tiket pesawat murah, bahkan gratis (karena orang tua ada yang bekerja di salah satu maskapai penerbangan nasional). Jadi bukan sekali, dua kali, saya pergi ke luar kota sendirian. Biasanya ke Surabaya, tempat Opa-Oma dan Om-Tante tinggal. Jadi saya ’sendirian’-nya selama penerbangan saja. Seperti biasa, saat diajak obrol sama penumpang di sebelah, mereka bingung, kog anak SMP (dan saat saya SMA), perempuan pula, berani pergi sendiri jauh-jauh.  Wah, adek saya (cowok) malah lebih muda lagi, dari SD kelas berapa tuh, pas kelas 3 SD kali ya, udah dikirim pergi sendiri naik pesawat ke luar kota.

Pengalaman saya pertama kali benar-benar berlibur berhari-hari di luar kota sendiri saat SMA kelas 2. Oke saya memang pergi-nya bareng Mama yang sekalian tugas kantor di Bali. Tapi kemudian Mama pulang duluan ke Jakarta setelah 1 atau 2 hari gitu. Lalu selama 3 atau 4 hari-nya lagi saya benar-benar sendiri di Bali (sampai Adek saya minta nyusul karena dia iri kog saya liburan dia ditinggal di rumah? Haha).  Ngapain aja di sana? Yah, macam-macam. Paling baca buku sambil leyeh-leyeh berjemur matahari, berenang, snorkeling, bengong-bengong bego di pantai, makan, tidur, ya gitu deh.

Jalan-jalan sendirian memang bikin kecanduan. Daripada ’terpaksa’ pergi dengan teman-teman yang gak klop, saya sih lebih senang pergi sendiri. Misalnya teman saya lebih suka keluar masuk pusat perbelanjaan, lebih suka wisata belanja, sedangkan saya lebih suka wisata kuliner dan budaya, ya mending kita pisah aja deh, pergi sendiri-sendiri.

Setelah kerja, saya masih beberapa kali pergi ke luar kota, keliling pulau Jawa, bahkan ke luar negeri sendiri. Tapi ya tergantung daerahnya juga. Saya pergi ke tempat yang kira-kira aman dan nyaman untuk ’female solo traveler’. Saya juga membekali diri dengan informasi tentang lokasi yang saya tuju dan walau kelihatan santai tapi tetap waspada di sepanjang perjalanan.

Syukurlah memang saya gak pernah mengalami kejadian yang bikin kapok, misalnya jadi korban kejahatan (amit-amit semoga gak pernah). Tapi pengalaman ’ditawar’ orang pas bengong di pantai (disangka ’mejeng’ kali ya) pernah! Ada-ada aja.

Jadi orang jaman sekarang, jangankan cowok, jadi cewek aja, musti mandiri. Jangan mau tergantung sama orang lain.  Kalau apa-apa tergantung sama orang lain, mesti ditemenin, jadi kalau ga ada siapa-siapa jadi gak berkutik, gak bisa apa-apa , gak bisa ke mana-mana.  Males banget kan?

“You can be alone but do not feel lonely but you still can be lonely even in a crowd that is your call.”

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Michelle is a foodie who is not fond of cooking. Her ideal job would be like Samantha Brown’s or Andrew Zimmern’s from TLC, to travel around the world, eat good food, and meet people; however on the weekdays she’s stuck at her cubicle from 9 to 5. She loves reading but doesn’t have enough confidence to write her own stories, or publish it. Psychology, Interior Design, Foreign Language and Culinary are her interests. Stay in touch with her at: Facebook: michelle.walewangko / Twitter: @mwalewangko / Tumblr: mwalewangko

[Kali Ini] Tak Ingin Jadi Bijaksana

 

Tulisan ini merupakan kontribusi oleh Parahita Satiti

 

Pria #1
Saya sudah mengenalnya hampir setahun. Beberapa kali perjalanan kami lalui bersama. Namun, baru kali itu saya melihatnya dengan cara berbeda, saat saya jatuh, terluka, dan ia menawarkan selembar tisu untuk membersihkan luka itu.
Itu kejadian enam bulan yang lalu. Enam bulan, waktu yang cukup untuk menyadari, yes it is a very deep crush I have inside.

Pria #2
Karena pekerjaan lah saya bertemu dengannya. Sabar, itu karakter darinya yang saya kagumi. Terutama kesabaran menghadapi ego saya sebagai seorang Leo. Pernah suatu kali saya berkata dengan nada ketus padanya, padahal sebenarnya saya hanya sedang kesal dengan diri saya sendiri. Dia hanya bertanya pada waktu yang salah. Bisa saja dia balik marah kepada saya, kan? Namun justru saya bisa merasakan dia tersenyum di ujung telepon sana saat berkata ‘Ya sudah, hati-hati ya di jalan…’

Kalau saya sedang bijaksana, saya tahu harus memilih siapa….

Untuk kali ini, saya sedang tak ingin jadi bijaksana.

Saya ingin tetap menikmati tertawa lepas bersama Pria #1. Merasakan kupu-kupu beterbangan di perut saat berjumpa dan ia menyambut dengan cengiran khasnya. Berpetualang bersama. Berbagi lelucon absurd. Atau sekedar menikmati durian.

Saya juga tak ingin kehilangan tempat saya bisa bermanja. Tempat saya sekedar menyandarkan kepala saat lelah berpetualang. Mendengar dia bercerita dengan nada datar, sedikit gerak tangan, but yet very calming. Meski mungkin Pria #2 akan pingsan kalau saya paksa makan durian.

Seorang sahabat, dengan kata-katanya yang sungguh menohok mengingatkan; Oh, come on! That adventurous guy doesn’t even want you… Kamu tak bisa mencintai 2 orang berbeda pada saat yang sama. Kamu hanya bisa memilih satu atau menyakiti keduanya dan dirimu sendiri.

Saya menutup telinga. Untuk kali ini, sungguh saya sedang tak ingin menjadi bijaksana.

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Parahita Satiti

Perempuan cengengesan, packing-freak, dan tidak keberatan tidur di pojok bandara yang gelap dan kotor, demi menghemat uang penginapan.